Menuju konten utama

10 Rekomendasi Buku George Orwell dengan Rating Tertinggi

Temukan berbagai rekomendasi buku George Orwell, mulai dari novel yang ikonik seperti 1984 hingga karya nonfiksi populer tentang politik dan kritik sosial.

10 Rekomendasi Buku George Orwell dengan Rating Tertinggi
Novel klasik karya mendiang sastrawan Inggris, George Orwell yang bernama asli Eric Arthur Blair, berjudul "1984". (Foto/Reuters)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Terdapat beberapa rekomendasi buku George Orwell yang menarik untuk dibaca, terutama bagi penyuka karya-karya dengan tema kritik sosial dan politik. Melalui gaya penulisan yang lugas, Orwell menghadirkan karya fiksi maupun nonfiksi yang mampu menggugah pemikiran.

George Orwell sendiri merupakan seorang penulis asal Inggris yang telah menerbitkan lebih dari 600 karya tulis, baik itu novel, buku nonfiksi, esai, hingga puisi.

George Orwell pun dikenal luas karena keberaniannya mengangkat isu-isu tentang politik, sosial, dan kemanusiaan dengan gaya bahasa yang tajam, tapi tetap mudah dipahami.

Tak heran jika banyak bukunya yang populer dan mendapat rating tinggi dari pembaca di seluruh dunia, bahkan isinya tetap relevan meski bukunya telah diterbitkan puluhan tahun yang lalu.

Profil George Orwell

George Orwell

George Orwell. (FOTO/Branch of the National Union of Journalists (BNUJ) via Commons Wikimedia)

George Orwell adalah nama pena dari Eric Arthur Blair, seorang penulis, jurnalis, dan kritikus asal Inggris yang lahir pada 25 Juni 1903 di Motihari, India, dan wafat pada 21 Januari 1950 di London.

Ia dikenal sebagai salah satu penulis paling berpengaruh di abad ke-20. Gaya tulisannya terkenal lugas dan tajam, serta sarat dengan kritik sosial dan politik.

George Orwell muda pernah bersekolah di sekolah biara di Henley-on-Thames sebelum melanjutkan ke St Cyprian's School melalui beasiswa. Pengalaman di St Cyprian’s meninggalkan kesan kurang menyenangkan bagi Orwell yang kemudian ia tuangkan dalam esai Such, Such Were the Joys.

Setelah sempat belajar singkat di Wellington College, Orwell melanjutkan pendidikannya di Eton College dari tahun 1917 hingga 1921. Di Eton, ia mendapatkan lingkungan belajar yang lebih bebas dan sempat diajar oleh tokoh terkenal seperti Aldous Huxley.

Meski prestasi akademiknya tidak menonjol, pengalaman di Eton membentuk pola pikir kritis dan kemandiriannya. Setelah lulus, ia tidak melanjutkan ke universitas karena keterbatasan biaya dan memilih bekerja dengan masuk ke Kepolisian Kekaisaran.

Kiprah George Orwell dalam Literasi

Sepanjang kariernya, George Orwell menghasilkan berbagai bentuk tulisan, mulai dari jurnalisme, esai, novel, hingga buku nonfiksi. Ia dikenal sebagai penulis yang produktif dengan fokus pada kritik sosial, budaya, dan politik Inggris.

Sebagian besar karyanya berupa nonfiksi yang membahas isu-isu kontemporer, meskipun ia juga menulis fiksi yang kemudian menjadi sangat berpengaruh. Salah satu hal yang paling diingat dari George Orwell adalah sikap politiknya yang menentang totalitarianisme.

Pandangan ini tercermin dalam karya monumentalnya seperti Animal Farm dan Nineteen Eighty-Four yang menjadi karya fiksi paling populer dari George Orwell.

Selain itu, ia juga menulis ratusan artikel, esai, serta buku nonfiksi seperti Down and Out in Paris and London, The Road to Wigan Pier, dan Homage to Catalonia, yang mengangkat tema kemiskinan dan pengalaman perang.

Setelah wafat, karya-karyanya terus dikompilasi dan dipelajari. Pemikirannya tentang bahasa, politik, dan kekuasaan terus memengaruhi dunia sastra. Nama George Orwell pun masih memberikan pengaruh besar, bahkan lahir istilah “Orwellian” untuk menggambarkan masyarakat totaliter.

Rekomendasi Buku George Orwell dengan Rating Tertinggi

Novel George Orwell 1984

Novel George Orwell 1984. [Foto/tokopedia]

Sejumlah buku george Orwell telah diakui secara global serta berhasil meraih popularitas dan rating tinggi. Dari kisah distopia hingga esai-esai yang menggugah, berikut adalah beberapa buku George Orwell yang terus mendapatkan perhatian di dunia sastra:

1. Nineteen Eighty-Four (1949)

Nineteen Eighty-Four atau 1984George Orwell adalah novel distopia yang menjadi karya terakhir sang penulis. Novel ini mengangkat tema totalitarianisme, pengawasan massal, serta kontrol ketat terhadap pikiran dan perilaku manusia.

Berlatar di masa depan fiktif, cerita mengikuti kehidupan di negara Oceania yang dipimpin oleh sosok diktator Big Brother. Di sana, pemerintah menggunakan propaganda, manipulasi sejarah, dan pengawasan terus-menerus untuk menekan kebebasan individu dan mengendalikan kebenaran.

Karya ini dianggap sebagai salah satu novel paling berpengaruh dalam sastra abad ke-20 dan menjadi ikon dalam genre fiksi politik dan distopia. Selain memperkenalkan istilah “Orwellian”, novel ini juga melahirkan konsep-konsep populer seperti “Big Brother”, “doublethink”, hingga “2+2=5”.

2. Animal Farm (1945)

Animal Farm George Orwell menceritakan pemberontakan hewan di Manor Farm terhadap pemiliknya, Mr. Jones, yang sewenang-wenang. Dipimpin babi bernama Snowball dan Napoleon, mereka berhasil mengambil alih peternakan dan mendirikan sistem baru bernama Animalism dengan prinsip “semua hewan setara”.

Awalnya, kehidupan di peternakan berjalan lebih baik, tapi perlahan para babi mengambil alih kekuasaan, memanipulasi aturan, dan menggunakan propaganda untuk mengendalikan hewan lain.

Napoleon pun menjadi pemimpin otoriter, menyingkirkan Snowball, serta melakukan kekerasan dan manipulasi demi mempertahankan kekuasaan. Para hewan dipaksa bekerja lebih keras dengan janji kesejahteraan yang tak pernah terwujud, sementara para babi hidup semakin mewah.

Pada akhirnya, prinsip kesetaraan tidak pernah benar-benar terjadi. Para hewan menyadari bahwa babi dan manusia kini tak lagi dapat dibedakan, sebuah sindiran tajam terhadap kekuasaan dan pengkhianatan di dunia manusia saat ini.

3. Down and Out in Paris and London (1933)

Down and Out in Paris and London merupakan memoar yang terbagi menjadi dua part. Buku ini berisi tentang cerita kehidupan dalam kemiskinan di dua kota besar, yaitu Paris dan London.

Pada bagian pertama, George Orwell menceritakan pengalamannya hidup dalam kemiskinan ekstrem di Paris, termasuk bekerja serabutan di dapur restoran.

Sementara itu, bagian kedua menggambarkan kehidupannya sebagai gelandangan di London, lengkap dengan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain serta potret kehidupan di penginapan sederhana dan jalanan.

Melalui kisah-kisah ini, Orwell menghadirkan gambaran nyata tentang perjuangan hidup di pinggiran masyarakat, sekaligus mengkritik ketimpangan sosial yang sering diabaikan.

Buku ini pun ditujukan bagi kalangan menengah dan atas, dengan harapan dapat membuka mata mereka terhadap realitas keras yang tersembunyi di balik kemakmuran Paris dan London.

4. Homage to Catalonia (1938)

Buku George Orwell yang satu ini adalah sebuah memoar yang berisi pengalaman dan pengamatan sang penulis saat terlibat dalam Perang Sipil Spanyol.

Buku ini mencakup periode Desember 1936 hingga Juni 1937, menggambarkan suasana revolusioner di Barcelona, kehidupan di garis depan Aragon, hingga konflik internal di antara faksi republik yang disaksikan secara langsung oleh Orwell.

Dalam kisahnya, Orwell juga menceritakan pengalaman tertembak di tenggorokan saat kembali ke medan perang serta pelariannya ke Prancis setelah kelompok POUM (Partido Obrero de Unificación Marxista atau Partai Buruh Marxis Bersatu) dinyatakan ilegal.

Pengalaman perang ini menjadi momen penting yang membentuk pandangan politiknya, terutama dalam menentang totalitarianisme dan mendukung sosialisme demokratis yang kemudian banyak memengaruhi karya-karya Orwell selanjutnya.

5. The Road to Wigan Pier (1937)

The Road to Wigan Pier merupakan buku nonfiksi yang terbagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama berisi laporan investigatif tentang kehidupan kelas pekerja di wilayah industri Inggris utara, khususnya di Lancashire dan Yorkshire.

Orwell menggambarkan secara detail kondisi hidup yang keras, mulai dari pekerjaan berbahaya di tambang batu bara, upah rendah, hingga tempat tinggal yang sempit dan tidak layak, semuanya berdasarkan pengalamannya hidup langsung di tengah masyarakat tersebut.

Sementara itu, bagian kedua beralih menjadi refleksi pribadi dan esai panjang tentang latar belakang kelas menengah Orwell serta perkembangan pandangan politiknya terhadap sosialisme.

Ia mengkritik sikap masyarakat Inggris terhadap isu kelas dan mencoba menjelaskan mengapa sosialisme diperlukan untuk memperbaiki kondisi hidup kaum pekerja.

Ilustrasi Buku

Ilustrasi Buku. FOTO/iStockphoto

6. Burmese Days (1934)

Burmese Days berlatar belakang di Burma pada masa kolonial Inggris tahun 1920-an dan berfokus pada konflik sosial serta politik di sebuah kota kecil bernama Kyauktada.

Cerita mengikuti John Flory, seorang pedagang Inggris yang merasa terasing dari komunitas kolonialnya, serta persahabatannya dengan Dr. Veraswami, seorang dokter India yang menjadi target fitnah dari pejabat korup U Po Kyin.

Sementara itu, John Flory terlibat hubungan rumit dengan perempuan Inggris bernama Elizabeth yang awalnya ia harapkan bisa menjadi pasangan hidup, tapi justru memiliki pandangan rasis dan bertolak belakang dengannya.

Konflik memuncak ketika intrik U Po Kyin berhasil merusak reputasi banyak pihak, termasuk menghancurkan hubungan John dan Elizabeth yang akhirnya berujung pada tragedi.

7. Keep the Aspidistra Flying (1936)

Novel ini mengisahkan Gordon Comstock, seorang pria yang memberontak terhadap dominasi uang dalam kehidupan dengan meninggalkan pekerjaan mapan di bidang periklanan demi hidup sederhana sambil menulis puisi.

Namun, pilihannya justru membawanya pada kehidupan penuh kesulitan, kemiskinan, dan frustrasi. Ia bekerja di toko buku dengan gaji kecil, hidup serba kekurangan.

Seiring waktu, kehidupan Gordon semakin kacau akibat keputusan-keputusan buruk dan tekanan ekonomi, hingga akhirnya ia harus menghadapi kenyataan ketika kekasihnya, Rosemary, hamil.

Gordon pun dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan idealismenya atau meninggalkannya demi menjalani kehidupan yang lebih stabil bersama Rosemary.

8. Coming Up for Air (1939)

Buku ini bercerita tentang George Bowling, pria paruh baya yang diliputi nostalgia dan kerinduan akan masa kecilnya. Dengan sudut pandang orang pertama, ia mengenang kehidupannya dahulu sekaligus jenuh dengan rutinitas dewasa yang berkutat di pekerjaan, pernikahan, dan tekanan hidup.

Ketika mendapatkan sejumlah uang, George Bowling memutuskan untuk melakukan perjalanan kembali ke kampung halamannya demi menghidupkan kembali kenangan lama. Namun, perjalanan tersebut justru menghadirkan kekecewaan.

Tempat-tempat yang dulu berarti telah berubah atau hilang, termasuk lingkungan masa kecil dan kenangan indah yang tak lagi bisa ditemukan. Bowling pun menyadari bahwa masa lalu tidak dapat diulang.

Novel ini menggambarkan tema nostalgia, perubahan zaman, serta ilusi untuk kembali ke masa lalu yang sebenarnya tak mungkin terwujud.

9. A Clergyman's Daughter (1935)

Terbagi dalam lima chapter, A Clergyman's Daughter mengisahkan Dorothy Hare, putri seorang pendeta yang taat. Hidupnya berubah drastis setelah mengalami amnesia mendadak. Akibat sebuah fitnah keji, Dorothy terlempar ke dunia kemiskinan ekstrem.

Ia terpaksa menjalani hidup sebagai gelandangan, memetik hop di Kent untuk bertahan hidup, hingga akhirnya merasakan kerasnya tidur di jalanan London dan berakhir di sel kepolisian karena dianggap sebagai tunawisma.

Setelah ditemukan oleh kerabatnya, Dorothy mencoba menata kembali hidupnya dengan menjadi guru di sekolah swasta yang dikelola secara serakah, tapi akhirnya dipecat karena idealismenya dalam mengajar.

Setelah melalui berbagai konflik, ia akhirnya kembali ke kehidupan lamanya sebagai pelayan gereja, tapi dengan perspektif baru. Iia tetap menjalankan rutinitas yang sama meski kini telah kehilangan keyakinan religiusnya yang dulu sangat teguh.

10. Essays (1968)

Buku ini merupakan kumpulan esai karya George Orwell yang menampilkan pemikirannya tentang isu sosial hingga politik pada zamannya. Di dalamnya terdapat lebih dari 240 esai yang membahas berbagai topik.

Ada My Country Right or Left yang memuat pandangannya tentang pasifisme, kritik terhadap imperialisme yang tertuang dalam esai Shooting an Elephant, hingga hal sederhana seperti cara membuat secangkir teh yang baik dalam A Nice Cup of Tea.

Melalui tulisan-tulisan ini, Orwell berhasil mengangkat esai politik menjadi karya yang bernilai sastra tinggi dengan gaya bahasa yang tajam. Ide-ide yang ia suarakan pun tetap relevan melintasi zaman dan masih berpengaruh hingga sekarang.

Itulah beberapa buku George Orwell yang populer dan mendapat rating tinggi dari para pembaca. Setiap karyanya tidak hanya menawarkan cerita yang kuat, tapi juga menyimpan pesan mendalam tentang kekuasaan, kebebasan, dan realitas sosial yang masih mengena untuk dicerna di masa sekarang.

Buku-buku Orwell mampu membuka perspektif baru sekaligus mengajak pembaca berpikir lebih kritis terhadap dunia di sekitarnya. Jadi, jika kamu sedang mencari bacaan yang bermakna dan tak lekang oleh waktu, karya-karya Geroge Orwell layak untuk masuk dalam daftar bacaanmu.

Butuh rekomendasi bacaan lain? Temukan berbagai informasi menarik seputar buku melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel tentang Buku

Baca juga artikel terkait BUKU atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani