tirto.id - Penulisan kata Ramadhan atau Ramadan dalam KBBI menjadi salah satu perbincangan hangat setiap Ramadhan kembali menyapa. Lantas, apakah yang benar kata Ramadhan atau Ramadan? Simak penjelasannya di artikel ini.
Bulan Ramadaan merupakan bulan mulia yang dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Setiap muslim menyambut Ramadan dengan hati gembira penuh sukacita.
Selama satu bulan, umat Islam melaksanakan puasa Ramadan dan berbagai amalan ibadah sunah lain untuk menjemput keberkahan dan kemuliaan Ramadan. Bulan Ramadan juga kerap disebut dengan istilah bulan pendidikan atau syahrut tarbiyah.
Ramadan dikatakan sebagai bulan pendidikan sebab selama Ramadan umat Islam menjalani latihan fisik, mental, dan spiritual secara intensif untuk membentuk karakter mulia, disiplin, sabar, jujur, dan meningkatkan ketakwaan.
Berbagai persiapan untuk menyambut bulan Ramadan senantiasa diupayakan oleh setiap muslim. Bahkan setiap titik publik pasti tak luput dari nuansa Ramadan untuk meramaikan dan menyambut kehadiran bulan suci ini.
Ruang-ruang publik dipenuhi dengan dekorasi ala Ramadan. Begitu pula dengan kata-kata menyambut bulan Ramadan yang di dalamnya pasti terdapat redaksi kata ‘Ramadan’.
Terkait redaksi kata Ramadan, muncul perbincangan terkait penulisan kata Ramadan yang benar sesuai KBBI. Apakah menggunakan huruf ‘h’, yakni ‘Ramadhan’ atau tanpa menggunakan huruf ‘h’, yakni ‘Ramadan’? Mari cek kebenarannya di artikel ini.
Ramadhan atau Ramadan dalam KBBI? Simak Penjelasannya

Seluruh penulisan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang benar mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI. Berbagai kata yang menimbulkan tanda tanya terkait kaidah penulisannya, perlu dikembalikan pada KBBI.
Entri atau kosakata di dalam KBBI menegaskan kata-kata baku dan benar yang semestinya digunakan oleh masyarakat. Setiap kali ada diskusi tentang penulisan kata-kata, maka perlu ditilik dalam KBBI terkait bagaimana penulisannya yang benar.
Begitu pula dengan penulisan kata ‘Ramadan’ atau ‘Ramadhan’. Perlu dipahami bahwa masyarakat dalam mengecek penulisan kata Ramadan yang tepat di KBBI.
Menurut KBBI, penulisan kata yang tepat ialah ‘Ramadan’ (tanpa huruf ‘h’). Saat memasukkan entri kata ‘Ramadan’, maka akan muncul keterangan bahwa kata yang baku adalah Ramadan.
Selain itu, terdapat penjelasan pula pada bagian bawah kata Ramadan bahwa bentuk tidak baku dari kata tersebut adalah ‘Ramadhan’. Penggunaan kata Ramadan perlu diterapkan yang sesuai dengan entri kosakata baku di dalam KBBI.
Usai mengetahui kata baku dari kata ‘Ramadan’, masyarakat diimbau untuk menggunakan bentuk kata yang baku, yakni ‘Ramadan’ dan bukan ‘Ramadhan’ (menggunakan huruf ‘h’). Rujukan informasi dalam KBBI ini menjadi landasan penggunaan kosakata yang tepat dan baku dalam bahasa Indonesia.
Cara Mengecek Kosakata Baku di KBBI

Informasi cara mengecek kosakata baku di KBBI perlu dipahami dengan baik supaya masyarakat dapat mengecek berbagai kata lain yang juga menimbulkan tanda tanya. Bagaimana cara mengecek kosakata baku di KBBI?
Caranya sangat mudah dan dapat dilakukan kurang dari satu menit. Simak panduan caranya di bawah ini:
- Kunjungi laman resmi KBBI, silakan klik tautan ini https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/
- Akan muncul tampilan ‘Selamat Datang di KBBI VI Daring’
- Masukkan kata yang akan dicek pada kolom entri kosakata
- Misalkan, kata yang hendak dicari adalah kata Ramadan, maka masukkan kata ‘Ramadan’. Hanya dalam hitungan detik, KBBI akan memproses permintaan
- Tampilan akan menunjukkan hasil pengecekan kata Ramadan, yakni penggunaan yang tepat adalah kata ‘Ramadan’ dan bukan kata ‘Ramadhan’
- Berbagai kata lain yang hendak dicek dapat diketahui dengan mudah melalui cara yang sama seperti yang dijelaskan
Definisi Kata Ramadan di KBBI
Selain informasi tentang kata yang baku dan tidak baku dalam KBBI, penjelasan tentang arti dari kosakata juga dapat dipahami di dalam KBBI. Saat mengecek kosakata baku dalam KBBI, misalnya kata Ramadan, masyarakat juga dapat memahami definisi dari kata Ramadan.
Definisi kata Ramadan di dalam KBBI bisa dilihat pada bagian bawah setelah penjelasan kata Ramadan. Melansir laman resmi KBBI, berikut penjelasan definisi dari kata Ramadan:
- n bulan ke-9 tahun Hijriah (29 atau 30 hari), pada bulan ini orang Islam yang sudah akil balig diwajibkan berpuasa
Ramadan oleh Rasulullah saw. digelar sebagai "sayyid al-syuhur (penghulu bagi bulan-bulan lainnya)". Bulan Ramadan adalah bulan yang paling utama dibandingkan bulan-bulan lainnya, lalu bulan Muharram, kemudian bulan Rajab, selanjutnya Dzulhijjah, kemudian bulan Dzulqa'dah, kemudian bulan Sya'ban, lalu bulan-bulan sisanya.
Menurut bahasa, kata puasa secara bahasa berarti ‘menahan’. Sementara itu, pengertian puasa secara syara’ adalah menahan diri dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa.
Perintah puasa Ramadhan diberikan pada bulan Sya’ban tahun kedua hijriyah. Sebagaimana keterangan yang ada di dalam kitab Fathul Mu’in.
(باب الصوم) – هو لغة: الإمساك، وشرعًا: إمساك عن مفطر بشروطه الآتية، وفرض في شعبان في السنة الثانية من الهجرة وهو من خصائصنا ومن المعلوم من الدين بالضرورة
Artinya: “(Bab puasa). Puasa secara bahasa berarti menahan. Sementara menurut istilah syara’ berarti menahan diri dari segala hal yang bisa membatalkan puasa dengan syarat-syarat yang bakal disampaikan. Puasa difardhukan (diberlakukan kewajiban melakukan) di bulan Sya’ban, tepatnya pada tahun kedua Hijriyah. Puasa sendiri merupakan suatu kekhususan untuk umat Islam dan diketahui dari agama” (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fathul Mu’in, [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah: 1998], halaman 87)
Keutamaan Puasa Ramadan
Puasa Ramadhan memiliki berbagai keutamaan penting yang begitu istimewa dan mulia. Melansir laman NU Online, keutamaan puasa Ramadhan, antara lain:
1. Diangkatnya Derajat
Puasa Ramadhan memiliki keutamaan diangkatnya derajat di hadapan Allah Swt. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis:إِذَا جَاءَ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنَ
Artinya, “Ketika Ramadhan tiba, dibukalah pintu-pintu Surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan setan pun dibelenggu” (HR Imam Muslim).
Syekh ‘Izuddin dalam Maqashidush Shaum menjelaskan bahwa ‘dibukanya pintu surga’ berarti pada bulan Ramadhan ada banyak amal ibadah yang menyebabkan pintu Surga dibuka. Sementara itu, ‘ditutuplah pintu-pintu neraka’ berati pada bulan Ramadhan sedikit perbuatan maksiat yang menyebabkan pintu neraka dikunci.
Adapun maksud dari ‘Setan dibelenggu’ adalah ketika keadaan berpuasa, Setan tidak menggoda manusia untuk bermaksiat. Jadi selama bulan Ramadhan akan terdapat banyak motivasi umat Islam untuk melaksanakan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan maksiat.
2. Sebagai Kontrol Syahwat
Keutamaan selanjutnya dalam puasa Ramadan ialah dapat mengontrol syahwat. Apabila syahwat dapat dikontrol, maka Setan akan kesulitan untuk menggoda manusia.Umat Islam juga akan terhindar dari perbuatan buruk. Menurut kitab Ihyâ ‘Ulûmiddîn, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa sumber utama perbuatan maksiat adalah hawa nafsu.
Sementara ‘bahan bakar’ nafsu itu sendiri adalah makanan. Ketika seseorang berpuasa, secara otomatis konsumsi makanan dalam tubuh berkurang. Dengan demikian, seseorang dapat menundukkan hawa nafsu dan mencegah diri dari perbuatan maksiat.
3. Balasan Allah Swt. yang Tak Terhingga
Secara umum, setiap perbuatan baik (amal ibadah) yang dilakukan akan dibalas oleh Allah Swt. dengan pahala yang berlipat ganda menurut kehendak-Nya. Namun, puasa di bulan Ramadan memiliki keistimewaan tersendiri.Pahala puasa sangatlah besar sehingga hanya Allah Swt. yang mengetahui seberapa besar pahala tersebut.
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
Artinya, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya” (HR Muslim) (Hasan al-Musysyat, Is’âfu Ahlil Îmân, h. 34).
Pahala puasa Ramadan akan langsung menuju Allah Swt. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis bahwa puasa itu untuk-Ku (untuk Allah Swt.) sehingga amalan ibadah puasa itu ditujukan pada Allah Swt.
Diriwayatkan oleh Bukhari, 1761 dan Muslim, 1946
عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”
Allah Swt. mengkhususkan puasa karena ibadah ini murni ikhlas, terhindar dari riya, dan rahasia antara hamba-Nya. Pahala puasa berlipat ganda tanpa batas dan langsung dari Allah Swt.
Simak informasi lain tentang Ramadan:
Penulis: Nurul Azizah
Editor: Nurul Azizah & Yantina Debora
Masuk tirto.id





































