tirto.id - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, membantah anggapan penurunan utang luar negeri (ULN) swasta pada kuartal IV-2025 disebabkan oleh pengusaha yang menahan ekspansi.
Ia melihat fluktuasi utang merupakan hal biasa dan justru menunjukkan pengusaha mulai memanfaatkan sumber pendanaan dalam negeri.
Ia meminta publik tidak reaktif terhadap naik atau turunnya utang swasta karena yang terpenting adalah tren jangka panjang yang sejalan dengan aktivitas ekonomi.
Ia menjelaskan, penurunan utang pada kuartal IV perlu dilihat secara berkelanjutan. Menurutnya, utang swasta akan kembali meningkat seiring bergeraknya roda ekonomi.
"Anda lihat enggak dari bulan ke bulan seperti apa? Saya yakin kuartal 1, 2, 3, 4 (2026) mulai naik lagi. Sesuai dengan aktivitas ekonomi. Tapi kan belum ke depan akan lebih bagus lagi," katanya di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Purbaya juga menyoroti faktor lain yang memengaruhi penurunan ULN, yakni meningkatnya sumber pendanaan dari perbankan nasional.
Likuiditas yang digenjot pemerintah ke sistem ekonomi sebesar Rp276 triliun disebut juga membuat pengusaha kini memiliki alternatif pendanaan di dalam negeri.
"Dan mungkin mereka juga melihat dalam negeri sudah lebih banyak funding dari perbankan juga. Karena kita dorong likuiditas ke sistem perekonomian. Jadi, nggak satu arah seperti itu," ucapnya..
Sebelumnya, Bank Indonesia mengungkapkan data ULN swasta sebesar 192,8 miliar dolar AS pada kuartal IV-2025 atau menurun dibandingkan dengan posisi kuartal III-2025 senilai 194,5 miliar dolar AS.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa penurunan ULN swasta dipengaruhi oleh utang perusahaan nonlembaga keuangan (nonfinancial corporations).
Utang swasta didominasi sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan, dengan porsi 79,9 persen dari total ULN swasta. Dari sisi tenor, 76,3 persen utang swasta berjangka panjang.
BI juga merilis data posisi ULN Indonesia pada kuartal IV-2025 mencapai 431,7 miliar dolar AS, naik dari posisi kuartal sebelumnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id





































