Menuju konten utama

Purbaya PD Defisit APBN Mentok 2,9% Meski Minyak US$100/Barel

Pemerintah akan melakukan refocusing anggaran besar-besaran untuk menahan defisit APBN tetap di bawah 3 persen terhadap PDB.

Purbaya PD Defisit APBN Mentok 2,9% Meski Minyak US$100/Barel
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan saat Peresmian Alat Pemindai Peti Kemas dan Peluncuran Aplikasi Kepabeanan Berbasis AI di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (12/12/2025).ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 akan mentok di level 2,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Meski lebih tinggi dari yang ditetapkan dalam asumsi makro APBN, yakni sebesar 2,68 persen, posisi tersebut sudah memperhitungkan kemampuan fiskal dalam meng-absorb lonjakan harga minyak dunia hingga ke level 100 dolar AS per barel sampai akhir 2026.

"Ini udah kita hitung semua kan, nanti dengan ... even dengan (harga minyak dunia) 100 dolar AS per barel pun, kita sudah kunci defisitnya di bawah 3 persen, sekitar 2,9 persen," ungkapnya, di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Rabu (1/4/2026).

Selain itu, defisit 2,9 persen tersebut juga dapat dicapai karena pemerintah memutuskan untuk memberlakukan kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH) kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pekerja swasta. Meski begitu, kendati tidak ada WFH yang diperkirakan dapat menghemat APBN hingga Rp6,5 triliun, defiait anggaran tetap akan bisa di bawah 3 persen.

"Tapi yang jelas dengan keadaan tanpa WFH pun, kita udah ditekan di 2,9 persen, jadi kalau yang lain adalah bonus buat kita kalau ada penghematan lebih lanjut. Jadi, makin kebawah lagi. Jadi, kalau kita lihat tanpa kebijakan itu pun, kita sudah bisa kendalikan di bawah 3 persen dengan baik," lanjutnya.

Sementara itu, defisit anggaran ini dapat terjadi karena beban APBN 2026 semakin besar seiring keputusan pemerintah untuk menjaga agar harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak mengalami kenaikan. Padahal, dalam setiap kenaikan 1 dolar AS per barel minyak dunia, negara harus menanggung beban tambahan anggaran sekitar Rp6 triliun.

Nantinya, pemerintah akan menambal tambahan anggaran tersebut dengan dana yang didapatkan dari proses refocusing atau pengalihan anggaran. Sebelumnya disebutkan, pemerintah bisa mendapat Rp121,2-130,2 triliun dari kebijakan refocusing anggaran.

"Ada penghematan sedikit-sedikit di sana sini. Kita melakukan (refocusing) tahap 1, tahap 2, tahap 3 di belanja kementerian/lembaga yang nggak terlalu jelas. Dan kalau kepepet, saya punya SAL (Saldo Anggaran Lebih) Rp420 triliun," jelas Purbaya.

Baca juga artikel terkait PURBAYA YUDHI SADEWA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana