Menuju konten utama

Proyek Jalan Tol Bogor-Serpong Sepanjang 32 Km Mulai Dibangun

Proyek ini menelan investasi mencapai Rp12,35 triliun yang sepenuhnya didanai badan usaha lewat skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU).

Proyek Jalan Tol Bogor-Serpong Sepanjang 32 Km Mulai Dibangun
Penandatanganan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) untuk proyek Jalan Tol Bogor-Serpong via Parung. Dok/Nanda Aria Tirto.id

tirto.id - Pemerintah resmi menandatangani Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) untuk proyek Jalan Tol Bogor-Serpong via Parung. Proyek ini akan dibangun sepanjang 32,03 kilometer dengan nilai investasi mencapai Rp12,35 triliun.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum, Wilan Oktavian, mengatakan penandatanganan ini menandai dimulainya proyek infrastruktur besar yang sepenuhnya didanai badan usaha lewat skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Jalan Tol ini merupakan prakarsa badan usaha atau unsolicited yang telah melalui proses yang cukup panjang dan komprehensif,” katanya dalam acara Penandatanganan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol, di Kementerian PU, Jumat (13/10/2025).

Proyek ini dimulai dengan proses pengadaan pada 2022, diikuti evaluasi teknis, finansial, dan legal, hingga akhirnya ditetapkan pemenang tender pada Juli 2024.

Konsorsium pemenang kemudian membentuk Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Bogor Serpong Infra Selaras (BSIS). Komposisi kepemilikan sahamnya didominasi PT Persada Utama Infra (PUI) sebesar 52 persen, disusul PT Jasa Marga 26 persen, PT Adhi Karya 12 persen, dan PT Hutama Karya Infrastruktur 10 persen.

Kelancaran proses ini turut dimungkinkan setelah diperolehnya surat keputusan kelayakan lingkungan hidup dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Tol Bogor-Serpong via Parung akan membentang sepanjang 32,03 km, yang terbagi atas 27,83 km di Jawa Barat dan 4,2 km di Banten. Jalan tol ini terbagi dalam empat seksi utama: Seksi 1 Junction Salabenda-Simpang Susun (SS) Pondok Udik (3,97 km), Seksi 2 SS Pondok Udik-SS Putat Nutug (9,27 km), Seksi 3 SS Putat Nutug-SS Rumpin (8,23 km), dan Seksi 4 SS Rumpin-Junction Serpong (10,56 km).

Tol ini dirancang dengan standar kecepatan 100 km per jam dan lebar lajur 3,6 meter. Pada tahap awal, konfigurasinya adalah 2x2 lajur, yang rencananya akan dikembangkan menjadi 2x3 lajur pada tahap akhir seiring dengan proyeksi pertumbuhan lalu lintas di masa depan.

"Nilai investasi ini merupakan keseluruhan biaya pembangunan Jalan Tol Bogor-Serpong yang meliputi perencanaan teknis, pengadaan tanah, konstruksi, hingga pengoperasian dan insya Allah tanpa menggunakan APBN," ujar Wilan.

Skema kerjasama yang digunakan adalah KPBU dengan metode bangun guna serah (build, operate, and transfer), dan proyek ini juga mendapatkan dukungan penjaminan dari PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) sebagai bentuk mitigasi risiko.

Berdasarkan rencana implementasi, pengadaan tanah akan dimulai di awal 2026. Pembangunan konstruksi ditargetkan dapat dimulai pada Oktober 2026 dan ditargetkan selesai seluruhnya pada Agustus 2028.

Tol Bogor-Serpong via Parung ini merupakan bagian dari jaringan Jakarta Outer Ring Road (JORR) III dan akan terhubung dengan beberapa ruas tol eksisting dan rencana, seperti Tol Serpong-Balaraja, Tol Bogor Ring Road (BORR), Tol Depok-Antasari, serta Tol Sentul Selatan-Karawang Barat yang juga akan segera dilelang.

“Pembangunan Jalan Tol ini diharapkan dapat mendukung konektivitas di Jabodetabek, mendorong pengembangan kawasan di sepanjang koridor,” ucapnya.

Sementara itu, Menteri PU, Dody Hanggodo, menyambut baik inisiatif badan usaha dalam membangun Jalan Tol Bogor-Serpong via Parung ini.

Menurutnya, proyek jalan tol tetap menarik bagi investor dan diharapkan pembangunan jalan tol yang sudah diwacanakan sejak 10 tahun lalu ini menambah masuknya investasi asing langsung ke dalam negeri.

“Jalan tol tetap menarik bagi investor domestik maupun luar negeri. Kita berharap tol Bogor - Serpong via Parung semakin memperkuat arus masuk foreign direct investment (FDI) karena bagaimanapun kehadiran FDI tidak hanya menambang modal, melainkan juga bawa teknologi baru, tata kelola yang lebih modern dan menumbuhkan kepercayaan global terhadap masa depan Indonesia,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait JALAN TOL atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra