Menuju konten utama

Profil Itamar Ben-Gvir Menteri Keamanan Israel & Kontroversinya

Profil Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Israel yang memimpin doa Yahudi di kompleks Al-Aqsa pada Minggu (3/8/2025) dan kontroversinya.

Profil Itamar Ben-Gvir Menteri Keamanan Israel & Kontroversinya
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir tiba untuk rapat kabinet di kantor perdana menteri di Yerusalem pada 27 Agustus 2023. (Foto oleh Menahem KAHANA / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, dilaporkan memimpin ibadah doa Yahudi di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, Palestina, pada Minggu (3/8/2025). Aksinya dinilai melanggar kebijakan status quo yang berlaku. Simak profil Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Israel dan daftar kontroversinya selama ini.

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, menyerukan Israel untuk menduduki sepenuhnya seluruh Jalur Gaza. Anggota parlemen sayap kanan ini bergabung dengan para pemukim Yahudi dan terlihat berdoa di kompleks Masjid Al-Aqsa pada Minggu (3/8/2025), mengutip laporan Deutsche Welle.

Aksi Itamar Ben Gvir sontak menuai kecaman banyak pihak dan dianggap melanggar status quo yang telah disepakati. Sebab, Israel dilarang menggelar ritual keagamaan Yahudi dan tidak memiliki kedaulatan atas kompleks Masjid Al-Aqsa.

Profil Itamar Ben-Gvir dan Kontroversinya

Masjid Al-Aqsa di Yerusalem dikelola oleh Waqf, lembaga keagamaan di bawah otoritas Kerajaan Yordania. Al-Aqsa menjadi tempat suci bagi umat Islam. Al-Aqsa juga dihormati oleh orang Yahudi sebagai Bukit Bait Suci, tempat kuil-kuil dalam Alkitab dulu berdiri. Situs ini merupakan situs tersuci dalam Yudaisme, mengutip laporan Washington Post.

Berdasarkan status quo yang telah disepakati oleh Israel dan Yordania, Masjid Al-Aqsa hanya diperbolehkan untuk ritual keagamaan umat Islam. Sementara, kegiatan ritual keagamaan Yahudi dilarang digelar di Al-Aqsa.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi gerakan di kalangan orang Yahudi yang mendukung ibadah di Al-Aqsa. Ben Gvir telah lama menyerukan akses bagi orang Yahudi ke situs suci itu.

Pada Minggu (3/8/2025), Ben Gvir berkunjung ke Al-Aqsa untuk memperingati hari raya Yahudi Tisha B'Av, hari berkabung dan pertobatan ketika orang Yahudi merenungkan penghancuran Bait Suci Pertama dan Kedua.

Aksi Itamar Ben Gvir yang memimpin doa Yahudi di Masjid Al-Aqsa lantas memicu eskalasi dan provokasi yang berbahaya.

Itamar Ben Gvir lahir 6 Mei 1976 di Mevaseret Zion, Israel. Ia merupakan seorang pengacara dan politikus yang memimpin partai sayap kanan, Jewish Power, sejak 2019.

Ben Gvir berasal dari keluarga Yahudi Mizrahi. Ibunya lahir di Kurdistan Irak dan pernah bergabung dengan Irgun Zvai Leumi. Ini adalah sebuah gerakan dan milisi bawah tanah yang melawan penjajahan Inggris dan memperjuangkan hak penentuan nasib sendiri bagi orang Yahudi di Palestina. Sementara ayahnya lahir di Yerusalem.

Di usia muda, Ben Gvir aktif di Partai Moledet yang baru dibentuk. Partai tersebut berpusat pada pemindahan warga Palestina dari Israel, Tepi Barat, dan Jalur Gaza. Ia kemudian menjadi koordinator pemuda untuk gerakan Kach, sebuah partai politik yang didirikan oleh Meir Kahane yang dikenal karena rasisme anti-Arab.

Pada tahun 1994, Partai Moledet dilarang karena dianggap mendukung pembantaian terhadap jamaah Muslim.

Memasuki tahun 2000-an, Ben Gvir belajar hukum di Ono Academic College. Selama itu, Ben Gvir menghadapi puluhan dakwaan yang sebagian besar berujung pada pembebasan atau pemecatan. Dakwaan yang dijatuhkan kepadanya termasuk hasutan rasisme dan dukungan terhadap organisasi teroris.

Setelah meraih gelar sarjana hukum pada tahun 2008, Asosiasi Pengacara Israel (IBA) awalnya melarang Ben Gvir mengikuti ujian pengacara karena hukuman pidana yang dijatuhkan kepadanya.

Ben-Gvir menentang keputusan IBA yang melarangnya mengikuti ujian pengacara dengan memberikan contoh-contoh aktivis sayap kiri ekstrem yang sebelumnya diizinkan untuk mengikuti ujian tersebut.

Sementara itu, ia memperoleh pengalaman hukum dengan menjadi ajudan anggota Knesset Michael Ben-Ari, yang memiliki latar belakang sayap kanan ekstrem yang serupa.

Sebuah komite akhirnya menetapkan bahwa Ben-Gvir dapat mengikuti ujian pengacara. Namun, komite tersebut mengharuskan Ben Gvir untuk menyelesaikan kasus-kasus yang belum terselesaikan.

Pada tahun 2012, ia menerima lisensi untuk praktik hukum. Setelah mendapat lisensi tersebut, Ben Gvir bekerja di Honenu, sebuah organisasi bantuan hukum yang menyediakan jasa penasihat hukum bagi warga Israel yang didakwa karena membela diri dari agresi Arab atau karena kecintaan mereka pada Israel.

Kliennya meliputi para pemukim dan aktivis Israel yang dituduh melakukan hasutan atau vandalisme yang ditujukan kepada warga Palestina.

Ia pertama kali terpilih menjadi anggota parlemen pada tahun 2021. Setelah menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai tokoh di pinggiran politik Israel, Ben Gvir kini bergabung dengan pemerintahan Netanyahu. Ia kini mengendalikan kepolisian yang pernah menangkapnya, dan penjara-penjara tempat ia pernah ditahan.

Selama bertahun-tahun, ruang tamunya dihiasi dengan potret pembunuh massal Baruch Goldstein, yang menembak mati 29 warga Palestina di sebuah masjid di Hebron pada tahun 1994. Goldstein, seperti Ben-Gvir, adalah pengagum rabi ekstremis Meir Kahane, mengutip laporan The Guardian.

Ben Gvir telah menyerukan deportasi terhadap lawan-lawan politiknya. Dalam jabatannya di kabinet, Ben Gvir mengawasi kepolisian dan menggunakan pengaruhnya untuk mendorong Netanyahu agar terus melanjutkan perang di Gaza.

Sebagai menteri keamanan nasional, ia telah mendorong polisi untuk mengambil sikap tegas terhadap para pengunjuk rasa anti-pemerintah.

Pada awal tahun 2025, Ben Gvir mengundurkan diri sementara dari kabinet Perdana Menteri Netanyahu untuk menyatakan ketidaksetujuannya terhadap kesepakatan gencatan senjata Gaza.

Gencatan senjata berlangsung dari 19 Januari hingga 1 Maret. Pada periode tersebut, Hamas membebaskan 25 sandera Israel dan delapan jenazah lainnya sebagai imbalan atas hampir 1.800 tahanan Palestina, termasuk militan senior yang menjalani hukuman seumur hidup atas serangan mematikan.

Pasukan Israel ditarik kembali, ratusan ribu warga Palestina kembali ke sisa-sisa rumah mereka, dan terjadi lonjakan bantuan kemanusiaan.

Pengunduran diri Ben Gvir tidak menghentikan gencatan senjata, tetapi justru melemahkan koalisi pemerintahan Netanyahu. Ben Gvir bergabung kembali dengan kabinet ketika Israel mengakhiri gencatan senjata dan kembali terlibat pertempuran aktif di Gaza pada Maret 2025.

Baca juga artikel terkait PROFIL atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo