Aris Santoso
Peneliti militer, terutama TNI AD. Bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

Prabowo, Garis Tangan Perwira, dan Taruna Rumput Berduri

13 Maret 2018
Dibaca Normal 4 menit
Waktu berjalan sangat lambat bagi Prabowo Subianto. Sulit menemukan perbedaan antara Prabowo hari ini, sebagai pemimpin partai politik Gerindra, dan Prabowo dua dekade lalu saat ia memegang dua jabatan sekaligus: Danjen Kopassus dan akhirnya Pangkostrad pada Maret dan April 1998—bulan terakhir rezim Orde Baru.

Perbandingan ini bahkan masih bisa ditarik lebih jauh lagi ke tahun sekitar 1987-1988 saat Prabowo dipindahkan ke Kostrad, dampak dari perseteruan yang berlarut-larut dengan Jenderal Benny Moerdani. Mutasi Prabowo ke Kostrad, sebagai Wakil Komandan Yonif Linud 328/Kujang II—meminjam istilah penikmat seni tradisi—ibarat perjalanan spiritual. Ia mampu mengonversi “pengasingan” jadi energi positif, yang auranya masih terasa sampai sekarang.

Energi Prabowo dalam meniti jalur politik masih sama membuncahnya seperti ketika ia menjadi Komandan Yonif 328. Ketika dimutasi ke Kostrad, ia sama sekali tidak merasa terbuang. Dengan dukungan sumber daya pribadi dan keluarga besarnya, Prabowo menjadikan Yonif 328 semakin berkibar di berbagai palagan. Di bawah kepemimpinannya, kemampuan teknis personel Yonif 328 nyaris menyamai pasukan para komando Baret Merah, kesatuan asal Prabowo.

Dari Komandan Pasukan ke Figur Nasional

Dalam narasi sejarah, ada istilah eenmalig dalam bahasa Belanda, secara harfiah artinya “hanya sekali”. Istilah ini untuk menggambarkan kesempatan atau momentum sejarah yang biasanya hanya datang sekali.

Dalam sebuah acara, Prabowo mengatakan ia pernah memiliki kesempatan untuk mengambil alih kepemimpinan nasional pada hari-hari panas Mei 1998. Namun, kesempatan ini urung diambilnya.

Mungkin dari pengalaman ini istilah eenmalig menjadi semacam kutukan bagi Prabowo. Karena itu, ia ingin melawannya sampai batas akhir. Asumsi ini berdasarkan ikhtiar Prabowo membidik posisi kepemimpinan nasional sejak 2004.


Jika Prabowo bertarung kembali pada Pilpres 2019, total empat kali sudah Prabowo terjun dalam kontestasi politik nasional. Dengan kata lain, istilah eenmalig sudah batal bagi dirinya.

Kita tidak tahu persis bagaimana nasib Prabowo pasca-Pilpres 2019, apakah berhasil atau gagal (lagi). Bagi orang yang malas berpikir untuk menganalisis situasi politik di Tanah Air, berhasil atau tidaknya Prabowo sudah tergambar di garis tangannya.

Kita boleh percaya atau tidak soal mitos garis tangan tersebut. Namun, terlepas dari hasil Pilpres 2019 nanti, ruang publik bagi Prabowo masih terbuka lebar. Apa pun hasil pilpres kelak tidak akan berpengaruh pada figur Prabowo, yang sudah telanjur melegenda sebagai komandan pasukan.

Selama dua dekade pasca-reformasi, telah terjadi perluasan predikat pada Prabowo, dari sebatas figur militer di masa lalu ke tokoh nasional. Suka atau tidak, kini namanya sudah bisa disejajarkan dengan figur nasional lain yang berasal dari kalangan militer, seperti A.H. Nasution, Sarwo Edhi Wibowo, Zulkifli Lubis, Dading Kalbuadi, dan seterusnya.

Antara Baret Merah dan Baret Hijau

Kuatnya figur Prabowo Subianto tak lepas dari karier militernya pada masa lalu. Prabowo adalah sintesis yang nyaris sempurna antara tradisi Baret Merah (Kopassus) dan tradisi Baret Hijau (Kostrad), sehingga sulit dibandingkan dari perwira lain. Pada era masing-masing, figur pimpinan terdahulu seperti Wismoyo (Akmil 1963), Kuntara (Akmil 1963), atau Tarub (Akmil 1965) juga pernah menjadi Danjen Kopassus, untuk kemudian diangkat jadi Pangkostrad.

Namun, tetap ada sesuatu yang lain pada diri Prabowo.

Prabowo memiliki privilese dan sejarah seolah memberi banyak kemudahan pada dirinya. Mutasi Prabowo ke Kostrad, yang semula dikira sebagai pengasingan, justru jadi hikmah terselubung.

Baik Kopassus maupun Kostrad memiliki tradisi dan jalan masing-masing dalam membangun nama besar satuan. Dalam kapasitas itu Prabowo telah menguasai dua tradisi dalam satu tarikan napas.

Bahkan perwira sekelas Jenderal (Purn) Moeldoko (Akmil 1981) atau Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo (Akmil 1982), perjalanan kariernya masih dirasa kurang lengkap ketika hanya sekadar “transit” di Kostrad—itu pun sudah dalam posisi perwira tinggi, seperti Panglima Divisi Infanteri atau Kastaf Divisi Infanteri.


Mutasi Mayor Prabowo dari Kopassus ke Yonif 328 adalah sebuah narasi besar. Kepindahannya menjadi titik kulminasi persaingan antara Kostrad dan Kopassus. Sebagamana disebut pada awal tulisan, Prabowo terpaksa keluar dari Kopassus karena konflik yang berlarut-larut dengan kelompok Benny Moerdani. Sekitar tahun 1987-1988 itu, atasan langsung Prabowo, Brigjen Sintong Panjaitan (Danjen Kopassus) dan Letkol Inf Luhut Panjaitan (Komandan Anti Teror Kopassus), adalah orang dekat Benny.

Kita pun menjadi paham jika penempatan Luhut sebagai orang kepercayaan Presiden Jokowi adalah salah satu cara untuk “menjinakkan” Prabowo.


Terkait nama besar Kostrad (juga Kopassus), saya memiliki catatan khusus terhadap May Inf (Purn) Agus Harimurti Yudhono (AHY, Akmil 2000), yang kebetulan sedang merintis jalan menuju Istana.

Sungguh disayangkan AHY tidak menyudahi kariernya di Yonif Para Raiders 305/Tengkorak Kostrad (Karawang), satuan legendaris setara Yonif 328. Dua satuan ini sejak lama selalu bersaing, meskipun tergabung dalam brigade yang sama, yaitu Brigif Linud 17/Kujang I Kostrad (kini Brigif Para Raiders 17). Saat Prabowo menjadi Danyon 328, yang menjabat Danyon 305 adalah teman sekelasnya di Akmil yang juga figur terkenal: Letkol (Inf) Ryamizard Ryacudu.

Sejak lulus Akmil, AHY sudah ditempatkan di Yonif 305, tempat ayahnya (SBY) bertugas pada awal karier sebagai lulusan Akmil (1973). Banyak pengamat memperkirakan AHY memang disiapkan menjadi Danyon 305, untuk kemudian berlanjut menjadi Komandan Brigif Para Raiders 17, posisi yang dulu juga pernah ditempati SBY.


Akan lain ceritanya jika dulu AHY menyudahi kariernya sebagai Danyon 305. Batalnya AHY sebagai Komandan Yonif 305 adalah misteri tersendiri. Sebagaimana diketahui, AHY kemudian diangkat sebagai Komandan Yonif Mekanis 203/Arya Kamuning.

Yonif mekanis seperti Yonif Mekanis 203 adalah model relatif baru dalam satuan infanteri terkait mobilitas pasukan, yang kini menggunakan panser ringan. Artinya, dari aspek nama besar, Yonif 203 masih kalah jauh dibandingkan Yonif 305 yang rekam jejak operasinya lebih panjang.

Namun, kini semuanya sudah jadi sejarah—dan AHY sudah sibuk dengan sejarah yang lain.

Perwira Rumput Berduri

Perjalanan karier militer Prabowo, termasuk karier politiknya pasca-purnawirawan, tentu tak bisa dijadikan referensi bagi para perwira lain pada umumnya. Segala kemudahan dan kemewahan nasib bisa jadi memang privilese Prabowo—sesuatu yang tak perlu dijadikan alasan berkecil oleh perwira-perwira lain yang kini masih aktif.

Perlu ditekankan di sini bahwa di TNI tetap memiliki ruang untuk perwira yang tidak berasal dari golongan elite.


Dalam keluarga besar Akmil 1965, ada istilah yang khas di komunitas mereka, yakni “taruna rumput berduri”. Istilah ini menggambarkan taruna yang dari segi prestasi akademis termasuk biasa-biasa saja dan/atau tidak masuk dalam unsur pimpinan senat taruna, tapi di kemudian hari muncul sebagai perwira dengan karier cemerlang. Theo Syafei, Yunus Yosfiah, Syamsir Siregar, Haris Sudarno adalah contoh perwira rumput berduri ini.

Taruna rumput berduri bisa juga ditafsirkan sebagai taruna yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Dalam pengamatan saya, TNI memiliki banyak perwira yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja, tetapi kariernya tetap mengalir normal.


Salah satu yang bisa sebut adalah kakak-beradik Brigjen Nugroho Budi (Akmil 1987, mantan Komandan Satgultor 81 Kopassus) dan Kol (Inf) Tandyo Budi (Akmil 1991, mantan Komandan Brigif Para Raiders 17/Kujang I Kostrad). Kakak-beradik ini berasal dari sebuah keluarga sederhana di Solo.

Selalu ada tempat bagi perwira cemerlang, meski datang dari keluarga yang sangat sederhana, bahkan miskin. Bukan hanya TNI, bangsa ini sungguh merugi bila tidak memberi ruang bagi perwira-perwira seperti itu. Perwira cerdas ibarat bunga teratai, yang tetap terlihat indah, meski tumbuh di air atau lingkungan yang kurang jernih.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.