Konco-Konco Benny Moerdani dari Batujajar

Oleh: Petrik Matanasi - 25 Februari 2017
Dibaca Normal 3 menit
Di korps baret merah, Benny punya kolega lawas sejak awal berkarir di militer yang belakangan menjadi orang kepercayaannya. Di antara mereka adalah orang-orang yang terlibat dalam Operasi Seroja.
tirto.id - Meski belum pernah ikut latihan terjun payung, Benny Moerdani sukses terjun dengan selamat bahkan mampu memimpin pasukannya merebut bandar udara Pekanbaru yang diterjuninya. Benny pun akhirnya disemati wing penerjun oleh atasannya.

Acara penyematan itu diabadikan oleh kamera milik Dading Kalbuadi. Dading bukan wartawan, melainkan letnan RPKAD (cikal-bakal Kopassus), yang di tahun 1950-1960 berpangkalan di Batujajar, seperti Benny. Mereka sama-sama lulusan Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat (P3AD), sama-sama mantan remaja pejuang dalam revolusi kemerdekaan Indonesia, dan sama-sama memulai karir militer profesionalnya di korps baret merah sejak 1954.

Setelah berjuang dalam misi menghancurkan pasukan PRRI pada 1958 itu, Dading akhirnya tertembak. Perawatan panjang harus dia lewati. Karirnya kemudian tersalip oleh Benny yang melesat setelah menerima Bintang Sakti pasca-pembebasan Irian Barat. Dalam sejarah karirnya, Benny pernah terlibat operasi menumpas PRRI-PERMESTA di Sumatera dan Sulawesi Utara, operasi Trikora Papua dan Dwikora di Kalimantan. Ketika Benny sudah jadi brigadir Jenderal dan jadi orang penting di intel militer. Sementara, Dading yang lebih tua masih berpangkat kolonel.

Di masa awal mereka jadi perwira pasukan komando di Batujajar, Dading dan Benny punya senior yang pernah jadi ajudan Letkol Slamet Riyadi. Aloysius Sugianto, sang senior itu, adalah orang yang diperintahkan Kolonel Alex Kawilarang memanggil Rokus Bernadus Visser untuk melatih sebuah pasukan yang awalnya dikenal sebagai Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

Sayang, setelah Peristiwa Kranji, Sugianto dibuang dari korps baret merah. Letnan Satu Sugianto, yang pernah menjadi kepercayaan Slamet Riyadi sebelum meninggal serta kepercayaan Kawilarang, juga menjadi kepercayaan Mayor R.A. Djaelani yang jadi komandan RPKAD.

Djaelani adalah perwira politis yang menyeret pasukannya—yang tak memahami politik kelas perwira—dalam usaha show off force gagal pada 15 November 1955 dan dikenal sebagai Peristiwa Kranji itu. Dari baret merah, Sugianto pindah ke Kostrad dan menjadi orang dekat Ali Moertopo. Pangkat Sugianto juga tersalip Benny.

Sepak-terjang Djaelani itu menimbulkan amarah prajurit-prajurit RPKAD yang merasa diperalat untuk tujuan politik kelompok Zulkifli Lubis. Suatu pagi, sebuah insiden bahkan pecah di asrama Batujajar setelah Peristiwa Kranji. Rentetan senjata api menyala. Kegaduhan itu diceritakan dalam biografi Benny yang ditulis Julius Pour, Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan (1993).

Benny, yang sebelumnya dirawat di rumah sakit Cimahi selama sebulan, kebingungan melihat sepeleton pasukan komando berlari dengan wajah beringas. Para prajurit komando yang mengamuk itu tak menyentuh Benny karena menurut mereka, dia bukan orang yang harus dimintai tanggungjawab. Sersan Mayor Agus Hernoto dari bagian Angkutan resimen berada di barisan depan.

“Mau kemana?!” tanya Agus dengan nada menggertak pada Benny dan dengan senapan Agus yang mengarah ke muka Benny. “Lho, ke kantor,” jawab Benny yang bingung dan balik bertanya, “Lha kalian mau ke mana?”

“Ke Pak Djaelani, dia mengkhianati kita semua,” jawab bintara yang terus maju. Benny pun membuntuti dari belakang. Benny melihat perwira-perwira di asrama diringkus. Hanya dirinya yang tak diringkus. Tak ada waktu lagi untuk mencari tahu. Ketika ditanya pada prajurit yang marah, dia hanya beroleh jawab, “Pak Komandan mengkhianati kita. Para perwira ini mengkhianati kita, kita bunuh saja mereka..”

Benny masih belum paham kesalahan para perwira yang diringkus, tapi tindakan prajurit-prajurit yang merasa diperalat itu tak bisa dibenarkan. Sebagai satu-satunya perwira yang masih tampak dipercaya sebagai kawan oleh prajurit-prajurit marah itu, Benny segera memberi perintah.

“Taruh, taruh itu semua senjata!” serunya, yang ternyata didengar oleh prajurit-prajurit marah itu. “Serahkan semuanya kepada saya.”

Pertumpahan darah pun tak terjadi. Para perwira itu lalu diamankan ke garnizun Bandung.

Benny tak melupakan Agus Hernoto setelah peristiwa itu. Ketika orang-orang invalid di RPKAD akan dikeluarkan oleh Kolonel Moeng Parhadimulyo, Benny termasuk perwira yang menentang keras. Di antara mereka terdapat Agus Hernoto yang kehilangan kaki dalam sebuah operasi pembebasan Irian Barat. Permusuhan Benny dengan Moeng belakangan membuat Benny dikeluarkan dari Korps baret merah.

“Ketika Benny keleleran di Kostrad setelah terlempar dari RPKAD, adalah Pak Ali yang menampungnya,” aku Aloysius Sugianto seperti dicatat Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016). Setelah bersama Kostrad dan ikut operasi di Kalimantan, Benny masuk intelijen menjadi agen lapangan di Asia Tenggara—dari Operasi Khusus (Opsus) bentukan Ali Moertopo. Benny dan Sugianto sempat bersama-sama di Filipina dan Thailand.

Jelang operasi Seroja yang berlanjut pada aneksasi Timor Portugis menjadi provinsi ke-27 Indonesia, Benny bertemu lagi dengan seniornya, Sugianto. Dalam buku Memoar Jenderal Yoga (1990) disebutkan operasi ini melibatkan Benny Moerdani, Aloysius Sugianto, Agus Hernoto, Subrata, dan Alex Dinuth.

Benny dan Sugianto terlibat dua operasi berbeda, namun misi utamanya sama: menggabungkan Timor dengan Indonesia. Ketika itu, Sugianto sudah Kolonel dan menjadi direktur urusan kebudayaan yang bekerja di bawah Deputi III Bakin Mayor Jenderal Ali Moertopo. Sugianto yang menyamar menjadi pejabat pemasaran perusahaan dagang fiktif di Surabaya memasuki kawasan Timor Portugis sebulan sekali. Kala Sugianto rajin ke Timor inilah Ali Moertopo merancang Operasi Komodo.

Belakangan, Benny, menurut Ken Conboy dalam Intel: Menguak Takbir Dunia Intelijen Indonesia (2007), juga menyetujui operasi rahasia lain bernama Operasi Flamboyan yang lebih bersifat militer ketimbang operasi Komodo. Menurut Ken Conboy, Benny adalah salah satu dari sekian jenderal di Bakin yang disebut hawkish (gemar bertempur). Dalam operasi Flamboyan ini, Dading bergabung di dalamnya. Begitupun Agus Hernoto yang sudah mengenakan kaki palsu.

Bulan Februari 1975, delapan pentolan operasi Flamboyan membangun pos pemantauan di dekat pos Operasi Komodo. Ketika itu, Operasi Komodo sudah membina orang-orang dari partai Apodeti yang mulai condong pro-integrasi dengan Indonesia.

Dading dan operasinya yang baru jalan pun ada niatan untuk mengambil-alih pelatihan orang-orang Apodeti. Terkait operasi terhadap Timor Portugis itu, Benny dan Dading sering berkoordinasi. Termasuk dalam usaha merebut dokumen penting dari Mayor Antonio Joao Soares, perwira militer Portugis. Usaha itu sukses.

Infografik Leonardus Benjamin Moerdani


Dading punya peran penting dalam Operasi Seroja yang berhasil merebut Timor. Beberapa foto Dading yang gondrong dan bertopi ala cowboy di Timor Leste banyak beredar. Dalam operasi itu, Dading membangun Timor Timur yang dipimpin perwira menengah macam Yunus Yosfiah, Tarub, Sutiyoso, atau Kuntara. Belakangan mereka menjadi jenderal.

Dading memimpin pasukan elit yang terdiri dari beberapa tim seperti Umi atau Susi, sedangkan Agus yang perwira intel juga pernah ikut serta dalam pertempuran juga.

“Agus saat itu dengan gagah berani melakukan rekayasa peledakan dengan menggunakan jerigen besar berisi TNT seberat 25 kilogram dan dipasang sumbu di atasnya. Bom itu diledakkan dengan cara membakar sumbu dari helikopter lalu dilempar ke bawah, ke arah musuh," cerita Kiki Syahnakri (Antara, 12/08/2015).

Selain itu, Agus sering terlihat di sekitar Atambua mengemudikan jeep dengan kap terbuka. Dia adalah orang lapangan Benny sepanjang operasi penyatuan Timor Portugis itu ke Indonesia. Menurut Sintong, dalam bukunya Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009), Agus sering mendatangi dan menghibur prajurit-prajurit yang terluka.

Benny cukup dekat dengan Dading. Bahkan sebelum berangkat ke Timor, Benny berusaha mengingatkan kawannya itu mengenai bahaya operasi yang akan dijalaninya. “Ini mungkin one way ticket,” kata Benny. Dading yang dipercaya Benny itu lalu bilang, “Sudahlah Ben, tak apa-apa. Saya kerjakan... tapi tolong, titip keluarga saya, kalau nanti saya tidak kembali.”

Dading ternyata kembali dengan gemilang. Pangkat terakhirnya di militer adalah letnan jenderal, sedangkan Benny jenderal penuh. Sementara, pangkat Agus Hernoto yang terakhir adalah kolonel. Semuanya disegani dalam sejarah korps baret merah, juga dunia intel militer Indonesia. Mereka termasuk kawan lama yang dipercaya Benny.

Menurut Teddy Rusdy, seperti dikutip Salim Said dalam bukunya, “Benny itu orang intel. Dia merasa aman berada dan bekerja di sekitar orang yang dikenalnya dengan baik.”

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani