Sintong Hamonangan Panjaitan

LahirTarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Indonesia, 4 September 1940
Profesi
Karier
  • Letnan Jenderal TNI AD (1963-1991)

Sintong Hamonangan Panjaitan salah satu petinggi militer era Orde Baru yang dianggap bertanggung jawab atas peristiwa demonstran di Santa Cruz, Dili Timor Timur pada 12 November 1991. Peristiwa tragis yang menewaskan banyak orang tersebut mencoreng citra Indonesia di mata internasional.

Pasca kejadian itu, Dewan Keamanan Militer (DKM) mencopot Mayor Jenderal Sintong Panjaitan dari jabatannya sebagai Pangdam IX /Udayana. Keputusan ini sebuah pukulan berat bagi Sintong Panjaitan.

Karir militer Sintong yang gilang gemilang tercoreng dengan keputusan tersebut. Dalam Buku Sintong Panjaitan Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando karya Hendro Subroto, Sintong mengutarakan keheranannya dengan pembentukan DKM yang seperti Dewan Kehormatan DPR, untuk menindak pelanggaran kode etik. Bagi Sintong, penindakan di pihak tentara telah diatur dalam Kitab Undang Undang Hukum Pidana Tentara (KUHPT) dan Kitab Undang-Undang Hukum Disiplin Tentara (KUHDT).

Proses pemeriksaan terkait kasus tersebut pun dirasa tidak cukup jelas. Kendati pun merasa tidak bersalah dan malah justru berusaha mencegah terjadinya kerusuhan, Sintong tak punya kuasa apa-apa untuk membersihkan namanya.

Di saat yang bersamaan, Sintong justru mendapatkan sebuah piagam pernghargaan dari Pemerintah Daerah Timor Timur yang ditandatangani oleh Gubernur Mario Viegas Carrascalao. Piagam itu diberikan kepada Sintong sebagai bentuk penghargaan dari pemerintah daerah dan masyarakat Timor Timur atas jasa-jasanya dalam membantu pembangunan daerah Timor Timur.

Sintong memang dikenal sebagai peinggi militer yang aktif dalam persoalan Timor Timur sekaligus memiliki hubungan sangat baik dengan tokoh-tokoh dari wilayah tersebut. Uskup Carlos Ximenes Belo yang dikenal sangat vokal dalam mengawasi kehadiran ABRI di Timor Timur, adalah salah satu orang yang berhubungan sangat baik dengan Sintong.

Uskup Belo bahkan terbang ke Denpasar untuk menghadiri serah terima jabatan Pangdam IX/ Udayana yang menandai berhentinya Sintong dari jabatan itu. Pada peristiwa itu Uskup Belo mengucapkan terima kasih dan selamat jalan pada Sintong.