Agus Harimurti Yudhoyono Si Peselancar Politik

Oleh: Arlian Buana - 29 Oktober 2016
Dibaca Normal 2 menit
Memutuskan keluar dari dinas ketentaraan dan memulai karier politik tentu tidak mudah. Pertempuran militer jauh berbeda dari pertarungan elektoral dan tidak sedikit mantan tentara yang terjungakal dalam pemilu. Tapi Agus berselancar.
tirto.id - "Kita joget bareng-bareng di sini! Terima kasih, wabillahi taufik walhidayah," pekik Agus Harimurti Yudhoyono, jarinya menunjuk ratusan orang di bibir panggung setinggi dua meter di Stadion Tugu, Jakarta Utara, "assalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuh!"

Kerumunan bernyanyi, melompat-lompat seperti penonton konser. Agus menyalami beberapa di antara mereka layaknya bintang rok, lalu bergoyang-goyang sambil tepuk-tepuk tangan. Terlihat asyik sekali. Mendadak ia mundur lima langkah, kedua tangannya mengisyaratkan agar massa lebih maju ke depan mendekati panggung.

Ini bukti gue

Ini bukti gue

Selalu setia

Dukung Agus-Sylvi

Massa berseragam biru-putih terus bernyanyi dan melompat-lompat dan Agus, tanpa melepaskan selendang biru di lehernya, mengambil ancang-ancang seperti hendak berlari dan melakukan aksi selancar panggung. Massa berseragam biru-putih terus bernyanyi dan melompat-lompat di bawah guyuran hujan dan beberapa di antaranya harus menggotong Agus dan yang digotong memiringkan badan mengepalkan tangan lalu melambai-lambai ke arah kamera. Selendang biru masih lengket di leher Agus dan senyumnya terus mengembang ketika akhirnya ia diturunkan dari gotongan dan melangkah membelah kerumunan.

"Keren, enggak?" tanya Agus kepada wartawan usai acara.

"Itu adalah kegiatan kebersamaan, menghilangkan sekat dan menghilangkan keyakinan bahwa ada jarak antara pemimpin dan yang dipimpinnya--termasuk masyarakatnya,” katanya. "Itu saya lakukan secara spontan. Tapi biasa saya lakukan selama saya memimpin prajurit-prajurit di satuan saya dulu."

Tentu saja keren. Netizen langsung heboh dibuatnya. Foto dan video aksi Agus langsung memviral dan diperbicangkan, dielu-elukan dan dicibir.

"Dan ini riil, ini riil, ini riil," kata Roy Suryo, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Roy Suryo dan Koordinator Tim Siber Agus-Sylviana, dalam acara bincang-bincang di TV One, Minggu, 23 Oktober 2016. "Dan insya Allah itulah harapan masyarakat terhadap Mas Agus dan Mpok Sylvi."

"Jadi bukan direncanakan?" tanya Fenny Anastasia, presenter acara.

"Kalau direncanakan, orang-orangnya coba ditanya. Itu resmi relawan."

"Apakah ini, menurut Bang Ruhut, tindakan yang tepat?" tanya Fenny, beralih ke Ruhut Sitompul, mantan pendukung utama kepresidenan ayah Agus yang kini membelot jadi pendukung Ahok.

"Kalau aku wanita, aku bisa jatuh cinta," jawab Ruhut, tergelak. "Tapi sayang, sudah ada Anisa Pohan."

Tepat sebulan sebelumnya, pada Jumat, 23 September 2016, Agus terisak-isak ketika menyampaikan pidato politik di Kantor DPP Partai Demokrat. Berberapa kali ia harus memotong kalimatnya, pause, dengan mata berkaca-kaca, tampak berusaha keras agar air matanya tidak tumpah.

"Hari ini adalah hari bersejarah dalam perjalanan hidup saya," kata Agus. "Tepatnya jam 01.00 WIB tengah malam, saya harus tentukan pilihan. Apakah saya jalankan karier saya di militer atau jalani di lingkungan berbeda."

Ia lalu menceritakan detik-detik saat dia menerima tawaran menjadi Calon Gubernur DKI. Agus mengaku dimintai kesediaannya dua hari sebelumnya oleh perwakilan empat partai politik, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Demokrat. Ia baru saja pulang dari latihan bersama pasukannya di Australia, dan dalam dua hari ia harus mengambil keputusan.

Sulit membayangkan Agus menolak tawaran itu. Partai Demokrat pimpinan ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono, tentu akan kelimpungan mencari calon lain jika Agus mengatakan tidak dan tiga partai sisanya akan seperti ayam yang kehilangan induk lalu besar kemungkinan akan menjejal-jejalkan diri ikut rombongan calon paling kuat.

"Seorang pemimpin harus bisa mengambil keputusan dan tanpa paksaan dan tekanan dari siapa pun, saya telah ambil keputusan," kata Agus.

Sejak hari itu, Agus tidak lagi menjalani kehidupan militer dan mulai belajar sekaligus menceburkan diri dalam kontestasi politik sipil. Tentu tidak mudah, pertempuran militer jauh berbeda dari pertarungan elektoral dan tidak sedikit mantan tentara yang mati kutu ketika harus terjun dalam pemilu.

Tapi Agus melalui perjalanan satu bulan pertamanya dalam politik dengan cukup baik. Bermodalkan wajah yang ramah dan enak dilihat, disokong popularitas ayahnya, dan beberapa terobosan kampanye yang cukup orisinal, ia tampil menawan di tengah khalayak.

Sebagaimana Jokowi-Ahok yang tampil khas dengan kemeja kotak-kotak, atau prabowo dengan baju safari cokelat muda bersaku empat, Agus memilih kaos hitam—baik berlengan pendek, maupun panjang—sebagai atribut kampanyenya. Kaos hitam iti dijahiti beberapa emblem: #JakartaUntukRakyat di dada kanan, AHY—akronim namanya—di dada kiri, dan bendera merah putih di lengan kanan.

"Bagi saya ini baju lapangan tacticool, tactical dan harus cool. Keren buat semuanya," kata Agus. "Mudah digunakan dan juga fleksibel."

Infografik Pilgub DKI Cagub Agus


Di luar gaya pidatonya belum bisa lepas dari bayang-bayang ayahnya, yang terukur, tertata rapi, dipikirkan benar kata per kata dan karenanya terkesan dibuat-buat dan kaku, Agus cukup berhasil membangun citra dirinya di media sosial dan relatif lebih dekat dan menjangkau generasi milenial--sesuatu yang tidak mudah dilakukan calon lain. Di akun instagramnya, ia telah mendulang 1,6 juta pengikut dengan foto-foto yang enak dipandang dan instagram banget, tidak melulu diisi janji-janji kampanye.

Dan aksi selancar panggung itu betul-betul jitu. Luar biasa. Belum ada presedennya dalam sejarah politik Indonesia.

"Kita harus hormati, kita salut, kita bangga. Itulah, kan, ilmu yang didapat oleh Mas Agus di TNI." kata Ruhut. "TNI itu, kan, tepat di mana dia loncat, kan? Coba kalau enggak tepat, kasihan, pinggangnya bisa patah, lhoh."

Meski mungkin Eddie Vedder, vokalis band Pearl Jam yang hobi stage dive, hanya akan cengar-cengir melihat aksi Agus tempo hari, bukan berarti itu tidak layak diapresiasi. Agus hanya perlu menaikkan standar agar lebih merebut perhatian.

Rekor selancar panggung sejauh ini dipegang oleh Craig Rondell, vokalis Boy Hits Car, yang terjun dari tumpukan speaker setinggi 20,7264 meter. Jika Agus bisa bisa mematahkan rekor itu, bukan hanya terjun dari panggung dua meter, Eddie Vedder tentu akan bertepuk tangan di atas kepala dan seluruh dunia tidak bisa tidak terpana.

Teruslah berselancar, AHY.

Baca juga artikel terkait PILKADA DKI JAKARTA atau tulisan menarik lainnya Arlian Buana
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Arlian Buana
Penulis: Arlian Buana
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight