Prabowo Subianto Djojohadikusumo

Pangkostrad TNI AD (1996 - 1998)
LahirJakarta, 17 Oktober 1951
ProfesiPangkostrad TNI AD (1996 - 1998)
Karier
  • Komandan Peleton Para Komando Group-1 Kopassandha TNI AD (1976-1977)
  • Komandan Kompi Para Komando Group-1 Kopassandha TNI AD (1977-1983)
  • Wakil Komandan Detasemen–81 Kopassus TNI AD (1983-1985)
  • Wakil Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad TNI AD
  • Kepala Staf Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kostrad TNI AD
  • Komandan Group-3/Pusat Pendidikan Pasukan Khusus TNI AD
  • Wakil Komandan Komando Pasukan Khusus TNI AD
  • Komandan Komando Pasukan Khusus TNI AD
  • Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus TNI AD (1995-1996)
  • Pangkostrad TNI AD (1996-1998)

Sebelum terjun ke dunia politik, Prabowo Subianto terlebih dahulu kenyang makan pendidikan dan petualangan di dunia militer, dari tingkat prajurit sampai tingkat yang elite. Bahkan Prabowo Subianto yang sekarang menjabat sebagai petinggi Partai Gerindra adalah sosok yang secara mental dibentuk oleh nilai-nilai yang terdapat di kemiliteran Indonesia. Ia masih menganut dan menerapkannya hingga sekarang. Salah satu yang paling kentara adalah citra nasionalis yang diusung oleh Gerindra, partai yang didirikannya pada 2008 lalu. Tak ada yang berani menyangkal rasa cinta tanah air seorang Prabowo Subianto pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bukan kebetulan pula ia bisa menduduki posisi-posisi penting di rentang karier kemiliterannya jika bukan didasari oleh kecakapan serta kebriliannya terutama saat berada di lapangan tempur. Juga dengan tidak menepis fakta bahwa ia adalah orang yang dekat dengan Keluarga Cendana, maka ia bisa mencapai posisi Jenderal Bintang Tiga di usia yang amat muda. Bahkan dibilang yang termuda di antara jenderal-jenderal sebelumnya.

Kisah-kisah heroik yang diceritakan oleh orang-orang yang pernah satu tim dengan Prabowo barangkali bisa membuktikan pujian-pujian yang hingga sekarang masih melekat saat publik di tanah air membincangkan putra dari Soemitro Djojohadikoesoemo, Sang Begawan Ekonomi Indonesia ini.

Misal, cerita dari Letjen (Purn) TNI Yunus Yosfiah, seorang kawan satu perjuangan Prabowo saat dulu masih aktif di daerah operasi sebagai anggota TNI. Yunus menceritakan kenangannya saat tahun 2014 ia menjabat sebagai Ketua Tim Koalisi Merah Putih (KMP), dan sedang ditemui oleh para awak media di Rumah Polinia, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur.

Yunus pernah heran dengan Prabowo yang membawa tas ransel ukuran besar saat mereka pertama kali bertugas di daerah operasi. Yunus kemudian menanyakannya langsung pada Prabowo, dan oleh Prabowo dijawab, “Bang, saya bawa ini (sebagai) bahan bacaan bang.”

Rupanya Prabowo mengisi ransel besar tersebut dengan banyak literatur yang didominasi oleh majalah-majalah ekonomi. Prabowo membacanya untuk mengisi waktu senggang saat berada di daerah operasi.

Reaksi Yunus adalah antara trenyuh sekaligus maklum. Trenyuh karena ia menganggap bukan kebiasaan orang awam yang menganggap membaca sebagai kegiatan yang bersifat hiburan. Namun, sebagai anak seorang ahli ekonomi, fenomena ransel besar Prabowo juga sesuatu yang wajar bagi Yunus.

Kawan seperjuangan Prabowo lain terutama yang sama-sama bertempur di Timor Timor juga mengungkapkan betapa mengesankannya dedikasi Prabowo selama di medan perang. Saat itu Prabowo menjabat sebagai pemimpin Komando Pasukan Khusus atau Kopassus. Ia dan pasukannya sedang berada di daerah rawan, sehingga helikopter tak berani mendarat. Prabowo dan timnya kesusahan mendapat pasokan makanan.

Kondisi mengenaskan tersebut bukannya mematahkan semangat korps, melainkan menumbuhkan rasa kebersamaan antar prajurit. Prabowo tetap memimpin pasukannya agar bisa bertahan hidup, yaitu dengan mengandalkan rebung dan singkong sebagai makanan sehari-hari mereka di tengah misi utama yaitu mengejar para milisi Fretilin. Kondisi berat tersebut dialami Prabowo dan pasukannya selama seminggu, dan  menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi sang komandan dan prajurit.

Hal lain yang masih diingat oleh para prajurit Prabowo di Timor Timur adalah kebiasaan Prabowo mengajar bahasa Inggris tiap malam. Selama pasukannya beristirahat, waktu tersebut dimanfaatkannya untuk berbagi ilmu bahasa yang Prabowo sudah kuasai sejak kecil. Ia adalah andalan AKABRI saat sekolah militer tersebut kedatangan tamu asing. Prabowo selalu diminta menjadi penerjemahnya.

Kemampuan berbahasa asing Prabowo bukan ia pelajari di bangku sekolah sebagai mata pelajaran saja, namun sebagai media berkomunikasi semenjak ia menjalani pendidikan dasar di Victoria Institution, Kuala Lumpur, Malaysia.

Kemampuan anak berbakat kelahiran Jakarta, 17 Oktober 1951 tersebut semakin terasah dengan baik saat Prabowo melanjutkan pendidikan sekolah menengahnya selama rentang waktu 1963 hingga 1964 di Zurich International School di Zurich dan tahun 1964-1967 di semacam SMA di American School di London, Inggris.

Prabowo pun segera menjadi salah satu murid paling cemerlang saat ia melanjutkan pendidikannya di Akademi Militer Nasional (Akmil) di Magelang, Jawa Tengah, sejak tahun 1970. Ia memilih karier di bidang militer sebab ada hubungannya dengan status kekeluargaannya. Paman Prabowo dan yang memiliki nama untuk inspirasi namanya adalah Soebianto Djojohadikoesoemo, seorang prajurit yang gugur dalam Pertempuran Lengkong.

Di Akmil, Prabowo satu angkatan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang saat dewasa berhasil menjabat dan mempertahankan posisi sebagai Presiden RI 2 periode berturut-turut untuk periode 2004-2009 dan 2009-2014.

Ada cerita menarik dibalik mengapa Prabowo bisa lulus di tahun 1974 sedangkan SBY  bisa lulus setahun sebelumnya walaupun mereka berdua satu angkatan. Cerita yang mengejutkan publik ini dibeberkan oleh Hermawan Sulistyo.

Hermawan adalah mantan Ketua Tim Investigasi Pencari Fakta Kerusuhan Mei 1998. Ia berkisah saat menghadiri diskusi publik yang digelar Imparsial bertajuk Masa Depan Penegakan HAM Pasca pemilu 2014" (Membedah Track Record, Visi dan Misi Capres Bidang HAM) di Jakarta tahun 2014 lalu.

Saat itu obrolan sedang membahas keraguan sikap SBY yang tak mau terang-terangan mendukung Jokowi tapi juga ragu memilih Prabowo. Menurut Hermawan, sikap tersebut berkaitan dengan pengalaman SBY selama di Akmil dulu yang ternyata pernah dipukuli oleh Prabowo.

Walaupun Prabowo pintar, tutur Hermawan, ia pernah tak naik kelas sebab mendapat hukuman atas tindakan indisiplinernya, yaitu kabur ke Jakarta bersama empat orang temannya. Saat itu Prabowo dikabarkan hendak menghadiri acara Titiek Soeharto (yang di kemudian hari menjadi istri Prabowo). Yang menghukum Prabowo tak lain adalah pimpinan Akmil saat itu, Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, ayah Ani Yudhoyono—istri SBY.

Kelindan konflik itu dianggap banyak orang sebagai gosip belaka. Tak lebih dari sekedar analisis ngawur seorang Hermawan yang memakai jurus cucoklogi untuk menghadapi kondisi politik yang sedang panas. Namun, ternyata bukan hanya cerita emosional itu yang menyangkut rekam jejak negatif Prabowo.

Prabowo pernah dikabarkan bertengkar hebat dengan BJ Habibie saat ia dicopot dari jabatan Panglima Kostrad karena nekad menggerakkan pasukan tanpa ada koordinasi dengan atasannya, Wiranto. Prabowo juga dikabarkan pernah diberi cuti oleh Mayor Luhut Panjaitan pada tahun 1983 yang saat itu dianggap stress hingga berencana mengadakan penculikan sejumlah petinggi militer, termasuk Jenderal LB Moerdhani, yang dituduhnya akan melakukan kudeta terhadap Presiden Soeharto.

Watak bela negara Prabowo juga sebanding dengan emosinya yang relatif tinggi. Keputusan-keputusannya saat di militer yang dinilai orang sebagai sebuah tindakan tegas, dan bahkan ada yang sampai melawan perintah atasan, di sisi lain juga memiliki resiko-resiko yang besar. Salah satunya adalah sampai mengorbankan nyawa orang-orang yang dianggap Prabowo sebagai “musuh negara”.

Akhirnya Prabowo pun terseret banyak kontorversi. Mulai dari dugaan keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis di akhir masa Orba, otak kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, konspirasi pembungkaman media kritis selama Orba, pelanggaran HAM di Timor Timur, hingga isu kudeta terhadap Presiden BJ Habibie.

Prabowo masih saja berkutat dengan isu-isu yang sama saat ia mencalonkan diri sebagai Presiden ke 7 RI di Pemilu 2014 lalu. Prabowo berang sekaligus capek saat pihak lawannya getol memakai isu yang sama untuk menjatuhkan citra dirinya.