Cara Gatot Nurmantyo Cari Panggung Sebelum Pensiun

Oleh: Mawa Kresna - 29 September 2017
Dibaca Normal 4 menit
Panglima TNI berkali-kali mencuri perhatian media dengan memakai sentimen agama, dalam hal ini Islam, dan kebangkitan "Komunis Gaya Baru".
tirto.id - Satu petang Sabtu, selepas Magrib, Sabilal Faqih berdandan rapi. Ia mengambil jaket, menyalakan sepeda motor, lantas tancap gas menuju rumah Amelia Rosadi, pacar sekaligus teman kuliahnya di salah satu kampus di Jakarta. Ia tiba sekitar 30 menit kemudian dari rumahnya di Cipayung ke rumah Amelia di Cijantung.

Amelia menunggu Faqih di ruang tamu, dengan dandanan rapi, berkerudung merah muda manis. Malam Minggu itu, pasangan ini punya janji kencan yang agak ideologis: menyambangi Taman Cijantung untuk nonton bareng film lawas Pengkhianatan G30S PKI yang digelar oleh TNI.

“Daripada nonton film yang aneh-aneh, mending nonton film ini,” kata Faqih.

Taman Cijantung berada di jantung keramaian: dekat dengan Mall Cijantung dan sejumlah gerai waralaba macam Starbucks dan McDonald's. Ia juga dekat dengan Markas Kopassus, kesatuan elite tempur dari TNI Angkatan Darat.

Amelia dan Faqih menjumpai orang-orang ramai. Mereka lesehan di depan dua layar yang telah disiapkan personel TNI. Ada yang menggelar tikar, ada yang hanya duduk tanpa alas. Faqih dan Amelia mencari tempat duduk di tengah.

Sebelum film diputar, para penonton disuguhi tiga video wawancara Presiden Joko Widodo dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Video pertama adalah tanggapan Jokowi tentang pemutaran film G30S dan usulan membuat film versi baru agar cocok dikonsumsi Generasi Milenial dan Generasi Z. Video kedua dan ketiga menayangkan wawancara ulang Gatot dengan wartawan dan saat ia menjadi narasumber dalam program "Indonesia Lawyers Club" di TV One, sebuah drama wicara yang dipandu oleh Karni Ilyas, pemimpin redaksi dari teve milik pengusaha-cum-politikus Aburizal Bakrie tersebut.

Saat ditanya wartawan untuk menanggapi rencana nonton bareng yang dimobilisasi oleh TNI, Gatot menjawab: “Yang berhak melarang saya hanya pemerintah."

Dalam video kedua, Gatot menegaskan apa yang disebut "ancaman kebangkitan PKI" bak di depan hidung, sebuah partai yang anggota dan simpatisannya telah diburu dalam pembunuhan kolosal dan sudah mati setengah abad lalu.

“Saya mengibaratkan seperti makanan, kita bisa merasakan itu asin, tapi tidak terlihat. Biarlah kami yang selalu mengamati dan kami tahu kapan kami bergerak,” ujar Gatot.

Video Gatot itu mendapat tepuk tangan dari beberapa penonton.

Bagi Generasi Z seperti Faqih dan Amelia, film G30S adalah barang baru. Faqih berkata ia mengetahui film itu saat masih di bangku sekolah, tetapi belum pernah menontonnya. Soal komunis, ia hanya tahu lewat pelajaran sejarah di sekolah. Ia kaget ketika menonton film itu, yang dibuat demi menunjukkan kekejaman Partai Komunis Indonesia.

Pada saat bersamaan, ia mengapresiasi ide film baru Jokowi, serta gagasan Gatot yang menggelar nonton bareng seperti ini.

“Biar anak-anak muda seperti saya ini juga tahu sejarah. Ini, kan, penting. Bagaimana kalau PKI muncul lagi?” ujar Faqih.

Sikap Kontroversial Gatot

Menjelang pensiun dari TNI pada Maret 2018, Jenderal Gatot Nurmantyo gemar jadi sorotan publik.

Ia kerap muncul dalam pemberitaan sejak gelombang protes massa di Jakarta dalam apa yang disebut "Aksi Bela Islam" di panggung Pilkada DKI Jakarta demi menggerus popularitas Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama. Gatot sering mendatangi kelompok muslim serta para ulama.

Hubungan erat Gatot dan kelompok muslim sempat bikin kontroversi. Dalam laporan investigasi Allan Nairn di The Intercept, dan diterjemahkan oleh redaksi Tirto, Gatot disebut menyetujui rencana penggulingan Presiden Jokowi lewat "Aksi Bela Islam."

Baca juga: Investigasi Allan Nairn: Ahok Hanyalah Dalih untuk Makar

Tudingan Nairn terang dibantah oleh Gatot. Pada kesempatan wawancara dengan Rosiana Silalahi di Kompas TV, Gatot berkata tersinggung jika "Aksi Bela Islam" disebut ditunggangi untuk kudeta.

Pada satu kesempatan lain, di tengah khalayak, Gatot menceritakan kedekatannya dengan seorang tokoh Islam yang disebutnya "ulama besar."

Suatu malam, ujar Gatot, ia menerima telepon dari ulama besar itu, yang merasa resah dengan keutuhan bangsa.

“Lho kenapa, Bib?” tanya Gatot.

“Kita perlu satukan bangsa kita ini. Kalau perlu sorban saya, saya ganti Merah-Putih,” jawab si ulama.

Gatot, yang semula bertanya-tanya, mengetahui soal berita yang menyebar ada oknum TNI yang menganiaya ketua FPI, Rizieq Shihab. Gatot langsung bertanya pada anak buahnya, tetapi tidak ada.

“Ternyata beritanya dari Australia dan New Jersey,” ujar Gatot, sebagaimana terdokumentasi dalam satu video di kanal YouTube.

Usai "Aksi Bela Islam," Gatot rutin bertemu dengan para ulama di pelbagai daerah. Pada November 2016, ia menghadiri istigasah bersama ulama dan masyarakat Sumatera Utara di Pangkalan Udara TNI AU Soewondo, Medan. Masih pada bulan yang sama, ia menerima kunjungan sejumlah ulama di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Infografik HL G30S PKI


Pada Juni 2017, Gatot mengadakan "safari Ramadan" bersama anggota TNI, ulama, dan masyarakat, di Lapangan Apel Yonif Para Raider 502/Ujwala Yudha, Malang, Jawa Timur. Ia turut juga dalam acara buka puasa bersama dengan jajaran kepala daerah—dari sipil, polisi, dan militer—atau biasa disingkat Muspida di Kota Tarakan. Acara ini juga diikuti oleh 1.000 anak yatim serta 4.000 serdadu di Islamic Center Tarakan, Kalimantan Utara. Ia juga mengunjungi santri dan ulama di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Masih di bulan yang sama, Gatot mengisi "ceramah kebangsaan" di Masjid Islamic Center, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Ia mengkritik bahwa demokrasi di Indonesia tidak sesuai dengan Pancasila dan Islam.

“Cara berdemokrasi itu harus sesuai dengan Islam, dengan cara kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijakan dalam permusyawaratan perwakilan. Jadi, musyawarah dan mufakat, bukan voting,” ujar Gatot.

Artinya, reformasi yang dijalankan Indonesia dengan pemilihan langsung dinilai Gatot sebagai kemunduran, dan pendapatnya itu mengingatkan 30 tahun pemerintahan Orde Baru ketika para pemimpin politik, dari presiden hingga gubernur, dipilih oleh legislator.

Bulan Agustus lalu Gatot menggelar kegiatan bernama "Tausiah Kebangsaan" di kawasan Bundaran Tugu Muda, Semarang. Pertengahan bulan September, Gatot lagi-lagi bersama ulama mendeklarasikan gerakan "Anti-Hoax" di Kota Serang, Banten.

Kunjungan itu belum termasuk lawatannya ke kampus-kampus sejak 2014 untuk membumikan isu "perang proxy." Saat itu ia masih menjabat sebagai Kepala Staf TNI AD.

Baca juga:

Jenderal Gatot dan Imajinasi Proxy War
Asal-Usul Jenderal Praetorian

Dalam sejumlah kesempatan itu, di antara hal lain, Gatot mengumandangkan apa yang ia sebut "peranan ulama dan umat muslim dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia."

Setelah isu "Aksi Bela Islam" meredup, dan sempat diisukan bakal diusung sebagai salah satu kandidat dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat pada 2018 mendatang, Gatot kembali mencuri panggung dengan isu "kebangkitan PKI." Ia memprakarsai mobilisasi nonton bareng film Pengkhianatan G30S PKI, dan diimbuhi dengan menyebarkan politik ketakutan mengenai "Komunis Gaya Baru alias KGB."

Seribu CD Bajakan dari Masjid

Nonton bareng atas instruksi Gatot Nurmantyo ini menginspirasi beberapa pihak untuk menggelar nonton bareng serupa di beberapa tempat, bahkan ada kelompok yang memproduksi CD film itu. Ini dilakukan oleh komunitas di Masjid Darussalam, Kota Wisata Cibubur.

Mulya Bakrie, Sekretaris Pengurus Masjid Darussalam, menceritakan ide mengganda CD film Pengkhianatan G30S PKI itu bermula dari kebutuhan dari masjid-masjid sekitar di daerah setempat. Mereka berencana nonton bareng tetapi tidak memiliki film tersebut.

Dua minggu lalu, mereka menggandakan seribu keping cakram padat untuk dibagikan kepada siapa saja yang berminat. Mulya dan teman-temannya melayani pengiriman ke luar daerah Jabodetabek dengan syarat ongkos kirim ditanggung pemesan.

“Kami menggandakan ada seribu, semuanya sudah habis,” kata Mulya, 25 September lalu.

CD itu dikemas dengan kover berjudul “Kisah-Kisah Perjuangan Umat Islam”. CD itu tidak hanya berisi film G30S, tetapi film lain seperti The Message (1977), Omar Mukhtar: Lion of The Dessert (1981), Kingdom of Heaven (2005), video ceramah Abdul Somad soal PKI, dan video instruksi dari Jenderal Gatot Nurmantyo.

“Sebenarnya film ada di YouTube. Kita juga download dari sana,” ujar Mulya mengenai sumber film yang mereka gandakan.

Sementara video Gatot dalam kopian cakram padat itu adalah materi yang sama seperti video yang diputar di Cijantung. Video itu pula yang disaksikan oleh Faqih dan Amelia, muda-mudi dari Generasi Z. Faqih lahir pada 1998, Amelia lahir pada 1997. Pada Pemilihan Presiden 2019 mendatang, mereka adalah pemilih pemula.

Baca juga artikel terkait PANGLIMA TNI atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Politik)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan