Aburizal Bakrie

Ketua Umum DPP Partai GOLKAR (2009 - 2014)
LahirJakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia, 15 November 1946
ProfesiKetua Umum DPP Partai GOLKAR (2009 - 2014)
Karier
  • Wakil Ketua Departemen Perdagangan, HIPMI (1973-1975)
  • Ketua Departemen Perdagangan HIPMI (1975)
  • Ketua Umum Gabungan Pabrik Pipa Baja Seluruh Indonesia (1976-1989)
  • Ketua Umum HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) (1977-1979)
  • Wakil Ketua Asosiasi Kerjasama Bisnis Indonesia – Australia (1984-1988)
  • Ketua Bidang Dana PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia) (1985-1993)
  • Anggota Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) – periode I (1988-1993)
  • Wakil Ketua Umum, KADIN Bidang Industri dan Industri Kecil (1988-1993)
  • Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (1989-1994)
  • Presiden ASEAN Business Forum (d/h Institute of South East Asian Business) – periode I (1991-1993)
  • Presiden ASEAN Business Forum (d/h Institute of South East Asian Business) – periode II (1993-1995)
  • Anggota Dewan Penasehat International Finance Corporation (1993-1995)
  • Anggota Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) – periode II (1993-1998)
  • Ketua Umum KADIN periode I (1994-1999)
  • Ketua Umum KADIN Kamar Dagang dan Industri Indonesia periode II (1999-2004)
  • Anggota Dewan Pakar ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) (2000-2005)
  • Anggota Dewan Penasehat DPP Partai GOLKAR (2004-2009)
  • Ketua Umum DPP Partai GOLKAR (2009-2014)
Pendidikan
  • Fakultas Elektro Institut Teknologi Bandung

Aburizal Bakrie lahir di Jakarta pada 15 November 1946. Perjalanan kariernya dimulai pada tahun 1972 saat ia bergabung dengan PT Bakrie & Brothers Tbk yang didirikan oleh Sang Ayah, Achmad Bakrie. Sekarang publik lebih mengenalnya dengan nama Bakrie Grup. Jabatan pertamanya adalah menjadi asisten Dewan Direksi dari tahun 1972 hingga 1974. Lalu lanjut pada tahun 1974 hingga 1982 ia naik jabatan menjadi wakil direktur PT Bakrie & Brothers. Jabatan puncak sebagai direktur utama ia raih pada tahun 1988 hingga 1992, jabatan yang sempat ia cicipi selama masa periode 1982 hingga 1988.


Selain menjabat posisi prestisius itu, ia juga menempati posisi sebagai direktur utama PT Bakrie Nusantara Coorporation dari tahun 1989 hingga 1992 dan Komisaris Utama Kelompok Usaha Bakrie dari tahun 1992 hingga 2004.


Bakrie Grup di bawah kepemimpinannya menjadi salah satu perusahaan paling garang sekaligus profitable di Indonesia. Banyak sekali bidang-bidang yang dirambah oleh Bakrie Grup. Antara lain adalah bidang pertambangan, kontraktor, telekomunikasi, informasi, industri baja, dan media massa. Khusus di bidang media massa ini, Bakrie memiliki kanal televisi TV One dan juga berinvestasi di jejaring sosial Path.


Bakat bisnis yang dimiliki Abu Rizal Bakrie amat mengagumkan. Prestasi bisnisnya juga mengagumkan. Tentu saja keuntungan yang didapat makin hari makin berlimpah. Majalah Forbes pada tahun 2006 mulai memasukkannya ke dalam daftar orang terkaya di Indonesia.
Pada tahun 2006 ia berada di posisi keenam dengan total kekayaan $ 1,2 miliar. Dan tak butuh waktu yang lama bagi Abu Rizal Bakrie untuk menduduki posisi pertama. Cukup satu tahun saja. Sebab pada 2007, kekayaan bersihnya mencapai angka $ 5, 4 miliar.


Data yang dirangkum oleh Majalah Globe Asia bahkan menyebut angka yang lebih fantastis. Pada tahun 2008 jumlah kekayaannya mencapai $ 9,2 miliar atau setara dengan Rp 84, 6 triliyun. Ia ditempatkan pada posisi orang terkaya di Asia Tenggara dengan mengalahkan Robert Kuok (orang terkaya di Malaysia dengan kekayaan $ 6,7 miliar), Chaleo Yoovidya (terkaya di Thailand dengan kekayaan $3,5 miliar), dan Jaime Zobel de Ayala (terkaya di Filipina dengan kekayaan $ 2 miliar).


Kekayaan yang meningkat pesat itu disebabkan oleh karena saham salah satu anak usaha PT Bakrie and Brothers (PT Bumi Resources Tbk atau BUMI) melesat naik dari Rp 300 per lembar pada tahun 2004 menjadi Rp 5.900 per saham di tahun 2007. Dalam pidatonya di atas podium, Abu Rizal Bakrie tak lupa untuk menyinggung resiko dari bisnis skala besar yang kadang akan dialami: kemungkinan rugi dan menumpuknya hutang.


Sejak tahun 2008 misalnya, majalah Forbes kembali merilis daftar orang terkaya di Indonesia, dan Abu Rizal Bakrie turun drastis ke posisi 9. Kondisi yang menyebabkan penurunan tersebut adalah krisis perbankan global yang berawal dari Amerika Serikat, jatuhnya harga-harga komoditas, dan hengkangnya para penanam modal. Saham perusahaan Bakrie mengalami penurunan hingga 90%.


Dinamika ekonomi Bakrie menunjukkan rasa optimis pada 2009 saat peringkatnya kembali naik ke posisi 4. Namun pada tahun selanjutnya peringkatnya kembali merosot ke posisi 10. Pada tahun-tahun setelahnya posisi Abu Rizal Bakrie makin parah. Pada 2011 ia menghuni posisi ke-30. Jumlah kekayaannya turun sebesar $ 1,2 miliar ata 5& persen. Dan salah satu titik terendah dalam hidupnya berada di tahun 2012 karena ia bahkan tidak lagi terdaftar di posisi 40 orang terkaya menurut Forbes.


Kondisi terakhir disebabkan karena utang yang harus dibayar oleh PT Bumi Resources. Harga saham BUMI terjun bebas hingga 70%.
Abu Rizal Bakrie, masih dalam pidatonya, mengungkapkan jika seberat apapun ujian dalam berbisnis jangan pernah lari darinya. Baik kisah sukses dan kisah gagal, dua-duanya adalah ujian. Ia menghadapi kesulitan-kesulitan ekonomi dengan tenang, sehingga ia punya energi untuk bangkit lagi.


Jika berbicara tentang hutang, ia teringat perkataan ayahnya. “Membayar hutang tidak akan membuat miskin. Kalau tidak bisa bayar hutang dengan uang, maka bayarlah dengan saham atau surat berharga,” katanya.


Abu Rizal Bakrie berkata benar. Barangkali yang luput ia paparkan dalam pidato itu adalah hal-hal lain diluar ekonomi yang turut membuat zaman keemasaanya meredup. Hal-hal lain itu tak bisa dilepaskan dari diri seorang Ical, sapaan akrabnya.


Salah satu yang paling mengganggu adalah bencana Lumpur Sidoarjo di tahun 2006. Bencana tersebut sedemikian parahnya hingga membuat 13.000 kepala keluarga kehilangan rumahnya. Bencana tersebut diduga oleh karena aktivitas pengeboran PT Lapindo Brantas di sumur eksplorasi gas Banjar-Panji-1 yang letaknya sekitar 150 m dari pusat semburan. Abu Rizal Bakrie terseret namanya sebab ia pemegang saham utama di perusahaan pengeboran tersebut.


Abu Rizal Bakrie akhirnya harus bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Bakrie Grup memutuskan untuk menjual PT Lapindo Brantas ke beberapa perusahaan, namun dapat dicegah oleh Badan Pengawas Pasar Modal (BPPM). Pada intinya, Lapindo Brantas diharuskan untuk membayar Rp 2 5 triliun kepada para korban plus sekitar Rp 1,3 triliun untuk menghentikan semburan.


Abu Rizal Bakrie juga pernah terseret kasus-kasu lainnya, seperti kasus tender operasi SLI, tunggakan royalty batu bara dan kasus pajak Bumi, suspense saham Bakrie, tunggakan asuransi jiwa, penambangan illegal Arutmin, perseteruan dengan Rothschild, dan lain sebagainya.
Kasus-kasus tersebut secara tak langsung berdampak pada sosok Abu Rizal Bakrie di mata masyarakat.