tirto.id - Presiden Prabowo Subianto mengakui pemerintahannya telah melakukan intervensi terhadap perusahaan aplikator teknologi transportasi daring (online). Langkah tersebut demi mendongkrak kesejahteraan pengemudi ojek online (ojol).
Prabowo mengklaim, melalui intervensi tersebut, pendapatan para pengemudi ojol mengalami kenaikan. Kenaikan pendapatan ini berasal dari turunnya potongan yang diterapkan aplikator.
"Tapi dengan rekomendasi pemerintah, saya nggak mau sebut intervensi, saya pakai istilah rekomendasi, tapi sebetulnya ya agak intervensi juga. Para pengemudi kita sekarang mendapatkan 92 persen [sebelumnya 80 persen] dari jerih payah mereka," kata Prabowo dalam pidato pengantar Sidang Bersama DPR dan DPD RI, di Gedung Nusantara, Jumat (14/8/2026).
Dorong Peran Ojol Jadi Jembatan UMKM
Prabowo bilang, intervensi pemerintah terkait pendapatan ojol tersebut, berkaitan dengan peran ojol dalam roda ekonomi UMKM. Ojol merupakan alat penghubung antara masyarakat dengan UMKM dalam proses transaksi ekonomi.
"Kita juga telah mengatur pembagian hasil yang lebih adil bagi pengemudi-pengemudi ojek online dan aplikator," ungkapnya.
Dirinya menambahkan melalui intervensinya kepada perusahaan aplikator, para pengemudi ojol melaporkan adanya kenaikan signifikan dalam pendapatannya.
"Dan banyak pengemudi melaporkan penghasilan mereka naik signifikan, ada yang naik dua kali, bahkan ada yang mengatakan dia naik tiga kali," terangnya.
Aktifkan 30 Ribu Koperasi Desa Merah Putih
Menyinggung kekuatan UMKM yang bersinggungan dengan ojol, Prabowo juga menyampaikan bahwa pemerintahannya akan segera mengaktifkan Koperasi Merah Putih di desa dan kelurahan. Dia menargetkan akan ada 30 ribu koperasi merah putih yang akan beroperasi di akhir 2026.
"Target kita 30 ribu koperasi beroperasi secara optimal pada akhir 2026, ini target, kita cantumkan target kita tinggi. Kita ingat kata-kata Bung Karno 'Gantungkan cita-citamu setinggi langit'" kata Prabowo.
"Target harus tinggi, bekerja keras, Insya Allah sampai," ujarnya.
Dia menambahkan melalui koperasi merah putih tersebut, seluruh produk pertanian dan UMKM yang ada di kelurahan dan desa dapat diserap dengan baik. Sehingga tidak lagi memunculkan isu produk pangan yang busuk akibat tak terakomodasi oleh pasar.
"Hasil panen yang rusak, karena tidak ada yang mau beli, karena tidak ada truk yang bisa mengambil panen tersebut. Mangga yang rusak, rambutan yang rusak, tomat yang rusak. InsyaAllah kita bisa bantu rakyat secara optimal," harapnya.
Penulis: Irfan Amin
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id




































