Menuju konten utama

Perang Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Sentuh US$115 per Barel

Gangguan besar terhadap pasokan energi dari kawasan ini berpotensi menaikkan harga minyak dan gas bagi konsumen dan bisnis di seluruh dunia.

Perang Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Sentuh US$115 per Barel
Suasana dari kapal tongkang akomodasi (Barge 222) Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Rabu (15/6/2022). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak global telah melonjak di atas 110 dolar Amerika Serikat (AS) per barel, di tengah memanasnya perang AS-Israel dengan Iran yang memicu kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan pada pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz.

Berdasarkan data Bloomberg hingga Senin (9/3/2026) sekitar pukul 11.05 WIB, kontrak West Texas Intermediate Crude Oil (WTI) untuk pengiriman April 2026 diperdagangkan di kisaran 115,25 dolar AS per barel, melonjak 24,35 dolar AS per barel atau sekitar 26,79 persen dibandingkan sesi sebelumnya.

Sementara itu, harga Brent Crude, yang menjadi acuan utama pasar minyak global, tercatat berada di level 115,82 dolar AS per barel untuk kontrak Mei 2026. Angka tersebut naik 23,13 dolar AS per barel atau sekitar 24,95 persen.

Seiring dengan terus memanasnya hubungan AS-Israel dengan Iran, sebagian besar aktivitas di Selat Hormuz, utamanya bagi kapal tanker, telah terhenti sejak pekan lalu. Padahal, sekitar seperlima dari pasokan minyak dunia biasanya dikirim melalui Selat Hormuz.

Gangguan besar terhadap pasokan energi dari kawasan ini berpotensi menaikkan harga minyak dan gas bagi konsumen dan bisnis di seluruh dunia.

Banyak orang di pasar memprediksi bahwa minyak akan mencapai angka 100 dolar AS per barel minggu ini. Pekan lalu, pasar relatif santai dengan skenario mimpi buruk jutaan barel minyak mentah dan gas alam cair yang terperangkap di Teluk, tidak mampu atau tidak mau transit di Selat Hormuz.

Namun, eskalasi selama akhir pekan, di samping adegan penghancuran infrastruktur energi baik di Iran maupun di seluruh Teluk, membuat pasar mengalami ketakutan.

Adnan Mazarei dari Peterson Institute for International Economics mengatakan, lonjakan harga minyak diperkirakan terjadi, mengingat bagaimana produksi telah dihentikan di beberapa negara Teluk dan tanda-tanda konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.

"Orang-orang menyadari bahwa ini tidak akan berakhir dengan cepat," katanya, menambahkan bahwa janji-janji asuransi dan tujuan yang ditetapkan oleh AS "menjadi lebih tidak realistis," tuturnya, dikutip BBC.

Kenaikan harga minyak juga dapat meningkatkan biaya produk turunan penting, seperti bahan bakar jet dan prekursor vital untuk pupuk.

Pasokan fisik dari Teluk terutama dikonsumsi oleh negara-negara di Asia. Namun, sudah ada tanda-tanda bahwa konsumen Asia menawar harga gas AS, dengan beberapa kapal tanker yang awalnya menuju Eropa berbalik arah di tengah Atlantik.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana