Menuju konten utama

Panik Harga Minyak Naik, Maskapai-Logistik Berebut Hedging

Lonjakan aktivitas hedging terlihat pada meningkatnya volume opsi beli terutama oleh perusahaan penerbangan, transportasi truk, dan pelayaran.

Panik Harga Minyak Naik, Maskapai-Logistik Berebut Hedging
Karyawan Pertamina mengecek kualitas bahan bakar Avtur sebelum disalurkan untuk pesawat di Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (4/7/2019). ANTARA FOTO/Umarul Faruq/wsj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kekhawatiran atas lonjakan harga minyak setelah agresi Amerika Serikat–Israel ke Iran mendorong maskapai penerbangan hingga perusahaan logistik memborong bahan bakar minyak melalui kontrak derivatif. Langkah ini ditempuh sebagai strategi lindung nilai (hedging) untuk menekan risiko kenaikan biaya operasional.

Para pedagang dan pialang menyebutkan permintaan terhadap kontrak derivatif meningkat sejak konflik mulai memanas. Meski demikian, pembelian dilakukan secara bertahap dan tidak seagresif langkah produsen energi yang sebelumnya berupaya mengunci harga di awal pekan ini.

Lonjakan aktivitas tersebut terutama terlihat pada meningkatnya volume opsi beli. Instrumen ini digunakan oleh perusahaan penerbangan, transportasi truk, dan pelayaran untuk melindungi diri dari potensi kenaikan harga lebih lanjut, seiring reli bahan bakar jet yang terus berlanjut dan telah mendorong harga di Eropa ke level tertinggi sejak 2022.

Direktur Keuangan Air New Zealand, Richard Thomson, mengatakan risiko geopolitik dan kebijakan masih tinggi bagi negara-negara penghasil minyak utama. Kondisi ini berkaitan dengan jalur transit minyak serta perdagangan minyak yang terkena sanksi.

"Ini berarti volatilitas dan ketidakpastian yang sedang berlangsung atas harga minyak dan margin kilang yang dapat mempengaruhi biaya bahan bakar kami, dan kami telah melihatnya dalam seminggu terakhir ini pada level yang meningkat baik untuk Brent maupun crack spread,” ucapnya seperti dilansir dari Bloomberg, Kamis (5/3/2026)

Thomson mengatakan perusahaannya merestrukturisasi sebagian posisi lindung nilai untuk Januari dan Februari dengan beralih dari kontrak berbasis Brent ke swap bahan bakar jet.

Swap memang lebih jarang diperdagangkan, tetapi instrumen ini dinilai memberikan perlindungan yang lebih efektif ketika terjadi lonjakan crack spread, yakni selisih antara harga minyak mentah dan harga bahan bakar jet.

Maskapai penerbangan kini dinilai semakin cermat dalam menerapkan strategi lindung nilai. Setelah beberapa kali merugi karena hanya mengandalkan lindung nilai berbasis Brent, sejumlah perusahaan mulai melindungi eksposur crack spread secara langsung. Pasalnya, fluktuasi margin kilang terbukti menjadi salah satu pendorong utama lonjakan harga bahan bakar jet.

Seorang pedagang derivatif yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, ada satu maskapai yang akhirnya terpaksa mengunci perlindungan pada harga tinggi pada Selasa pekan lalu.

Setelah berminggu-minggu menunggu harga yang lebih baik, perusahaan tersebut membeli kontrak lindung nilai di dekat puncak reli karena khawatir harga akan terus naik.

John Di Bert, wakil presiden eksekutif sekaligus direktur keuangan Air Canada, menegaskan bahwa strategi lindung nilai perusahaannya difokuskan pada jangka pendek.

"Tujuannya untuk memberikan perlindungan volatilitas terhadap pendapatan yang telah dipesan," jelasnya.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana