Menuju konten utama

Pemprov Jateng Jaga Stabilitas Harga via Gerakan Pangan Murah

Gerakan Pangan Murah merupakan salah satu ikhtiar Pemprov Jawa Tengah menstabilkan harga.

Pemprov Jateng Jaga Stabilitas Harga via Gerakan Pangan Murah
Upaya Pemprov Jateng Jaga Stabilitas Harga Lewat Program GPM. (FOTO/Pemprov Jawa Tengah)

tirto.id - Estimah merasa terbantu dengan adanya Gerakan Pangan Murah (GPM) yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk berbelanja.

“Ini beli beras, minyak goreng, dan telur,” kata dia saat mengikuti acara Gerakan Pangan Murah yang berlangsung di Kantor Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Senin (7/7/2025).

Warga Desa Kaliurip, Purworejo, itu mengaku senang bisa membeli bahan pangan pokok dengan harga yang lebih murah dari harga di pasar.

“Harganya miring sedikit dibanding di luar. Senang karena harga di luar mahal," imbuh Estimah dengan raut gembira.

Sepengetahuan Estimah, harga beras di pasar dengan tempat tinggalnya mencapai Rp14 ribu per kilogram. Sementara di acara Gerakan Pangan Murah hanya Rp11 ribu per kilogram.

Jika dikalikan, maka terdapat selisih harga beras mencapai Rp15 ribu, yang tentu terbilang tak sedikit. Sehingga, banyak warga yang aji mumpung, memborong. "Saya tadi beli 10 kilo," akunya.

Sesama warga Purworejo, Ina Soliha tak mau ketinggalan. Perempuan paruh baya ini rela antre demi bisa membeli pangan yang harganya lebih murah.

“Beli bawang sama terigu. Bawangnya setengah kilo Rp14 ribu, lumayan lebih murah dari harga pasar," tutur Ina Soliha yang berbicara sambil menggendong anaknya.

Penerima manfaat lain yang juga bernama Ina menyampaikan kegembiraannya bisa berbelanja di Gerakan Pangan Murah.

“Seneng banget ada pasar kaya gini. Harusnya harga pasar ikut harga kaya gini aja. Biar kita yang ekonominya agak rendah, nggak keberatan," ucap Ina yang tak berhenti menebar senyum.

Begitu pula dengan Catur Rahmawati. Dia merasa senang dengan Gerakan Pangan Murah. Apalagi akhir-akhir ini dia merasakan harga beras dan komoditas lain sedang merangkak naik di pasaran.

“Seneng ya, karena lumayan selisih harga beberapa ribu," ucap Catur sembari menenteng beras dan minyak yang baru ia beli.

Warga Kecamatan Bener, Purworejo itu berharap program yang diinisiasi Pemprov Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Ahmad Luthfi-Taj Yasin, dapat menekan lonjakan harga pangan.

“Supaya harga di pasaran ya ikut stabil, karena sekarang kan harga di pasaran naik terus,” imbuhnya.

Jaga Stabilitas Harga

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan, Gerakan Pangan Murah merupakan upaya pemerintah untuk merespons kenaikan harga beberapa bahan pokok, sekaligus menjaga keterjangkauan daya beli masyarakat.

Intervensi yang dilakukan Pemprov Jateng dalam kegiatan tersebut berupa subsidi harga senilai total Rp40 juta, dengan perkiraan omzet sebesar Rp300 juta.

“Intervensi pemerintah ini dalam rangka penetrasi harga agar terjangkau oleh masyarakat, kemudian inflasi kita bisa dijaga," kata Luthfi saat meninjau acara di Purworejo, Senin (7/7/2025).

Gerakan Pangan Murah yang berlangsung di Purworejo menjual beras seharga Rp11.000 per kilogram, di bawah harga beras di pasaran yang mencapai Rp13.500--Rp15.000 per kilogram.

Kemudian, minyak goreng dijual dengan harga Rp14.000 per liter dari harga pasaran Rp18.000 per liter. Gula pasir dijual Rp15.000 per kilogram, sedangkan harga di pasaran mencapai Rp17.500 per kilogram.

Sementara telur ayam ras dijual Rp24.000 per kilogram, di mana harga pasaran menyentuh Rp28.000 per kilogram. Cabai rawit merah yang harga normalnya Rp50.000 per kilogram, dijual Rp30.000 per kilogram.

Bawang putih di pasaran Rp36.000 per kilogram, di program ini dijual seharga Rp28.000 per kilogram. Bawang merah dari harga normal Rp50.000 per kilogram dijual menjadi Rp40.000 per kilogram.

Dalam acara tersebut, pemerintah menyediakan aneka komoditas pangan dengan rincian: 10 ton beras, 2.000 liter minyak goreng, 500 kilogram gula pasir, 1 ton telur, hingga 250 kilogram bawang putih.

Menurut Luthfi, Gerakan Pangan Murah ini penting untuk penetrasi harga agar tidak terjadi kelangkaan dan fluktuasi harga yang terlalu tinggi di masyarakat. Sebab, harga tinggi bisa mempengaruhi inflasi.

Komoditas volatile food seperti beras, memang tengah mengalami kenaikan harga. Penyebabnya, padi kini tidak dalam masa panen. Juga dipengaruhi tingginya permintaan masyarakat pada masa libur sekolah.

“Kenaikan harga kebutuhan pokok saat ini juga dipengaruhi oleh momen masuk sekolah. Oleh karena itu, negara harus hadir. Intervensi seperti ini akan kita jadikan role model di daerah lain,” kata dia.

Gerakan Pangan Murah Digelar di 11 Kota

Gerakan Pangan Murah merupakan salah satu ikhtiar Pemprov Jawa Tengah menstabilkan harga. Untuk itu, dalam pelaksanaannya menugaskan BUMD Jawa Tengah Agro Berdikari dan menggandeng Bulog serta pemerintah kota setempat.

Bahkan program itu turut melibatkan para pelaku usaha pangan seperti gapoktan/poktan/pelaku usaha pangan lainnya. Dengan harapan bisa mendapat harga dasar dan memotong panjangnya rantai distribusi sampai di tangan konsumen.

Gerakan Pangan Murah yang dilangsungkan di Kabupaten Purworejo berlangsung meriah. Masyarakat tampak antusias memburu bahan pangan yang harganya miring.

Melihat antusiasme masyarakat, Gubernur Luthfi sudah meminta kepada dinas dan stakeholder terkait untuk meningkatkan kegiatan. Gerakan Pangan Murah akan dijadikan role model penetrasi harga.

“(Masyarakat) ramai sekali. Dari pagi ramai sekali, lihat saja. Ini menjadi role model untuk kita gerakkan di sebelas kabupaten/kota, tidak hanya Purworejo,” tegas Lutfi.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Dyah Lukisari, menjelaskan, Gerakan Pangan Murah akan diadakan maraton pada 7--13 Juli 2025 di 11 kabupaten/kota.

Lokasinya di Kota Pekalongan, Kabupaten Brebes, Sukoharjo, Kudus, Tegal, Rembang, Boyolali, Kota Surakarta, Pati, Kendal, dan Purworejo.

Dyah mengungkapkan, pemilihan lokasi Gerakan Pangan Murah didasarkan pada wilayah yang bukan merupakan sentra penghasil beras. Masing-masing daerah dijatah 10 ton beras.

Menurutnya, program ini dilakukan agar masyarakat bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Mengingat, harga beras naik akibat belum masuk musim panen dan pembelian pemerintah terhadap gabah kering panen (GKP) mengalami penyesuaian harga.

“Jadi 11 kabupaten/kota yang dipilih karena saat ini nilai tukar petaninya turun. Apalagi, sekarang harga pangan lain seperti hortikultura (buah, sayuran, tanaman hias) turun. Pendapatan petaninya turun, namun harga beras naik,” kata dia.

Selain Gerakan Pangan Murah, Pemprov Jawa Tengah juga menggerakkan Satgas Pangan untuk mewujudkan swasembada pangan.

Tahun lalu, keberhasilan Pemprov Jawa Tengah menjaga stabilisasi pasokan dan harga pangan diganjar dua penghargaan dalam ajang Badan Pangan Nasional (Bapanas) Award 2024.

Penghargaan pertama, Pemprov Jawa Tengah dinobatkan sebagai Penyelenggara Gerakan Pangan Murah (GPM) Tingkat Provinsi Terbaik II.

Sedangkan penghargaan kedua diberikan kepada Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah untuk kategori Integrasi Data Pangan Inovatif pada aplikasi Sislogda.

Baca juga artikel terkait HARGA PANGAN atau tulisan lainnya dari Baihaqi Annizar

tirto.id - News Plus
Kontributor: Baihaqi Annizar
Penulis: Baihaqi Annizar
Editor: Abdul Aziz