tirto.id - Penerapan mandatori campuran biodiesel 50 persen pada bahan bakar solar (B50) mulai memengaruhi pasar mobil diesel. Bahkan sebelum kebijakan itu resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (9/7/2026), sebagian pedagang mobil bekas sudah lebih dulu mengurangi stok kendaraan diesel karena khawatir permintaannya merosot.
Nadir (28), pemilik showroom mobil bekas di Jawa Timur, termasuk salah satunya. Dalam beberapa waktu terakhir, ia sengaja tidak lagi menampung mobil diesel bekas untuk dijual kembali. Menurut dia, penyebab utamanya bukan semata hadirnya B50, melainkan ketidakpastian mengenai kecocokan seluruh kendaraan diesel terhadap campuran biodiesel tersebut dalam jangka panjang.
Ketidakjelasan itu, kata Nadir, membuat baik pedagang maupun calon pembeli sama-sama mengambil posisi menunggu.
"Kalau penjualan mobil diesel ya pasti bakal menurun. Cuma kan kita belum tahu implementasi ke depannya di lapangan seperti apa. B50 ini bisa tidak menjamin bahwa mobil diesel ini akan bertahan," ucapnya kepada Tirto.
Bagi Nadir, mengambil stok mobil diesel saat ini justru menjadi langkah berisiko. Jika nantinya implementasi B50 memicu penurunan minat masyarakat, kendaraan tersebut berpotensi sulit dijual.
Di luar persoalan kompatibilitas, ia juga melihat biaya penggunaan mobil diesel semakin menjadi pertimbangan konsumen. Antrean Biosolar, kewajiban menggunakan kode QR, serta harga Dexlite dan Pertamina Dex yang semakin mahal membuat sebagian calon pembeli mulai melirik kendaraan listrik.
"Kalau orang-orang kan pasti berpikir, kalau bayar Biosolar pasti juga antre. Terus ribet pakai QR. Pertamina Dex sama Dexlite harganya juga naik. Orang-orang juga pasti berpikir juga, ya ke listrik lah," imbuhnya.
Perubahan preferensi itu sudah ia rasakan dalam penjualannya. Sepanjang Januari hingga Juli tahun ini, Nadir hanya berhasil menjual satu mobil diesel, yakni Toyota HiAce yang dibeli sebuah pondok pesantren untuk mengangkut santri. Selebihnya, permintaan lebih banyak mengarah ke mobil bermesin bensin.
Karena itu, ia kini memilih memperbanyak stok kendaraan di bawah Rp300 juta seperti Honda Brio, Honda Jazz, Nissan Juke, Mitsubishi Mirage, Wuling, serta Toyota Innova bensin. Sebaliknya, model diesel seperti Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero mulai ia hindari, meski sebelumnya termasuk produk yang laris.
"Sekarang saya masih meninggalkan mobil diesel, enggak ngeborong dulu. Karena melihat pasarnya sudah jelek. Jadi, tidak perlu diambil risiko. Nanti kalau tidak laku, ya gimana?" kata Nadir.

Padahal, Nadir sendiri merupakan pengguna Toyota Fortuner diesel.
"Fortuner, Pajero sebenarnya sudah agak menghindari saya. Soalnya, ya itu, sebetulnya kalau ngomongin pribadi, saya pemakai Fortuner juga, cuma ya mau bagaimana. Nanti siap rugi nantinya kalau dijual," tuturnya.
Ia berharap pemerintah tidak terburu-buru menjalankan kebijakan B50 tanpa memastikan kesiapan kendaraan maupun masyarakat. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan harga bahan bakar tetap terjangkau sekaligus memberikan kepastian mengenai kendaraan yang kompatibel dengan B50. "Jadi pemerintah harus benar-benar jeli melihat kebutuhan masyarakat seperti apa," tegas Nadir.
Pengalaman serupa dirasakan Guruh, penjual mobil bekas di Jakarta yang memasarkan kendaraannya melalui Instagram, Facebook, dan WhatsApp.
Pada 2025, mobil diesel bekas seperti Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, dan Toyota Innova diesel masih menjadi salah satu komoditas yang paling banyak dicari. Namun situasi mulai berubah ketika pembahasan mengenai penerapan B50 semakin ramai.
Alih-alih langsung menawar harga atau menanyakan kondisi kendaraan, calon pembeli kini lebih dulu mempertanyakan apakah mobil diesel aman menggunakan B50. Guruh mengaku tidak bisa memberikan jawaban pasti karena bukan produsen kendaraan. Ia hanya dapat menjelaskan riwayat perawatan mobil dan menyarankan pembeli berkonsultasi ke bengkel resmi.
"Memasuki 2026, apalagi setelah ramai pembahasan B50, orang jadi lebih banyak nanya daripada beli."
Akibatnya, proses transaksi menjadi jauh lebih panjang. Banyak calon pembeli memilih menunggu perkembangan implementasi B50 sebelum memutuskan membeli mobil diesel bekas.
Menurut Guruh, pasar mobil diesel sebenarnya belum jatuh drastis. Namun, ketidakpastian mengenai kompatibilitas B50 membuat konsumen lebih berhati-hati.
"Menurut saya, pasar diesel bekas belum sampai anjlok, cuma orang jadi lebih hati-hati. Yang tadinya satu bulan bisa laku 1-2 unit, sekarang bisa lebih lama karena pembeli masih nunggu perkembangan," akunya.
Ia melihat kekhawatiran paling besar muncul pada mobil diesel berusia lebih tua. Sebaliknya, kendaraan keluaran baru dinilai masih memiliki peluang selama produsen memberikan kepastian mengenai penggunaan B50.

Perubahan perilaku konsumen juga terlihat saat proses inspeksi kendaraan. Pembeli kini jauh lebih teliti sebelum bertransaksi. "Pembeli sekarang juga lebih kritis. Mereka minta video mesin hidup, minta rekaman asap knalpot, minta riwayat servis, sampai minta dicek pakai scanner," ucap Guruh.
Karena itu, Guruh berharap pemerintah tidak hanya mengumumkan implementasi B50, tetapi juga memberikan edukasi yang memadai serta membuka daftar kendaraan yang telah dinyatakan kompatibel dengan B50. Menurutnya, kepastian informasi jauh lebih penting dibanding sekadar peluncuran kebijakan.
"Kalau memang ada daftar kendaraan yang sudah diuji dan dinyatakan kompatibel, sebaiknya diumumkan secara jelas. Itu bisa mengurangi kekhawatiran pembeli dan penjual. Soalnya yang paling berbahaya buat pasar itu bukan cuma masalah teknis, tapi ketidakpastian," tuturnya.
Meski pelaku pasar mobil bekas mulai mengurangi stok kendaraan diesel akibat ketidakpastian implementasi B50, data penjualan nasional belum memperlihatkan pelemahan serupa.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang dirangkum PT Astra International menunjukkan penjualan sejumlah merek dengan portofolio kendaraan diesel yang kuat justru masih tumbuh pada semester I 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu. Penjualan Isuzu meningkat dari 11.275 unit menjadi 13.890 unit atau naik sekitar 23,2 persen.
Sementara Mitsubishi—yang juga memiliki lini kendaraan diesel seperti Pajero Sport, Triton, L300, serta truk Fuso—mencatat kenaikan dari 42.523 unit menjadi 50.123 unit atau tumbuh sekitar 17,9 persen. Adapun penjualan Toyota juga naik dari 124.843 unit menjadi 134.520 unit sepanjang Januari-Juni 2026.
Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (USU), Tulus Burhanuddin Sitorus, menyebutkan bahwa B50 sebenarnya layak digunakan untuk kendaraan diesel dan genset.
Uji teknis B50 sendiri telah dilakukan pada enam sektor utama seperti otomotif, alat berat pertambangan, alat pertanian, perkapalan, genset atau pembangkit listrik, dan perkeretaapian.
Kesimpulannya, jelas Tulus, sekitar 80-90 persen parameter uji menunjukkan hasil baik, dan pada alat berat dengan sekitar 900-1.000 jam operasi, belum ditemukan gangguan signifikan. Namun menurut dia, hasil positif tersebut tidak otomatis menjadi jaminan untuk semua mesin di semua kondisi operasi.
"B50 layak diterapkan, tetapi harus dikawal melalui kontrol mutu dan pemantauan teknis yang ketat.”katanya di Medan, seperti dikutip Antara Jumat (10/7/2026).
Ia juga menegaskan bahwa oopulasi mesin diesel di lapangan sangat beragam dari sisi usia, teknologi injeksi, kebersihan tangki, kondisi filter, material selang karet, serta pola operasi. Karena itu, B50 dapat dinilai layak digunakan, tetapi bukan berarti tanpa kebutuhan pemantauan.
“B50 aman sepanjang memenuhi spesifikasi, didistribusikan dengan benar, dan digunakan pada mesin yang dirawat sesuai standar," tegasnya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




























