tirto.id - Kebijakan pemerintah mendorong penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis B50 atau campuran 50 persen biodiesel, dinilai memiliki sisi positif bagi lingkungan. Namun, di balik manfaat tersebut, pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengingatkan adanya risiko teknis jika digunakan di kendaraan bermesin diesel tua.
Yannes menjelaskan, B50 secara teknis memang berpotensi menurunkan emisi gas beracun seperti karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon secara signifikan. Kandungan oksigen alami dalam B50 membantu proses pembakaran lebih sempurna, sehingga asap knalpot dari kendaraan lama pun cenderung lebih rendah.
"Oksigen ini membantu proses pembakaran menjadi lebih sempurna, sehingga gas beracun seperti CO dan asap hitam berkurang," ujar Yannes kepada Tirto, Kamis (2/7/2026).
Kendati demikian, ia menekankan bahwa mesin diesel berusia tua memiliki kerentanan khusus terhadap B50. Masalah utamanya terletak pada sifat pelarut B50 yang jauh lebih kuat dibandingkan solar biasa. Sifat ini dapat melarutkan endapan kotoran kental yang telah menumpuk bertahun-tahun di tangki, saluran, dan filter bahan bakar.
"Mesin diesel yang lebih tua biasanya lebih sensitif terhadap B50 dan memerlukan penggantian filter solar yang lebih sering,” jelasnya.
Ia memperingatkan, jika endapan tersebut terlepas dan mengalir bersama bahan bakar, risiko penyumbatan pada filter dan injektor sangat tinggi. Untuk itu, Yannes merekomendasikan sejumlah langkah antisipasi sebelum pemilik kendaraan beralih ke B50 secara penuh.
Pertama, pemilik kendaraan disarankan membersihkan tangki. Kedua, gunakan filter bahan bakar berkualitas tinggi dan ganti lebih sering dari jadwal rutin. Ia juga mengingatkan untuk memastikan material karet alam pada komponen diganti dengan karet sintetik yang tahan terhadap B50 guna mencegah kebocoran.
Ketiga, pemasangan water separator (pemisah air) dengan efisiensi penyaringan lebih tinggi menjadi keharusan. Menurut Yannes, B50 lebih mudah menyerap air dibandingkan solar biasa. Jika air tidak terpisah dengan baik, risiko korosi dan kavitasi atau gelembung uap pada pompa injeksi tekanan tinggi dapat mempercepat kerusakan komponen logam.
Keempat, ia menganjurkan penggunaan aditif yang diformulasikan khusus untuk biodiesel. Aditif ini berfungsi meningkatkan stabilitas oksidasi, mengurangi korosi, dan menjaga kestabilan bahan bakar saat disimpan di tangki dalam waktu lama.
Kelima, pemilik kendaraan modern disarankan melakukan remapping atau pembaruan software injeksi. Hal ini agar sistem injeksi sesuai dengan karakteristik B50 yang memiliki nilai kalor lebih rendah, sehingga performa mesin tetap terjaga dan terhindar dari munculnya asap berlebih.
"Lakukan remapping atau update software injeksi agar sesuai dengan karakteristik B50 untuk mengkompensasi nilai kalor yang lebih rendah, menjaga performa mesin, emisi, dan mencegah over-fueling atau asap berlebih," tutur Yannes.
Meski demikian, Yannes menegaskan bahwa peringatan ini bukan bentuk penolakan terhadap kebijakan B50. Ia menilai B50 memiliki manfaat lingkungan yang nyata, namun kesiapan teknis kendaraan—terutama yang sudah berusia di atas 10 tahun—harus menjadi perhatian serius agar transisi energi berjalan mulus tanpa mengorbankan kantong pemilik kendaraan.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id







































