tirto.id - Seiring berjalannya waktu, ancaman kelangkaan pangan kian nyata. Perubahan iklim mengacaukan pola musim tanam dan masa panen serta memperburuk kekeringan di berbagai wilayah. Pada saat sama, laju pertumbuhan penduduk terus mendorong permintaan pangan.
Menurut laporan Food and Agriculture Organization (FAO), permintaan pangan global akan terus meningkat seiring bertambahnya populasi dan meningkatnya pendapatan masyarakat. Kebutuhan makanan diperkirakan akan mencapai sekitar 3 miliar ton pada 2050. Dalam periode sama, populasi dunia diproyeksikan naik dari 6,8 miliar menjadi 9,1 miliar jiwa. Artinya, umat manusia harus memproduksi sekitar 70 persen lebih banyak pangan untuk memberi makan 2,3 miliar orang tambahan.
Namun, di tengah meningkatnya permintaan akan pangan, kemampuan bumi memproduksi pangan justru makin lemah. Sekitar sepertiga lahan subur di dunia mengalami degradasi. Kualitas dan kemampuannya dalam menghasilkan pangan menurun.
Achim Steiner, Administrator United Nations Development Programme (UNDP), memperkirakan bahwa setiap tahun, dunia kehilangan sekitar 12 juta hektar tanah produktif. Jika dikomparasi dengan rata-rata hasil panen gandum global yang mencapai 3,5 ton per hektar, kerugian tersebut setara dengan hilangnya lebih dari 42 juta ton pangan setiap tahun. Jumlah ini cukup untuk memberi makan jutaan orang.
Jika laju degradasi tanah terus berlanjut, upaya manusia untuk mencukupi kebutuhan pangan dunia akan makin sulit diwujudkan. Maka dari itu, perlu alternatif pangan pendukung untuk mengurangi ketergantungan pada sumber pangan darat yang kian rusak dan terbatas.
Pangan Biru, Alternatif Pangan Masa Depan
Berbagai laporan terbaru menunjukkan bahwa masa depan pangan tidak semata bergantung pada daratan. Laporan berjudul The Future of Food from the Sea (2021) menyoroti besarnya potensi pangan biru
Pangan biru adalah sumber pangan yang berasal dari laut dan perairan. Altenatif ini dinilai sebagai solusi berkelanjutan bagi ketahanan pangan global. Laut bukan hanya rumah bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga sumber protein penting yang relatif rendah emisi.
Dalam laporan itu, Christopher Costello dan rekannya memperkirakan, produksi pangan dari laut dapat meningkat pesat. Hingga 2050, jumlahnya berpotensi bertambah antara 21 hingga 44 juta ton, atau naik sekitar 36 hingga 74 persen dibandingkan tingkat produksi saat ini.

Pangan biru (khususnya hewan laut) memiliki jejak karbon empat kali lebih rendah dibanding daging sapi. Tak hanya ikan, berbagai jenis pangan biru lain, misalnya kerang, menunjukkan manfaat lingkungan yang signifikan. Budidaya kerang dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. Pengurangan emisi itu terjadi lewat mekanisme penyerapan karbon melalui proses fisiologis alami.
Di sisi lain, potensi pangan biru tidak berhenti sebagai ketahanan pangan global. Sebagai ilustrasi, di banyak negara berkembang, tantangan lain yang tak kalah mendesak adalah stunting.
Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) pada 2022, sekitar 148 juta anak di bawah usia lima tahun di dunia mengalami stunting. Pangan biru dinilai dapat menjadi jawaban masalah itu.
Sumber daya pangan biru menawarkan solusi potensial. Berbagai studi menunjukkan bahwa ikan bukan hanya sumber protein berkualitas tinggi, tetapi juga kaya akan mikronutrien esensial.
Misalnya, studi yang terbit di jurnal Food Policy (2016) menegaskan, ikan menyediakan nutrisi penting, seperti kalsium, zat besi, dan vitamin. Semuanya berperan langsung mendukung perkembangan tubuh dan otak anak.
Selain itu, peningkatan produksi pangan biru secara berkelanjutan berpotensi menurunkan harga hasil laut hingga 26 persen. Peningkatan produksi pangan biru secara berkelanjutan dapat dilakukan dengan cara investasi di bidang akuakultur dan pengelolaan perikanan yang lebih baik.
Dengan demikian, pangan biru tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga memperluas akses pangan bagi keluarga berpenghasilan rendah.
Hambatan Pengembangan Pangan Biru
Meski menjanjikan solusi ketahanan pangan masa depan, pengembangan pangan biru menghadapi berbagai hambatan. Banyak penelitian internasional terbaru menunjukkan, potensi laut sebagai sumber pangan berkelanjutan hanya dapat terwujud jika tantangan-tantangan mendasar diatasi secara sistematis.
Laporan FAO mencatat, pada 2019, proporsi stok ikan yang berada pada tingkat keberlanjutan hanya menyentuh angka 64,6 persen, turun 1,2 persen dibanding proporsi pada 2017.
Sebaliknya, persentase stok ikan yang dieksploitasi secara tidak berkelanjutan terus meningkat. Eksploitasi ikan berlebihan (overfishing) meningkat dari hanya 10 persen pada 1974 menjadi 35,4 persen pada 2019. Artinya, lebih dari sepertiga stok ikan dunia kini telah ditangkap melampaui kemampuan alam untuk memulihkannya. Kondisi ini mengancam kelangsungan berbagai spesies dalam rantai makanan laut.
Di sisi lain, overfishing diperparah dengan praktik yang tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan jaring pukat. Artikel dalam Frontiers in Ocean Sustainability (2024) menjelaskan, sistem pangan biru menghadapi tekanan lingkungan berat, mulai dari emisi gas rumah kaca hingga kerusakan habitat laut akibat metode tangkap destruktif.
Metode tangkap destruktif yang dimaksud itu termasuk penggunaan metode bottom-trawling. Metode itu dilakukan dengan menyeret jaring berbobot atau alat berat menyusuri dasar laut, tanpa seleksi. Akibatnya, banyak organisme non-target ikut tertangkap.
Lebih parah lagi, di beberapa wilayah pesisir, praktik destruktif seperti pengeboman ikan (blast-fishing) masih dijumpai. Metode ini menyebabkan kerusakan ekosistem laut yang jauh lebih besar.
Lebih jauh, meningkatnya pencemaran laut juga menjadi tantangan terhadap keberlanjutan pangan biru. Studi berjudul “Microplastic Toxicity in Fish: A Potential Review on Sources, Impacts, and Solution,” yang diterbitkan di Jurnal Aquatic Toxicology (2025) mengungkapkan, mikroplastik telah menjadi ancaman nyata bagi ekosistem laut.
Studi tersebut menjelaskan bahwa ikan dapat menelan mikroplastik melalui rantai makanan. Partikel-partikel plastik menimbulkan berbagai gangguan fisiologis pada ikan, termasuk perubahan perilaku.
Penelitian itu juga menemukan bahwa mikroplastik dapat terakumulasi dalam jaringan tubuh ikan yang dikonsumsi manusia. Kondisi tersebut menimbulkan risiko kesehatan karena mikroplastik membawa bahan kimia beracun.
Dengan segala potensi dan tantangan yang dimilikinya, pangan biru mencerminkan harapan baru bagi masa depan ketahanan pangan global. Optimalisasi pangan biru menuntut keseimbangan antara produksi dan konservasi. Apabila dikelola dengan prinsip keberlanjutan, pangan biru dapat menjawab krisis pangan dunia di masa mendatang.
Penulis: D'ajeng Rahma Kartika
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id






























