tirto.id - Riani (26) nyaris kewalahan dengan target yang diterapkan bos barunya di kantornya saat ini. Tugas yang tak konsisten dan peraturan yang berubah-ubah membulatkan tekadnya untuk segera mengajukan resign (pengunduran diri) dan pindah ke tempat yang direkomendasikan temannya. Meski tak terjamin lebih baik, setidaknya gaji di tempat barunya lebih besar daripada yang diperolehnya saat ini.
Riani menyebut kantornya saat ini menerapkan gaya kerja ‘toxic’ karena tidak pernah ada ruang diskusi di setiap kebijakan baru. Kemudian, setiap argumen yang diberikan dianggap sebagai penentangan dan ciri bawahan yang tak bisa diajak bekerja tim. Setidaknya, berbekal dua tahun bekerja, Riani merasa sudah cukup mengerti dan bisa disebut berpengalaman di bidangnya.
Meskipun merasa senang karena akhirnya bisa meninggalkan kantornya saat ini, Riani tetap merasa sedih. Lingkungan kerja di kantor itu sangatlah cocok dengannya yang tengah gencar menabung untuk studi S2-nya ke luar negeri. Teman-teman yang ambisius, tapi bijak, tidak gemar flexing, bergaya sesuai kemampuan, hingga tenggang rasa membuatnya berat meninggalkan. Akan tetapi, apa boleh buat, dia sudah tidak kuat dengan tekanan kerja yang diberikan bosnya.
“Aku tetap berharap gaya kerja di kantor ini bisa berubah lebih baik sih, sayang banget sumber dayanya potensial ga dimanfaatkan,” katanya bercerita kepada Tirto, Selasa (14/7/2026).
Sebagai karyawan swasta, Riani tidak memiliki target sampai kapan dia mau bekerja dalam masa produktifnya. Perempuan yang kini tinggal ngekos di Jakarta Selatan itu hanya percaya bahwa dia juga pantas bekerja selayaknya setiap manusia yang bebas melakukan apa yang menjadi haknya.
Tak jauh berbeda dari Riani, Wasti juga merasakan hal yang sama. Selama empat tahun dia bekerja di industri kreatif, sudah dua kali dia berpindah kantor. Keputusan berpindah perusahaan kemarin lebih didorong oleh pertimbangan kesejahteraan.
Dia menilai perusahaan barunya menawarkan peningkatan manfaat yang lebih baik, seperti pembayaran tunjangan hari raya (THR) secara penuh, bonus tahunan, serta peluang menjadi karyawan tetap yang lebih terbuka. Di tempat kerja sebelumnya, THR tidak dibayarkan penuh, tidak ada bonus tahunan, dan proses pengangkatan sebagai karyawan tetap dinilai cukup sulit.
Meski demikian, dia menyadari bahwa peningkatan gaji tidak selalu diikuti dengan lingkungan kerja yang lebih baik. Saat berpindah ke tempat lain, gajinya memang sedikit lebih tinggi. Akan tetapi, perempuan yang juga ngekos di daerah Jakarta Selatan ini menilai suasana dan tantangan di lingkungan kerja tidak jauh berbeda dengan perusahaan sebelumnya.
Kini, dia memilih untuk melakukan career break, menikmati masa menganggurnya dengan melakukan hal-hal yang dia inginkan. Ke depan, Wasti berencana untuk bekerja lagi dan akan memilihnya secara lebih selektif.
"Sebagai Gen Z, saya loyal kok. Yang bikin pindah ya karena merasa enggak sesuai saja. Saya kerja untuk mencari penghasilan. Kalau itu enggak didapat, waktu habis dan hidup jalan di tempat, ya buat apa terus bertahan," ujarnya.
Fenomena Resign sebelum Pensiun
Bagaimana Riani dan Wasti berpindah-pindah dalam pekerjaannya sepertinya juga dirasakan oleh banyak pekerja di Indonesia saat ini. Menurut hasil survei Michael Page pada 2024, sebagaimana dikutip dari penelitian Menahan Niat Resign di Generasi Z: Peran Empowering Leadership dan Empowerment dalam Hubungan Beban Kerja dan Turnover Intention yang dituliskan Keisha & Samian (2025), Indonesia menjadi negara dengan tingkat keterbukaan tertinggi di Asia terhadap peluang kerja baru. Sebanyak 96 persen responden menyatakan terbuka untuk menerima kesempatan kerja di tempat lain. Dengan kata lain, hanya kurang dari satu dari sepuluh karyawan yang diperkirakan akan tetap bertahan di perusahaan tempat mereka bekerja saat ini.Tingginya mobilitas tenaga kerja itu sejalan dengan meningkatnya angka perpindahan kerja. Michael Page mencatat tingkat perpindahan karyawan di Indonesia naik dari 14 persen pada 2021 menjadi 23 persen pada 2022.
Di antara seluruh kelompok usia, Generasi Z menjadi kelompok yang paling banyak menyatakan keinginan untuk meninggalkan pekerjaannya. Survei Gallup pada 2025 mencatat sebanyak 54 persen pekerja Gen Z memiliki niat untuk resign.
Temuan serupa juga ditunjukkan Deloitte dalam surveinya pada 2022 yang menyebut sekitar 46 persen Gen Z berencana meninggalkan pekerjaannya dalam dua tahun ke depan.
Selama ini, fenomena job hopping atau kondisi di mana karyawan berpindah-pindah kerja dalam periode waktu singkat terlihat seperti hanya banyak dilakukan karyawan swasta. Sebab, publik masih menilai pekerjaan aparatur sipil negara (ASN) adalah pekerjaan yang paling aman dengan gaji tetap, jenjang karier jelas, hingga jaminan pensiun.

Namun, ternyata sebagian ASN tetap memiliki rencana mengundurkan diri jauh sebelum memasuki usia pensiun. Sebagian di antaranya masih berada pada fase awal hingga pertengahan karier.
Dalam artikel yang dimuat Tirto pada (12/7/2026) lalu misalnya, seseorang bernama Jaya (bukan nama sebenarnya), tengah mempertimbangkan untuk mengundurkan diri atau resign. Padahal, dia telah bekerja di sebuah kementerian selama 12 tahun.
Pengunduran itu disebabkan karena Jaya merasakan tidak berkembang dalam kariernya. Dia mengerjakan pekerjaan yang sejak awal tidak sejalan dengan latar belakang pendidikannya. Padahal, demi meningkatkan kapasitasnya, Jaya rela menempuh pendidikan magister di luar negeri melalui program beasiswa dari kementerian tempatnya bekerja.
“Saya juga agak menyesal pulang ke Indonesia. Kalau tahu saya dibeginikan, lebih baik saya enggak balik ke Indonesia,” katanya kepada Tirto.
Dia mengaku tengah meningkatkan keterampilan agar dapat memperoleh pekerjaan jarak jauh di perusahaan luar negeri. Jika kesempatan itu datang dan karier barunya telah lebih mapan, dia berencana mengajukan pengunduran diri secara resmi sebagai ASN.
Pada data BKN, sebanyak 2.722 ASN mengajukan pemberhentian atas permintaan sendiri (APS) sepanjang semester I 2026. Jumlah tersebut terdiri atas 1.197 PNS (44 persen), 1.146 PPPK Paruh Waktu (42 persen), 227 PPPK (8 persen), dan 152 CPNS (6 persen).
Berdasarkan masa kerja, mayoritas ASN yang mengundurkan diri justru berasal dari kelompok pegawai yang relatif belum lama bekerja. Sebanyak 58 persen ASN yang mengajukan APS memiliki masa kerja 0-5 tahun.
Perubahan Zaman Ciptakan Arah Lain Motivasi Bekerja
Fenomena Generasi Z yang lebih mudah berpindah pekerjaan harus dilihat dari perubahan kondisi sosial, ekonomi, teknologi, serta budaya kerja.Generasi Baby Boomers dan sebagian Generasi X tumbuh pada masa ketika lapangan pekerjaan relatif lebih stabil. Kondisi tersebut membuat pekerjaan dipandang sebagai sumber keamanan finansial jangka panjang sehingga loyalitas terhadap satu perusahaan menjadi nilai yang dijunjung tinggi.
Sementara itu, Generasi Z tumbuh di era digital dengan akses informasi yang jauh lebih luas mengenai peluang karier.
Menurut psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia Kasandra Putranto, Generasi Z lebih banyak mempertimbangkan kesempatan belajar, peluang mengembangkan kompetensi, makna pekerjaan, kesehatan mental, hingga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (work-life balance) ketika menentukan pilihan karier.
“Penting untuk tidak menggeneralisasi bahwa Generasi Z “lebih buruk” atau “kurang setia” dibandingkan generasi sebelumnya,” kata Kasandra saat dihubungi Tirto Selasa (14/7/2026).
Perubahan orientasi tersebut turut menjelaskan mengapa fenomena job hopping atau berpindah-pindah pekerjaan semakin sering terjadi. Seringkali, memang perpindahan kerja kerap dipicu oleh ketidakselarasan antara nilai pribadi dengan budaya perusahaan.

Psikolog klinis, Veronica Adesla, juga memberi contoh soal lingkungan kerja yang dianggap tidak menghargai kesehatan mental, minim ruang untuk berkembang, kurang transparan, atau tidak memberikan fleksibilitas menjadi alasan yang membuat Generasi Z lebih berani meninggalkan pekerjaannya.
Kondisi ini membuat perpindahan kerja dipandang sebagai strategi yang realistis untuk meningkatkan keterampilan, memperbaiki posisi tawar, sekaligus memperoleh kompensasi yang lebih baik dibandingkan menunggu promosi internal yang belum tentu datang.
Kembali kepada analisis Kasandra, fenomena job hopping justru menjadi strategi untuk memperoleh lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan psikologis maupun tujuan pengembangan karier. Telebih, loyalitas karyawan juga tidak bisa hanya diukur dari lamanya seseorang bekerja di sebuah perusahaan.
Kasandra berpandangan bahwa seseorang bisa saja bertahan selama puluhan tahun hanya karena tidak memiliki pilihan lain, sementara ada pula karyawan yang bekerja dalam waktu relatif singkat tetapi memberikan kontribusi besar bagi organisasi.
“Tingkat work engagement sering kali menjadi indikator yang lebih kuat terhadap kinerja dibandingkan sekadar masa kerja,” kata Kasandra mengutip Schaufeli, Bakker, dan Salanova (2006).
Keberhasilan Karier Tak Lagi Dilihat dari Sekadar Pensiun
Sepertinya perusahaan perlu bertransformasi mulai dari budaya kerja, pola komunikasi, hingga gaya kepemimpinan agar mampu mengakomodasi karakteristik tenaga kerja yang kini semakin didominasi generasi milenial dan Gen Z.Psikolog dari SAJIVA RS Jiwa Dharmawangsa, Mira Damayanti Amir, menilai perubahan tenaga kerja kini mulai terlihat di berbagai sektor, termasuk perusahaan swasta, BUMN, maupun instansi pemerintah.
Gen Z mengharapkan pemimpin yang terbuka untuk berdiskusi, mau mendengarkan, serta mampu memahami kebutuhan dan nilai-nilai yang mereka pegang. Pola kepemimpinan yang hanya menuntut kepatuhan tanpa ruang dialog dinilai semakin sulit diterapkan pada generasi ini.
“Kalau dulu kan ya udah lu nurut aja gitu, [sekarang] enggak bisa. Desakan mereka untuk memahami, mengetahui, dipahami gitu knowing their values itu sangat tinggi gitu di Gen Z,” kata Mira, Selasa.
Di sisi lain, stabilitas kerja bukan lagi satu-satunya pertimbangan bagi Generasi Z. Mereka juga melihat apakah organisasi memberikan kesempatan belajar, budaya kerja yang sehat, inovasi, dan ruang untuk mengembangkan kompetensi.
Oleh karena itu, meskipun pekerjaan di sektor publik masih diminati, keputusan untuk bertahan tetap dipengaruhi pengalaman kerja sehari-hari.
Sementara itu, Kasandra menerangkan, semakin banyaknya generasi muda yang tidak lagi menargetkan bekerja hingga usia pensiun juga lebih tepat dipahami sebagai perubahan paradigma karier. Jika pada masa lalu keberhasilan karier sering diukur dari lamanya seseorang bertahan di satu organisasi, kini ukuran tersebut bergeser menjadi pengalaman yang diperoleh, keterampilan yang berkembang, kepuasan hidup, serta kesejahteraan psikologis.
“Ketika pekerjaan tidak lagi memenuhi kebutuhan tersebut, mereka lebih berani mengambil keputusan untuk diubah dibanding generasi sebelumnya,” kata dia.

Job Hopping Gen Z Cerminan Pasar Kerja yang Kian Tidak Pasti
Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai fenomena Generasi Z yang kerap berpindah-pindah pekerjaan justru dipicu oleh transformasi struktur pasar tenaga kerja yang semakin didominasi pekerjaan bersifat prekariat.Pekerjaan saat ini semakin menuntut karyawan untuk mengerjakan banyak tugas (multitasking) dengan fleksibilitas yang tinggi, tetapi di sisi lain menawarkan kepastian kerja dan jenjang karier yang semakin kecil.
“Sering loncat dari satu perusahaan ke perusahana lainnya arena perusahaan banyak menawarkan peluang gaji yang lebih menarik tapi multitasking,” kata Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, Selasa.
Situasi tersebut diperparah oleh meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), sementara jumlah angkatan kerja terus bertambah. Di tengah menyusutnya lapangan kerja formal, perusahaan cenderung mengurangi jumlah karyawan dan membebankan pekerjaan beberapa orang kepada satu pekerja yang tersisa, tanpa diikuti peningkatan gaji yang sepadan.
Sistem hubungan kerja berbasis kontrak turut memengaruhi tingkat loyalitas pekerja. Banyak pekerja, kata dia, hanya memperoleh kontrak berdurasi kurang dari satu tahun sehingga masa depan pekerjaannya dipenuhi ketidakpastian. Akibatnya, ketika muncul tawaran pekerjaan lain yang dinilai lebih baik, mereka cenderung memilih berpindah.
“Kalau remunerasinya kecil, ngga ada kepastian kerja, jangan menyalahkan loyalitas yang rendah bagi para pekerja-pekerja muda ini gitu," katanya.
Selama perusahaan belum mampu memberikan kepastian kerja, remunerasi yang layak, dan beban kerja yang seimbang, mobilitas pekerja muda diperkirakan akan terus menjadi bagian dari dinamika dunia kerja.

Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id

































