Menuju konten utama

Maman Tuding Perusahaan Ekspedisi-Kargo Dalang Banjir Impor Cina

Maman sebut sudah saatnya pemerintah dan otoritas terkait memfokuskan pengawasan barang-barang impor asal Cina.

Maman Tuding Perusahaan Ekspedisi-Kargo Dalang Banjir Impor Cina
Menteri UMKM Maman Abdurrahman (kanan) bersama Wakil Menteri UMKM Helvi Yuni Moraza (kiri) mengikuti rapat kerja bersama Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (17/11/2025). Dalam rapat tersebut Maman menyampaikan bahwa pada 15 November 2025 nilai penyaluran KUR mencapai Rp238,7 triliun atau setara 83,2 persen dari target dengan jumlah debitur mencapai 4 juta debitur. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz

tirto.id - Menteri UMKM, Maman Abdurahman, menuding perusahaan ekspedisi dan kargo sebagai pihak utama yang mendalangi membanjirnya barang impor dari Cina ke pasar domestik.

“Saya sekarang nih, pertama kali saya bilang, ini bukan mafia impor yang bermain ini, tapi perusahaan-perusahaan ekspedisi dan kargo barang,” kata Maman di Jakarta, Senin (8/12/2025).

Manurutnya, sudah saatnya pemerintah dan otoritas terkait memfokuskan pengawasan pada rantai logistik ini.

“Jadi sekarang saatnya kita tuh membidik tuh, periksa itu dan cek itu, perusahaan-perusahaan ekspedisi dan kargo-kargo barang itu, mereka itu yang memasukkan semua barang-barang itu tuh dengan luar biasa, banyaknya masuk,” paparnya.

Maman pun menyoroti platform e-commerce dan media sosial seperti TikTok yang memperdagangkan barang white label ini dengan sangat bebas.

Barang white label sendiri merujuk pada model bisnis di mana satu perusahaan memproduksi produk secara massal dan menjualnya ke perusahaan lain yang kemudian menempelkan merek mereka sendiri pada produk tersebut sebelum dijual ke konsumen.

“Lihat aja, sekarang kalau gampang, tuh, fenomena yang terjadi, itu di TikTok. Itu semuanya mereka stok di gudang, luar biasa. Barang-barang white label masuk, nggak dibatasi,” ujarnya.

Ia memperingatkan bahwa tanpa perlindungan pasar, upaya pemberdayaan UMKM oleh pemerintah dan korporasi nasional akan sia-sia.

“Sehebat apapun pemerintah tapi kalau market-nya nggak dijaga, UMKM nggak akan bisa survive. Akhirnya mereka akan mati dengan sendirinya,” tuturnya.

Ia juga dengan agak meledek menekankan bahwa dirinya saat ini sedang menggaungkan untuk mencintai produk Indonesia, bukan produk yang berbau Cina.

“Sekarang pokoknya saya mau pro kepada produk-produk Indonesia, bukan ploduk-ploduk (aksen Cina) Indonesia,” ucapnya.

Ia menekankan bahwa sikapnya bukan antiimpor secara mutlak, tetapi mendorong pembatasan untuk barang yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri, seperti tekstil, celana, dan sepatu. Pembatasan ini dianggap penting untuk melindungi industri kecil menengah dari pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Kita sudah bisa bikin baju, bikin industri tekstil, itu kan dampaknya industri kecil menengah kita akhirnya lay off karyawan. Karena dihantam dengan produk-produk ini,” jelasnya.

Baca juga artikel terkait MAMAN ABDURAHMAN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana