tirto.id - Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang, memperkirakan pertumbuhan kredit akan menunjukkan perbaikan pada kuartal pertama tahun 2026, dengan proyeksi mendekati level 9 persen.
Ia menjelaskan proyeksi ini ditopang oleh ekspansi di sektor usaha serta peningkatan keyakinan konsumen, dengan sektor makanan dan minuman (F&B) serta kelapa sawit (CPO) diproyeksikan menjadi prime mover.
“Harusnya di early 2026 atau di awal tahun ini bisa ada perbaikan,” katanya dalam konferensi pers, di Jakarta, Kamis (27/11/2025).
Ia menambahkan, indikasi perbaikan tersebut terlihat dari pertumbuhan penerimaan PPN yang telah mulai tumbuh sebagai sinyal postur makroekonomi yang membaik.
Proyeksi ini juga sejalan dengan target Bank Indonesia (BI) di mana pertumbuhan kredit perbankan nasional pada kisaran 8 persen hingga 12 persen untuk tahun 2026—sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,33 persen pada tahun yang sama.
“Kita sih juga relatif inline dengan apa yang ditargetkan sama Bank Indonesia ataupun juga OJK. Secara keseluruhan kinerja perbankan kami cenderung di atas pertumbuhan nasional,” jelas Hosianna.
Ia meyakini bahwa kredit dapat tumbuh di level 9-12 persen. Optimisme ini menurutnya didorong kondisi belanja masyarakat yang mulai tumbuh.
“Iya, harusnya sih. Sekarang kan udah diberanjak mendekati ke-8 persen ya. Berarti harusnya kalau mendekati ke-9 dengan jumlah uang beredar yang udah tumbuh double digit, pertumbuhan kreditnya bisa dikejar ke arah situ sih (9-12 persen),” ucapnya.
Adapun, uang beredar dalam arti sempit atau M1 tumbuh 11,0 persen (yoy) di Oktober dan uang kuasi 5,5 persen (yoy). Pertumbuhan uang M1 dan kuasi ini mendorong pertumbuhan uang beredar dalam arti luas atau M2 sebesar 7,7 persen (yoy) dengan besaran Rp9.783 triliun.
Hosianna pun mengidentifikasi sektor spesifik yang diharapkan menjadi motor pertumbuhan kredit di tahun depan. Menurutnya sektor F&B dan crude palm oil (CPO) akan menjadi faktor pendorong seiring dengan ekspektasi pemulihan konsumsi dan pertumbuhan kredit modal kerja.
“Kalau modal kerja dan konsumsinya tumbuh berarti sektornya ya gak jauh-jauh sih dari sektor F&B atau mungkin CPO,” ucapnya.
Keyakinan terhadap prospek kredit ini juga berakar dari komitmen pemerintah dalam mendukung pemulihan ekonomi. Hosianna menilai kebijakan fiskal melalui belanja sosial dan transmisi penurunan suku bunga berdampak positif bagi dunia usaha.
“Dunia usaha juga bisa ekspansi. Karena kalau dunia usahanya ekspansi berarti untuk kesediaan tenaga kerja, penciptaan lapangan tenaga kerja, ini juga solid,” tuturnya.
Ia melanjutkan, penciptaan lapangan kerja yang solid pada gilirannya akan mengembalikan optimisme dan daya beli konsumen. “Kalau optimisme dari tenaga kerjanya juga sudah pulih, harusnya konsumennya lebih yakin untuk ekspan belanja. Itu yang bisa mendrive dari pertumbuhan kredit,” tambahnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































