tirto.id - Penggunaan pengeras suara atau speaker pada masjid di Indonesia pertama kali tercatat pada tahun 1930-an, tepatnya di Masjid Agung Surakarta.
Setelah merdeka, mulai medio 1950-an, penggunaan pengeras suara semakin meluas ke banyak masjid di seluruh Indonesia. Lebih dari 239.000 masjid menggunakan speaker corong yang dipakai tidak hanya untuk azan, tapi juga untuk zikir, ceramah, tarhim, hingga membangunkan sahur. Hal ini akhirnya melahirkan masalah, yakni kebisingan.
Pemerintah lalu mengeluarkan aturan, salah satunya Instruksi Dirjen Bimas Islam Nomor Kep/D/101/1978 yang mengatur penggunaan pengeras suara agar tidak mengganggu ketenangan umum, meski tanpa sanksi keras. Aturan ini menjadi dasar pedoman hingga edaran-edaran selanjutnya.
Walau sudah ada regulasi, suara speaker masjid sering kali masih tidak ramah, meresahkan karena bising. Nada dari speaker corongyang terdengar pecah, volume yang berlebihan, dan distorsi yang menusuk telinga menjadikan seruan suci kehilangan kelembutannya.
Speaker corong memang dirancang untuk menjangkau radius 500 meter hingga 1 km, namun menghasilkan suara hingga 110 desibel yang tidak nyaman di telinga.
Menurut WHO dan NIOSH, suara di atas 55 desibel dalam waktu lama dapat mengganggu kesehatan, dan suara di atas 90 desibel tidak boleh didengar lebih dari 1 jam. Artinya, penggunaan speaker untuk adzan relatif aman, namun penggunaan berkepanjangan seperti membangunkan sahur berpotensi merugikan kesehatan pendengaran.
Di tengah situasi seperti ini, Suharjono Harjodiwirjo mencoba hadir dengan solusi. Ia melihat bunyi speaker masjid sebagai lanskap budaya yang bisa dirawat. Dengan tangan terlatih, ia menata ulang frekuensi, menghaluskan resonansi, dan merancang sistem yang membuat panggilan kembali ramah kuping.
Berkhidmat dari Serambi Riyadh
Bagi Suharjono, pengeras suara masjid merupakan medium seni yang membutuhkan ketelitian. Dalam sebuah wawancara langsung usai menghadiri sebuah acara di Jakarta, pria kelahiran Boyolali tahun 1965 ini mendefinisikan dirinya sebagai "seniman speaker masjid”, julukan yang lahir dari kesadarannya bahwa kenyamanan audio di ruang ibadah sering kali terabaikan meski perangkatnya telah tersedia.
Suharjono menyelesaikan studi S1 dan S2 Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia sempat mengabdikan diri sebagai dosen di Politeknik Negeri Bandung selama lebih dari dua dekade, sebelum akhirnya memutuskan terjun ke dunia wiraswasta pada 2012.
Warsa 2000, perjalanan spiritual Suharjono Harjodiwirjo menemukan muaranya di Masjid Riyadh, Solo, yang didirikan Habib Alwi bin Ali Al Habsyi. Ia kemudian mengenal penerusnya, Habib Anies bin Alwi Al-Habsyi, yang memberinya banyak nasihat.
Bukan hanya sebagai jemaah, ia juga membaktikan keahlian teknisnya untuk mengelola sistem tata suara masjid tersebut. Pengalamannya kemudian berkembang menjadi upaya berkhidmat pada masjid melalui optimalisasi audio.
Dedikasinya di Masjid Riyadh membawanya pada peran penting sebagai koordinator tata suara dalam acara tahunan Haul Solo. Mengelola audio untuk massa yang sangat besar adalah tantangan teknis yang masif, di mana jangkauan suara harus mampu menyentuh jemaah hingga radius 1,5 kilometer dari pusat acara.
Bagi Suharjono, setiap kabel yang terpasang dan setiap frekuensi yang diatur adalah bagian dari niat tulus untuk melayani umat. Ia memandang keahliannya sebagai instrumen untuk memanjangkan manfaat bagi masjid-masjid di seluruh Indonesia. Baginya, mengupayakan suara yang jernih di rumah ibadah adalah cara terbaik untuk menjaga amanah ilmu yang telah ia pelajari.
"Intinya, ini adalah kepanjangan tangan dari urusan berkhidmat untuk agama Islam melalui sound system. Saya ingin memperluas khidmat ini untuk seluas-luasnya masjid di Indonesia yang membutuhkan," tuturnya.
Suharjono lalu berkeliling dari satu masjid ke masjid lain, dari pondok pesantren ke pondok pesantren. Menurutnya, masalah utama pada tata suara masjid di Indonesia umumnya bukan terletak pada kualitas perangkat, melainkan pada kondisi akustik ruangan yang penuh dengan pantulan atau gema.
"Makanya saya menggunakan istilah 'menata kembali', dalam artian barang (speaker) itu sudah ada, dan hanya perlu di tata ulang," ujarnya.
Menyembuhkan Ruang yang Berisik
Motivasi Suharjono Harjowirjo terjun menjadi seniman speaker masjid berakar pada keresahannya melihat kontradiksi antara kualitas perangkat dan hasil suara yang didengar jemaah.
Banyak masjid dibangun dengan material keras seperti lantai marmer, dinding keramik, hingga kubah beton yang besar. Material-material ini bersifat memantulkan suara, sehingga ketika suara keluar dari speaker, ia akan terus memantul dan saling bertabrakan sebelum sempat hilang.
Kondisi ini menciptakan reverberation atau dengung yang panjang. Menurut jurnal bertajuk "Reverberation Time Analysis in the Makassar Grand Mosque" (2022), kualitas akustik masjid dinilai kurang baik karena waktu dengung melebihi standar yang direkomendasikan (<1,30 detik). Hal ini disebabkan oleh material bangunan yang tidak mendukung penyerapan suara secara optimal.
Masalah ini bukan hanya di Indonesia. Banyak masjid kontemporer di negara muslim lain juga mengalaminya karena prioritas estetika dan kemudahan perawatan material keras. Misalnya penelitian di masjid kampus Universitas Imam Abdulrahman Bin Faisal, Arab Saudi (2023), di mana bentuk kubah sangat penting karena berdampak langsung pada waktu gaung masjid.

Akibatnya, menurut Suharjono, kejelasan ucapan menjadi sangat rendah. Suara azan atau ceramah mungkin terdengar keras, namun artikulasinya menjadi tidak jelas, sehingga pesan yang disampaikan sulit ditangkap oleh jemaah.
Menurut Suharjono, para pengurus masjid sering kali terjebak dalam pemikiran bahwa solusi suara buruk adalah dengan membeli perangkat baru atau menambah jumlah pengeras suara.
"Apakah dengan menaikkan volume itu suara makin jelas? Enggak. Malah tambah enggak jelas, karena justru makin banyak pantulan," imbuhnya.
Ia melanjutkan, pendekatan yang lebih tepat adalah melakukan rekayasa teknis pada penempatan dan sudut kemiringan speaker agar suara lebih terarah langsung ke telinga jemaah, bukan ke dinding atau kubah. Speaker tidak boleh asal digantung karena material tersebut akan memantulkan suara dan menciptakan dengung yang mengaburkan artikulasi ucapan.
Prinsip utamanya adalah mengarahkan suara langsung ke area di mana telinga jemaah berada. Hal ini memerlukan pengaturan sudut kemiringan (tilting) yang presisi agar energi suara terserap oleh tubuh jemaah dan karpet, bukan memantul liar di dalam ruangan.
Setelah itu baru distribusi yang merata. Penempatan harus memastikan tidak ada area yang suaranya terlalu keras (menyakitkan telinga) atau terlalu pelan (tidak terdengar jelas). Tujuannya adalah menciptakan distribusi suara yang intim dan merata di seluruh area salat.
Dengan penataan yang presisi, gangguan pantulan dapat diminimalisasi tanpa harus merombak total arsitektur masjid. Sebagai pakar elektro lulusan ITB, Suharjono menyadari bahwa banyak masjid sebenarnya memiliki modal perangkat yang sangat mahal, namun karena kesalahan teknis, potensi alat tersebut justru mubazir.
Ia ingin membuktikan bahwa dengan pengetahuan teknis yang tepat, tanpa harus belanja alat baru, kualitas pengeras suara masjid bisa diperbaiki secara signifikan hanya melalui penataan ulang dan ketepatan instalasi.
Keahlian teknis yang ia miliki memungkinkannya untuk melakukan efisiensi. Ia kerap kali hanya perlu mengonfigurasi ulang kabel, mengatur posisi speaker, dan melakukan kalibrasi frekuensi pada perangkat yang sudah ada untuk menghasilkan perubahan suara yang drastis. Pendekatan ini menjadi solusi bagi masjid-masjid yang memiliki keterbatasan dana, karena fokusnya adalah optimalisasi, bukan belanja alat baru.
Saat ditanya rata-rata durasi pengerjaan yang dilakukan, Suharjono menyebut antara satu sampai dua hari untuk masjid berukuran kecil atau musala hingga masjid di permukiman.
"Paling lama pengerjaan semua itu maksimal tiga hari untuk masjid besar, misalnya Masjid At-Taawun di Puncak," terangnya.
Suharjono memiliki rekam jejak yang sangat panjang dalam menangani sistem suara di puluhan masjid besar di Indonesia, termasuk Masjid Raya Bandung, Masjid PWNU Jawa Barat, Masjid Raya At-Ta'awuun Puncak, Masjid Al-Hidayah Bekasi, Masjid Baitul Masykur Semarang, hingga Masjid Agung UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan.
Ia juga aktif membagikan ilmunya sebagai narasumber dalam berbagai pelatihan manajemen tata suara masjid, seperti pada pembinaan masjid se-Kota Bandung tahun 2024 dan pelatihan LTM NU Jawa Tengah pada awal 2025.
Kiwari, setiap hari Selasa ia kerap ada di Bojong Kulur, Bogor, untuk membenahi sound system 100 masjid dan musala atas permintaan Badan Koordinasi Masjid Se-Bojong Kulur.
"Dan itu baru selesai sekitar 16 masjid dan musala," ujar kakek 5 cucu ini.
Upaya Suharjono seolah menjadi jawaban teknis atas temuan Jusuf Kalla mengenai buruknya kualitas audio di sebagian besar masjid di Indonesia.
"Di seluruh Indonesia, sekitar 75 persen masjid itu punya sound system yang perlu diperbaiki operasionalnya, karena yang memasang itu kadang-kadang anak-anak yang tinggal di masjid, jadi cara pasangnya yang penting bunyi,” ujar Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu.
Dengan pendekatannya, Suharjono berusaha mengembalikan fungsi utama masjid sebagai tempat yang syahdu, di mana pesan-pesan agama dapat diterima dengan jernih tanpa gangguan teknis yang melelahkan pendengaran.

Warisan Suara untuk Hari Tua
Lebih dari sekadar urusan teknis, bagi Suharjono, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan setiap telinga jemaah dapat mendengarkan pesan-pesan kebaikan dengan nyaman.
Ketika sebuah masjid berhasil memiliki suara yang jernih dan syahdu, ia menganggapnya sebagai sebuah pencapaian spiritual yang memberikan kepuasan batin mendalam, jauh melampaui nilai materi apa pun.
"Dari situ, kenikmatan dalam beribadah kepada Allah dan bermajelis ilmu lewat ceramah dan dakwah, mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi dalam agama Islam,” katanya.
Dalam prinsipnya, speaker luar dan dalam harus dipisahkan fungsinya dengan jelas. Speaker luar hanya diperuntukkan bagi azan atau panggilan ibadah dengan jangkauan luas, sementara seluruh aktivitas ibadah di dalam ruangan, seperti salat, zikir, salawatan, dan ceramah, sepenuhnya harus menggunakan speaker dalam.
Pemisahan ini krusial untuk menjaga kekhusyukan. Suharjono melihat banyak kesalahan teknis di mana suara dari dalam masjid bocor ke luar secara berlebihan, yang justru dapat mengganggu lingkungan sekitar dan mengurangi fokus jemaah di dalam.
Dedikasinya sebagai seniman speaker masjid adalah upaya untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai tempat bernaung yang tenang. Keberhasilan penataan ini, menurut Suharjono, tercapai ketika jemaah merasa betah berlama-lama karena suasana ruang yang menenangkan.
Sebagai seorang ahli yang mendedikasikan waktu purnatugasnya untuk berkeliling masjid, ia percaya bahwa keahlian teknis yang ia miliki adalah amanah yang harus digunakan untuk memberikan manfaat nyata bagi kenyamanan umat.
Ia menutup perbincangan dengan sebuah refleksi mendalam mengenai nilai dari sebuah pengabdian. Baginya, suara yang jernih adalah jembatan yang menghubungkan pesan agama dengan hati pendengarnya. Pekerjaan ini ia lakoni dengan penuh ketulusan, menganggap setiap masjid yang ia tata kembali sebagai bagian dari warisan kebaikan yang ingin ia tinggalkan.
"Saya ingin sisa hidup saya ini berguna. Menata speaker masjid itu bukan cuma soal kabel dan frekuensi, tapi soal bagaimana membuat orang betah berlama-lama di rumah Tuhan karena suaranya yang adem di telinga."
Suharjono aktif berbagi ilmu di media sosial Thread lewat akun @speaker-masjid. Ia merasa di masa senjanya tidak ada kebahagiaan yang lebih besar selain mengetahui bahwa suaranya, melalui perantara teknologi yang ia jinakkan, mampu membawa kedamaian bagi banyak orang.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id





























