tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka di zona hijau, dengan penguatan sebesar 41,82 poin atau 0,46 persen ke posisi 9.052,17 pada perdagangan Kamis (22/1/2026). Mengutip RTI Business, pada pukul 09.10 WIB, indeks menguat tipis ke level 9.052,64.
Setelah perdagangan dibuka, level tertinggi yang berhasil dicapai IHSG baru mencapai 9.063,45. Itu belum mampu kembali ke angka psikologis perdagangan sebelumnya yang mencapai level 9.100.
Indikator market breadth berada di zona positif, dengan jumlah saham yang menguat tercatat sebanyak 345, sedangkan 178 saham mengalami penurunan. Jumlah saham yang belum bergerak atau stagnan ada sebanyak 170.
Aktivitas transaksi tergolong cukup aktif, dengan 6,76 miliar saham berpindah tangan melalui 396.323 kali transaksi. Sementara, nilai jual beli saham tersebut mencapai Rp3,58 triliun.
Jika ditilik lebih lanjut, IHSG telah mengalami peningkatan sebesar 5,10 persen dalam sebulan terakhir. Sedangkan secara tahunan, indeks komposit Jakarta mencatatkan penguatan sebesar 22,49 persen.
Sejalan dengan penguatan IHSH, kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 juga dibuka hijau di harga 878,44, naik 7,02 poin atau 0,81 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Selain itu, indeks JII juga dibuka menguat 8,68 poin atau 1,44 persen di harga 612,73.
Berdasarkan riset harian Phintraco Sekuritas, melanjutkan kinerja perdagangan sebelumnya, secara teknikal IHSG masih memiliki peluang koreksi lanjutan.
"Secara teknikal terdapat peluang lanjutan koreksi IHSG dengan potensi pengujian
area support di kisaran 8950–9000," tulis Tim Riset Phintraco Sekuritas, dikutip Kamis (22/1/2026).
Dari sisi global, gerak harga saham hari ini dipengaruhi oleh indeks Wall Street yang ditutup menguat pada perdagangan kemarin setelah Presiden Trump mengatakan tidak akan mengenakan tarif pada negara-negara Eropa setelah mencapai kerangka kerja untuk kesepakatan masa depan tentang Greenland. Itu menyusul pertemuan dengan Sekjen NATO Mark Rutte pada gelaran World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss.
Karena berbaliknya arah pasar keuangan, harga obligasi Treasury 10 tahun naik dan indeks dolar AS menguat. Sejalan dengan itu, saham-saham bank juga menguat setelah Trump mengatakan akan meminta Kongres untuk menerapkan usulan pembatasan suku bunga kartu kredit sebesar 10 persen, sebuah prospek yang tidak pasti mengingat kurangnya dukungan di antara para anggota parlemen.
"U.S. 10-year Bond Yield turun lebih dari 4 bps ke level 4,251 persen. Harga emas di pasar spot menguat 1,6 persen ke level 4,838 dolar AS per troy oz, setelah menyentuh level tertinggi baru di 4,887 dolar AS/troy oz," kata Tim Riset.
Dari dalam negeri, sentimen dipengaruhi oleh keputusan Presiden Prabowo untuk mencabut izin 28 perusahaan di sektor kehutanan, perkebunan, energi, dan pertambangan akibat pelanggaran lingkungan. Sektor industri yang turun 6.33 persen, properti turun 3.44 persen dan sektor transportasi yang mengalami penurunan 3.04 persen menjadi penekan utama pergerakan indeks.
"Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI Rate di level 4.75 persen cenderung relatif sesuai ekspektasi pasar dan belum mampu menjadi katalis penahan koreksi, mengingat fokus kebijakan moneter saat ini lebih diarahkan pada stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian global," tambah Tim Riset.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id



































