Menuju konten utama

Rp33,8 T Bisa Hilang dari Bursa Jika MSCI Ubah Aturan Free Float

Keputusan MSCI berpotensi menjadi peristiwa paling distruptif bagi pasar saham RI—baik dalam hal persepsi investor dan maupun capital outflow.

Rp33,8 T Bisa Hilang dari Bursa Jika MSCI Ubah Aturan Free Float
Seorang pria mengamati layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (12/12/2025). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/bar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perubahan metodologi pembobotan free float indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Inc berpotensi membawa lari dana asing di pasar modal RI hingga 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp33,89 triliun (kurs Rp16.947 per dolar AS).

Mengutip Bloomberg, risiko ini diproyeksikan oleh sejumlah sekuritas, salah satunya PT Samuel Sekuritas.

Sebagai informasi, MSCI tengah mempertimbangkan apakah mereka akan memperketat definisi free floatjumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan oleh publikyang menjadi penentu utama bobot suatu saham dalam indeks.

Hal tersebut dilakukan usai MSCI menerima masukan dari para pelaku industri. Jika disetujui, perubahan ini akan mulai berlaku pada tinjauan indeks pada Mei 2026.

Dampaknya, investor pasif akan terpaksa menjual posisi mereka ketika MSCI menemukan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia, yang memiliki rata-rata free float terkecil di Asia, memiliki jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan lebih sedikit daripada yang dilaporkan.

Manajer portofolio di Allspring Global Investments Gary Tan mengatakan, keputusan ini akan menjadi peristiwa paling distruptif bagi pasar saham RI yang bervaluasi senilai 971 miliar dolar ASbaik dalam hal persepsi investor dan maupun capital outflow.

“Proses ini akan menjadi ujian penting bagi agenda reformasi pasar modal negara tersebut, dengan menekankan perbaikan tata kelola perusahaan yang diperlukan untuk membuka partisipasi internasional yang lebih besar dan arus investasi jangka panjang,” ucapnya.

Emiten Terdampak

Arus modal keluar akan diprediksi akan berdampak pada perusahaan-perusahaan besar di Indonesia, termasuk PT Petrindo Jaya Kreasi (PTRO), yang 84 persen sahamnya dimiliki oleh konglomerat Prajogo Pangestu. Demikian pula dengan PT Barito Pacific (BRPT), yang 71 persen sahamnya dimiliki Pangestu.

Tak hanya itu, setiap penarikan dana dari bursa juga diperkirakan bakal menekan nilai rupiah, yang kini telah mendekati level terendah dalam sejarahdi tengah besarnya arus keluar dana asing dari pasar obligasi.

Terlebih, ada kekhawatiran investor terkait komitmen Pemerintah RI untuk menjaga defisit anggaran dalam batas legal 3 persen dan menjaga independensi bank sentral.

Analis Aletheia Capital Nirgunan Tiruchelvam menjelaskan, free float merupakan metrik yang relatif tidak jelas, tetapi tetap tergolong krusial. Penyedia acuan, MSCI dan FTSE Russell, mengandalkan metrik itu untuk mengukur seberapa mudah investor dapat membeli saham. Semakin banyak saham yang tersedia untuk diperdagangkan, potensi bobotnya dalam suatu indeks akan meningkat.

Sebaliknya, ketika free float rendah, saham dapat disebut sebagai barang museum. "Anda bisa melihatnya tetapi tidak bisa membeli cukup banyak," sebutnya.

Di Bursa Efek Indonesia, rendahnya ambang batas free float sendiri telah lama menjadi perdebatan. Pasalnya, banyak anggota terbesar IHSG merupakan saham-saham yang diperdagangkan secara sedikit dan dikendalikan oleh segelintir individu kaya.

Tercatat, lebih dari 200 saham pada IHSG memiliki free float di bawah 15 persen. Di antara indeks-indeks utama Asia-Pasifik, IHSG memiliki rata-rata free float terendah, menurut data Bloomberg.

Investor berpendapat, saham-saham yang bergejolak ini mendistorsi indeks, yang menutupi kinerja pasar yang sebenarnya dan meningkatkan risiko manipulasi.

Kondisi ini terlihat jelas pada 2025, ketika IHSG mengungguli Indeks MSCI Indonesia dengan selisih terlebar yang pernah ada. Menurut manajer investasi, indeks acuan tersebut sulit untuk dilacak, sehingga preferensi investor justru tertuju Indeks MSCI Indonesia yang lebih ketat.

Dampak kesenjangan tersebut terbukti mahal, yakni IHSG melonjak lebih dari 22 persen ke rekor tertinggi, sementara MSCI Indonesia turun tiga persen.

Pengurangan angka free float dan penurunan bobot bobot saham perusahaan-perusahaan Indonesia di MSCI kemungkinan besar hanya akan memperlebar ketimpangan tersebut, alih-alih mempersempitnya.

Meski begitu, MSCI telah menyatakan bahwa potensi perubahan tersebut menawarkan transparansi tambahan yang dapat membantu mengatasi celah informasi.

Secara teori, penghitungan free float terbilang sederhana, yakni jumlah total saham dikurangi saham yang dipegang oleh investor strategis seperti pemerintah atau pendiri.

Namun, dalam praktiknya, hubungan bisnis Indonesia yang buram berkelit membuat sulit untuk mengidentifikasi pemegang saham strategis, sebuah kekhawatiran yang diangkat MSCI dalam makalah mereka.

Baca juga artikel terkait IHSG atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana