tirto.id - Transformasi dunia kerja yang didorong oleh kemunculan akal imitasi (artificial intelligence/AI) dan tuntutan green jobs mengancam relevansi tenaga kerja Indonesia. Kondisi ini diperparah oleh profil pendidikan angkatan kerja di mana 53 persen berpendidikan SD-SMP yang berpotensi tertinggal dalam disrupsi teknologi.
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, mengungkapkan keprihatinannya terhadap tantangan ini. Ia menekankan bahwa kebijakan peningkatan kompetensi melalui skilling, upskilling, dan reskilling menjadi strategi utama agar tenaga kerja Indonesia tidak tergantikan.
"Berbagai data juga menunjukkan bahwa tantangan ke depan akan adanya disrupsi terkait dengan IT, terkait AI, adanya tuntutan terkait dengan green jobs, dan seterusnya. Dikhawatirkan membuat tenaga kerja kita menjadi tidak relevan dan ini juga nanti akan sangat berdampak kepada produktivitas tenaga kerja di Indonesia," katanya dalam Kick Off Pekan Peningkatan Produktivitas, secara daring, Senin (10/11/2025).
Data yang diungkapkan Yassierli menunjukkan komposisi pendidikan angkatan kerja Indonesia yang memprihatinkan. Sebanyak 53 persen berpendidikan SD dan SMP, 34 persen lulusan SMA dan SMK, dan hanya 13 persen yang merupakan lulusan universitas dan diploma.
"Sehingga ini menjadi satu catatan bagaimana kebijakan-kebijakan nanti kita bisa keluarkan dengan konsep, dengan semangat bahwa no one left behind," jelasnya.
Kondisi ini menurutnya memerlukan pendekatan khusus agar seluruh tenaga kerja dapat beradaptasi dengan tuntutan era digital dan transisi energi.
"Bahwa semua kemudian harus ikut terlibat dalam gerakan kesadaran produktivitas ini agar mereka tetap relevan," tambahnya.
Untuk mengantisipasi ancaman ini, Kementerian Ketenagakerjaan telah meluncurkan berbagai inisiatif strategis. Langkah pertama adalah penyiapan ekosistem melalui pembangunan jejaring internasional dengan Asian Productivity Organization (APO) dan penyelenggaraan Indonesian Productivity Summit secara tahunan.
"Kami membangun jejaring internasional melalui APO, Asian Productivity Organization. Dan kita aktif dalam organisasi ini dan kita juga melakukan beberapa event kegiatan Indonesian Productivity Summit Tahunan," paparnya.
Selain itu, dibangun pula Productivity Center dan Productivity Clinics di perguruan tinggi dan balai vokasi, serta penghargaan Productivity Award di level nasional. Pada aspek peningkatan SDM, telah disiapkan sertifikasi Priority Specialist dari APO dan pembaruan standar kompetensi.
Tahun depan, Kementerian Ketenagakerjaan berencana melakukan intervensi langsung untuk peningkatan produktivitas ke perusahaan-perusahaan. Langkah ini didukung oleh Productivity Center dan Productivity Clinics yang telah dibangun.
"Kita melakukan pembaharuan update kurikulum-kurikulum pelatihan di balai kita. Sehingga menunjang kebutuhan untuk peningkatan produktivitas di perusahaan, terutama di perusahaan skala menengah," ucapnya.
Hingga tahun ini, telah dilatih 200 Activity Specialist dan 500 Ahli Produktivitas. Inovasi pendukung juga dikembangkan berupa podcast pembelajaran massal, buku saku, dan kalkulator produktivitas.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id







































