Menuju konten utama

Impor Minyak Rusia 150 Juta Barel, ESDM: Cukup Sampai Akhir 2026

Pemerintah kini cari sumber tambahan impor minyak mentah, salah satunya ke AS.

Impor Minyak Rusia 150 Juta Barel, ESDM: Cukup Sampai Akhir 2026
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (24/10/2025). tirto.id/Natania Longdong
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, berujar pemerintah bakal mengimpor minyak mentah (crude oil) dari Rusia sebanyak 150 juta barel. Namun, stok 150 juta barel minyak mentah itu diperkirakan hanya dapat mencukupi kebutuhan minyak mentah nasional hingga akhir tahun.

"Komitmen impor minyak dari Rusia ini kan baru negosiasi kemarin kan sudah disepakati total yang akan kita impor dari Rusia itu kan sekitar 150 juta barel," ucapnya di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Jumat (24/4/2026).

"[150 juta barel] untuk pemenuhan kebutuhan sampai dengan akhir tahun," lanjut dia.

Yuliot mengakui, pemerintah hanya dapat memproduksi minyak sebanyak 600 ribu barel per hari. Sementara itu, kebutuhan atau konsumsi minyak per hari secara nasional mencapai 1,6 juta barel.

Karena itu, ia menyatakan, pemerintah akan mencari sumber impor minyak mentah dari negara selain Rusia. Amerika Serikat (AS) disebut menjadi salah satu negara yang berpotensi menjadi sumber impor minyak Tanah Air.

"Konsumsi kita ini setara dengan crude itu sekitar 1,6 juta. Sementara produksi kita sekitar 600 ribu, berarti kita kan impor sekitar 1 juta barel lebih kurang. Jadi, ini kan bisa dikalkulasikan 150 juta itu juga kurang, kita juga mencari tambahan dari negara-negara, lain termasuk yang dari Amerika," urai Yuliot.

Ia menambahkan, pemerintah masih membahas skema impor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia. Terdapat dua opsi skema impor, yakni melalui BUMN atau badan layanan umum (BLU).

Yuliot bilang, terdapat potensi hambatan ketika proses impor dilakukan melalui BUMN. Sebab, sejumlah BUMN juga memiliki komitmen terkait impor minyak dengan perusahaan atau negara lain.

"BUMN kan juga ini sudah ada kontrak-kontrak dengan pihak lain ya kemudian untuk pemenuhan di dalam negeri bagaimana proses pengadaan ya kemudian bagaimana pembiayaan itu kan konsekuensinya proses pengadaan. Kalau di BUMN kan harus melalui tender terlebih dulu ya kalau ini kan skemanya adalah G2G [government to government]," tutur Yuliot.

Di satu sisi, ia menambahkan, pemerintah akan mengimpor minyak Rusia secara bertahap. Pasalnya, penampungan minyak (oil storage) dalam negeri harus mencukupi untuk menampung seluruh minyak yang bakal diimpor.

"Skemanya itu kan tidak bisa sekaligus. Itu kalau sekaligus kan kita memerlukan oil storage di dalam negeri. Itu akan dilakukan impor secara bertahap," sebutnya.

Baca juga artikel terkait IMPOR MINYAK atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah