Menuju konten utama

Iran Tutup Selat Hormuz, Segini Impor Minyak RI yang Terdampak

Melihat pasokan minyak yang diimpor RI dari Timur Tengah di tengah penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Iran Tutup Selat Hormuz, Segini Impor Minyak RI yang Terdampak
Setelah serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran, lalu lintas komersial di kawasan itu telah beroperasi sebagaimana mestinya sejak pembatasan wilayah udara baru diberlakukan minggu lalu. (X/@flightradar24)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu kekhawatiran baru terhadap ketahanan pasokan energi global, termasuk bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah.

Jalur sempit ini menjadi salah satu lintasan utama perdagangan minyak dunia, sehingga gangguan sekecil apa pun berpotensi berdampak langsung pada rantai pasok dan harga energi di dalam negeri.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor minyak mentah dan hasil minyak Indonesia dari kawasan Timur Tengah sepanjang periode 2021 hingga Januari mencapai 31,23 miliar dolar AS.

Berdasarkan data BPS yang diolah Tirto, impor minyak dan hasil minyak tertinggi terjadi pada tahun 2022 yang mencapai 7,56 miliar dolar AS, sementara nilai terendah terjadi pada tahun 2025 sebesar 5,21 miliar dolar AS.

Dari sisi volume, total impor minyak mentah dan hasil minyak dari Timur Tengah mencapai 49,69 miliar kilogram selama lima tahun terakhir. Adapun, volume tertinggi tercatat pada tahun 2023 sebesar 10,36 miliar kilogram.

Sepanjang periode 2021 hingga Januari 2026, impor minyak mentah dari Timur Tengah mencapai nilai 11,99 miliar dolar AS dengan volume 19,99 miliar kilogram. Sementara itu, impor hasil minyak dari kawasan yang sama tercatat sebesar 19,24 miliar dolar AS dengan volume 29,70 miliar kilogram.

Untuk komoditas minyak mentah, Saudi Arabia menjadi pemasok terbesar dengan nilai mencapai 11,65 miliar dolar AS dan volume 19,46 miliar kilogram.

Uni Emirat Arab menyusul dengan nilai 254,4 juta dolar AS dan volume 408 juta kilogram, sementara Qatar tercatat memasok minyak mentah pada tahun 2023 senilai 80,7 juta dolar AS dengan volume 118 juta kilogram.

Untuk komoditas hasil minyak, Uni Emirat Arab menduduki posisi pertama sebagai pemasok terbesar dengan nilai mencapai 6,96 miliar dolar AS dan volume 10,92 miliar kilogram.

Saudi Arabia berada di posisi kedua dengan nilai 5,51 miliar dolar AS dan volume 8,02 miliar kilogram, diikuti Qatar dengan nilai 3,20 miliar dolar AS dan volume 4,93 miliar kilogram.

Negara-negara lain yang turut memasok hasil minyak ke Indonesia dari kawasan Timur Tengah meliputi Oman dengan nilai 1,27 miliar dolar AS, Kuwait dengan nilai 1,02 miliar dolar AS, Bahrain dengan nilai 666,2 juta dolar AS, Mesir dengan nilai 300,8 juta dolar AS, dam Irak dengan nilai 281,7 juta dolar AS.

Di samping itu, Indonesia juga mengimpor sebagian kecil hasil minyak dari Iran senilai 10,2 juta dolar AS, Jordania dengan nilai 1.353 dolar AS, dan Israel senilai 394.916 dolar AS.

Kontribusi terhadap Impor Global

Sepanjang periode 2021 hingga Januari 2026, total impor migas Indonesia dari seluruh dunia mencapai 173,98 miliar dolar AS dengan volume 257,11 miliar kilogram. Dari jumlah tersebut, kontribusi kawasan Timur Tengah tercatat sebesar 31,23 miliar dolar AS atau sekitar 17,9 persen dari total impor migas nasional.

Persentase kontribusi Timur Tengah terhadap total volume impor migas Indonesia mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2021, kontribusi Timur Tengah mencapai 22,48 persen dari total impor migas nasional.

Angka ini kemudian menurun menjadi 20,99 persen pada tahun 2022, 19,87 persen pada tahun 2023, 17,08 persen pada tahun 2024, dan 16,81 persen pada tahun 2025. Namun pada Januari 2026, kontribusi Timur Tengah kembali meningkat signifikan menjadi 22,70 persen.

Untuk komoditas minyak mentah, porsi impor dari Timur Tengah terhadap total impor minyak mentah nasional menunjukkan tren menurun dari 32,33 persen pada tahun 2021 menjadi 18,13 persen pada tahun 2025. Sementara untuk komoditas hasil minyak, kontribusi Timur Tengah bergerak fluktuatif antara 13 persen hingga 20 persen selama periode yang sama.

Rekapitulasi Tahunan

Secara terperinci, nilai impor migas Indonesia dari Timur Tengah tercatat sebesar 5,51 miliar dolar AS pada tahun 2021, meningkat menjadi 7,56 miliar dolar AS pada tahun 2022, kemudian menurun menjadi 6,48 miliar dolar AS pada tahun 2023.

Pada tahun 2024, nilai impor tercatat sebesar 5,74 miliar dolar AS, dan kembali menurun menjadi 5,21 miliar dolar AS pada tahun 2025. Memasuki Januari 2026, nilai impor telah mencapai 712,9 juta dolar AS.

Dari sisi volume, impor migas dari Timur Tengah mencapai 9,46 miliar kilogram pada tahun 2021, 10,01 miliar kilogram pada tahun 2022, dan 10,36 miliar kilogram pada tahun 2023.

Volume impor kemudian menurun menjadi 9,17 miliar kilogram pada tahun 2024, dan 9,30 miliar kilogram pada tahun 2025. Pada Januari 2026, volume impor tercatat sebesar 1,36 miliar kilogram.

Baca juga artikel terkait BADAN PUSAT STATISTIK atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana