Menuju konten utama

Freeport Ramal Setoran untuk RI Naik Jadi US$4,7 Miliar di 2027

Freeport memproyeksikan setoran ke negara naik menjadi 4,7 miliar dolar pada 2027 seiring pemulihan produksi Grasberg pascalongsor 2025.

Freeport Ramal Setoran untuk RI Naik Jadi US$4,7 Miliar di 2027
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas berjalan usai penuhi panggilan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (30/7/2025). Dalam keterangannya Tony Wenas menyampikan bahwa pertemuan dengan Presiden batal terlaksana. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT Freeport Indonesia memproyeksikan setoran untuk negara pada 2027 mencapai 4,7 miliar dolar AS. Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, angka tersebut lebih tinggi dari proyeksi setoran untuk negara pada 2026 yang sebesar 2,6 miliar dolar AS.

“Kami lihat proyeksi tahun 2027 jika sesuai dengan peningkatan produksi kita, itu penerimaan negara akan bisa mencapai 4,7 miliar dolar AS,” ucapnya alam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII di DPR RI, seperti dikutip Antara, Selasa (14/7/2026).

Menurut Tony, kenaikan setoran tersebut dilatarbelakangi oleh membaiknya kapasitas produksi tambang Freeport pada tahun depan. Sebelumnya, produksi tambang sempat terganggu usai longsor di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC), Mimika, Papua Tengah, pada 8 September 2025.

Kondisi tersebut menyebabkan proyeksi penerimaan negara pada 2026 turun menjadi 2,6 miliar dolar AS, dari yang sebelumnya 4,3 miliar dolar AS pada 2025.

Berdasarkan laporan resmi Freeport, produksi konsentrat dari tambang GBC mencapai sekitar 133.800 ton per hari. Di luar itu, ada pula tambang DMLZ yang memproduksi sekitar 64.900 ton per hari, dan Big Gossan sekitar 8.000 ton per hari.

Dengan demikian produksi GBC sekitar 64 persen dari kapasitas keseluruhan Freeport Indonesia.

Tony menuturkan, pada semester I 2026, kapasitas produksi tambang GBC setelah insiden longsor berada di kisaran 50 persen dari kapasitas normal. Sedangkan pada semester II 2026, kapasitas produksi diperkirakan akan meningkat menjadi 65 persen.

Lebih lanjut, pada semester I 2027, kapasitas produksi ditargetkan mulai pulih hingga 75 persen, sebelum menuju 100 persen sepanjang semester II.

“Masuk ke kapasitas produksi penuh (pada 2028), penerimaan negara akan bisa melebihi 7 miliar dolar AS per tahun. Kalau dirupiahkan, itu kira-kira sekitar Rp120 triliun per tahun,” kata Tony.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS

tirto.id - Flash News
Sumber: Antara
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana