tirto.id - Topan Bavi memicu banjir dan angin kencang di Cina. Sebanyak 2,2 juta warga mengungsi, ratusan penerbangan dibatalkan, dan puluhan sungai meluap.
Topan Bavi mulai menghantam Cina pada Sabtu, 11 Juli 2026 tepatnya di wilayah pesisir Kota Yuhuan, Provinsi Zhejiang, sekitar pukul 23.20 waktu setempat. Salah satu badai tropis paling kuat yang melanda daratan Cina ini membawa hujan ekstrem dan angin kencang. Lebih dari 2,2 juta warga mengungsi untuk mengurangi risiko korban.
Topan Bavi dilaporkan telah menyebabkan banjir bandang, kerusakan infrastruktur, serta gangguan besar terhadap aktivitas masyarakat. Pemerintah setempat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lanjutan di wilayah yang sebelumnya telah mengalami curah hujan tinggi.
Setelah mencapai daratan di Provinsi Zhejiang, Topan Bavi memang mulai melemah menjadi badai tropis, namun masih mempertahankan sejumlah karakteristik badai dengan membawa cadangan uap air dalam jumlah besar.
Kondisi tersebut membuat hujan deras dan angin kencang tetap melanda sejumlah provinsi di Cina bagian timur dan timur laut.
Update Topan Bavi di Cina, Lebih dari 2 Juta Orang Mengungsi
Setelah bergerak dari Samudra Pasifik, Topan Bavi mendekati wilayah pesisir timur Cina. Kondisi semakin buruk karena sejumlah daerah sebelumnya telah mengalami hujan lebat, sehingga tanah dan sistem drainase berada dalam kondisi jenuh.
Pemerintah setempat memperingatkan bahwa tambahan curah hujan dari Topan Bavi berpotensi memicu banjir lebih luas, terutama di wilayah yang sudah terdampak cuaca ekstrem sebelumnya.

Salah satu wilayah yang terdampak paling parah adalah Provinsi Zhejiang, tempat badai melakukan pendaratan (landfall). Dilansir AP News, Senin (13/7/2026), pemerintah daerah melakukan evakuasi besar-besaran terhadap lebih dari 2,2 juta warga untuk mengurangi risiko korban akibat banjir, angin kencang, dan kemungkinan longsor.
Di wilayah rawan, termasuk sejumlah kawasan pesisir, warga dipindahkan ke tempat aman sebelum kondisi cuaca memburuk. Kota Shanghai juga melakukan langkah evakuasi terhadap lebih dari 290 ribu penduduk dari daerah yang dianggap berisiko, sedangkan Provinsi Fujian mengevakuasi lebih dari 180 ribu orang.
Sky News pada Senin (13/7/2026) melaporkan jika di wilayah Kuancheng, Provinsi Hebei, sekitar 1.800 warga desa terisolasi akibat banjir yang memutus akses keluar-masuk wilayah tersebut. Stasiun televisi nasional CCTV menyebut bahwa ketinggian air di sejumlah ruas jalan meningkat hingga lebih dari dua meter, membuat kendaraan sulit bergerak.
Beberapa kendaraan bahkan terlihat terbawa arus banjir dan saling bertabrakan karena derasnya aliran air. Kondisi ekstrem tersebut membuat sebagian warga harus menggunakan perahu kecil, berenang, atau papan selancar untuk melewati jalan yang berubah menjadi genangan luas.
Dampak badai juga terlihat di kawasan pesisir Yueqing, Zhejiang, di mana lebih dari 1.300 pohon tumbang, dengan sedikitnya 700 pohon tercabut dari akarnya akibat terpaan angin kuat.
Selain kerusakan infrastruktur dan lingkungan, badai juga menyebabkan gangguan besar terhadap aktivitas masyarakat. Ratusan penerbangan dan layanan kereta api dibatalkan, serta sekolah-sekolah di sejumlah wilayah ditutup sementara demi keselamatan warga.
Kementerian Sumber Daya Air Cina melaporkan bahwa setidaknya 46 sungai di berbagai wilayah mengalami kenaikan permukaan air hingga melewati batas peringatan banjir.
Situasi ini meningkatkan kewaspadaan pemerintah karena kombinasi hujan ekstrem dan wilayah yang sudah mengalami kejenuhan air dapat memperbesar risiko banjir bandang. Tim penyelamat dan otoritas lokal terus melakukan pemantauan terhadap daerah-daerah yang terdampak serta membantu warga yang terjebak akibat banjir.
Topan Bavi terbentuk di kawasan Pasifik sekitar 13 hari sebelumnya dan menjadi salah satu siklon tropis dengan durasi terpanjang di kawasan Asia-Pasifik sepanjang tahun 2026.
Meski telah melemah setelah mencapai daratan Cina, struktur badai masih bertahan sehingga tetap membawa banyak uap air yang memicu hujan deras dalam beberapa hari berikutnya.
Pusat Meteorologi Nasional Cina menyatakan bahwa Topan Bavi terus melemah pada Minggu (12/7/2026) ketika bergerak ke arah barat laut melewati wilayah timur Cina menuju Provinsi Anhui. Statusnya berubah menjadi badai tropis, namun ancaman hujan lebat dan angin kencang masih berlanjut di sejumlah kota di wilayah timur dan timur laut Cina.
Para ahli cuaca memperkirakan badai tersebut akan terus melemah saat bergerak menuju Semenanjung Korea, tetapi pelepasan massa udara lembap yang dibawanya masih berpotensi menyebabkan hujan intens.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































