Apa Perbedaan Badai, Topan, Siklon, dan Tornado?

Ombak tinggi akibat Topan Jebi terlihat di sebuah tempat memancing di Aki, perfektur Kochi, bagian barat Jepang, dalam foto yang diambil Kyodo, Selasa (4/9/2018). ANTARA FOTOMandatory credit Kyodo/via REUTERS
Oleh: Tony Firman - 20 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Badai dan topan adalah fenomena siklon tropis. Dua-duanya adalah fenomena gangguan cuaca yang terbentuk di lautan.
tirto.id - Topan Mangkhut mengamuk di Asia. Pertama kali menyambangi Filipina dan Cina pada Sabtu (15/9) dini hari pukul 1.40. Menyapu dengan kekuatan angin mencapai 265 km/jam, Mangkhut menciptakan kerusakan parah di sejumlah titik, memicu banjir hingga tanah longsor. Ribuan orang terpaksa mengungsi, sementara puluhan lainnya tewas, luka, atau belum ditemukan.

Setelah menyapu Filipina dan Cina, Mangkhut bergerak ke Hong Kong dan Makau pada Minggu (16/9) sore. Kecepatan angin ketika itu tercatat mencapai 175 km/jam, membuat air melonjak hampir 3,6 meter. Di Makau, deretan kasino hingga toko dan perkantoran ditutup. Otoritas Hong Kong mengklaim topan kali ini adalah yang terkuat sejak 1979. Beruntung, tidak ada korban jiwa baik di Makau maupun Hong Kong.

Di belahan dunia lain, Kamis (13/9), badai Florence memporak-porandakan negara bagian Carolina Selatan dan Utara, Amerika. Banjir menggenangi sebagian besar wilayah. Para peternak merugi, puluhan orang tewas, dan jutaan orang terpaksa mengungsi.

Topan dan badai yang menerjang wilayah Asia dan Amerika Serikat ini terjadi hampir bersamaan. Keduanya juga membawa pola yang sama seperti angin kencang, petir, hujan lebat, dan sama-sama bisa memicu banjir. Namun, kenapa dua kejadian alam ini memiliki julukan yang berbeda? Belum lagi, ada angin siklon atau siklon tropis yang kerap terdengar bersamaan dengan istilah badai (hurricane) dan topan (typhoon).

Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) AS, badai dan topan adalah fenomena gangguan cuaca yang sama. Sedangkan siklon tropis atau badai tropis adalah julukan yang paling umum untuk merujuk ke peristiwa badai dan topan.

Siklon tropis terbentuk di atas lautan luas yang umumnya mempunyai suhu permukaan air laut hangat, lebih dari 26.5 °C. Angin kencang yang berputar di dekat pusatnya mempunyai kecepatan lebih dari 63 km/jam. Radius rata-rata siklon tropis mencapai 150 hingga 200 km.


Fenomena siklon tropis dibedakan lagi menurut kecepatannya. Yang terlemah disebut depresi tropis. Jika depresi semakin intensif seperti ditandai kecepatan angin mencapai 39 mil per jam, siklon tropis berubah nama menjadi badai tropis. Jika kecepatan angin maksimum mencapai 74 mil per jam atau lebih, namanya jadi angin topan, topan atau topan tropis.

Bila bertahan cukup lama dan menerjang daratan, situasi ini akan membawa energi angin keras, ombak besar, hujan lebat dan bisa menyebabkan banjir.



Beda Lokasi Beda Nama

Yang membedakan antara badai, topan, dan siklon tak lain adalah faktor lokasi.

Jika terjadi di Atlantik Utara, Pasifik Utara tengah, dan Pasifik Utara timur, istilah badai (hurricane) digunakan. Misalnya seperti yang melanda AS beberapa hari lalu. Jika terjadi di Pasifik, sebutannya jadi topan (typhoon). Jika terjadi di Pasifik Selatan dan Samudra Hindia, istilah siklon tropis digunakan secara umum, terlepas dari kekuatan anginnya.

Musim badai di Samudra Atlantik terjadi antara tanggal 1 Juni sampai 30 November. Topan di kawasan Pasifik Barat Daya umumnya terjadi antara Mei sampai Oktober meski dapat pula berlangsung sepanjang tahun. Sedangkan di kawasan Pasifik Selatan, musim siklon membentang antara November dan April.

Sebuah badai atau topan biasanya memiliki nama julukan lagi. Misalnya topan Mangkhut, topan Hato, topan Tembin, badai Florence, badai Katrina, badai Helena dan banyak lagi. Nama-nama tersebut memang sudah dipersiapkan dan menjadi tugas Badan Meteorologi Dunia (WMO) tiap tahunnya. Nama-nama dari badai yang menyebabkan kerusakan besar biasanya dipensiunkan alias tidak pernah dipergunakan lagi.


Beda lagi dengan Tornado. Menurut Fazrul Rafsanjani Sadarang dkk (2018) dari Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dalam "Sebaran Puting Beliung di Pulau Jawa" (PDF), tornado atau di Indonesia puting beliung merujuk pada "tabung udara berputar sangat cepat yang menyentuh sampai kepermukaan tanah. Tornado merupakan kolom udara vertikal yang berputar dengan cepat, kecepatan anginnya dapat mencapai 250 mil (400 kilometer) per jam dan dapat menempuh jarak sejauh 1,5 mil (1,6 kilometer) dan panjangnya 50 mil (80 kilometer)."

Tornado tidak lagi sama dengan badai atau siklon tropis. Jika badai bisa diprediksi dan terbentuk dalam rentang waktu tertentu di lautan dan bertahan cukup lama, tornado kebalikannya. Ia tidak bisa diprediksi, terbentuk secara spontan di daratan, berdurasi pendek, dan diameternya jauh lebih kecil, hanya ratusan meter dibanding siklon tropis yang ratusan kilometer.

“Tornado benar-benar di luar batas pemahaman kita tentang berbagai hal,” kata Tony Del Genio, seorang ahli iklim di NASA Goddard Institute for Space Studies di New York City dilansir dari African Reporter. "Ilmu yang mempelajarinya masih dini," imbuhnya.

Kesamaan antara tornado dan badai adalah putaran angin yang kuat. Ini dapat dilihat dari bentuk tornado yang berupa corong angin dari awan yang menjuntai ke tanah dan dapat menyebabkan kerusakan di daratan.


Kerusakan akibat terjangan tornado diukur dengan sebuah skala bernama Fujita Scale, dengan rentang F0 sampai F5.

Tornado cenderung terjadi di saat musim pancaroba. Ia muncul ketika ketika udara panas dan lembab di dekat tanah bertemu dengan massa udara dingin di atasnya. Ditambah oleh kecepatan angin yang kuat di ketinggian, muncullah putaran kencang.

Apakah badai topan dipengaruhi perubahan iklim? Sejauh ini, ilmuwan masih memperdebatkan apakah pemanasan global akibat ulah manusia dapat membuat angin topan lebih kuat atau lebih sering terjadi.

Dilansir dari National Geographic, secara teoritis, suhu atmosfer yang lebih hangat bergerak ke suhu permukaan laut yang lebih hangat dan pada gilirannya akan mendukung angin topan yang lebih kuat.


Memang ada peningkatan durasi siklon tropis dan kecepatan angin sebesar 50 persen dalam 50 tahun terakhir. Namun, belum ada konsensus ilmiah tentang kaitan peningkatan kecepatan angin dengan perubahan iklim.

Baca juga artikel terkait CUACA BURUK atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf
DarkLight