Menuju konten utama
Mozaik

Subak di Bali, Tinggalan Era Kerajaan Jadi Warisan Budaya Dunia

Sistem Subak di Bali telah ada sejak ratusan tahun lalu yang tercatat dalam sejumlah prasasti. Kini, ia terus berkembang seiring tantangan zaman.

Subak di Bali, Tinggalan Era Kerajaan Jadi Warisan Budaya Dunia
Sistem Subak Bali. wikimedia/Globe trutter

tirto.id - Selama ribuan tahun masyarakat Bali telah mengembangkan dan memelihara sistem Subak, sebuah asosiasi petani yang mengatur diri sendiri dan berpusat pada pura air, yang berbagi penggunaan air irigasi untuk sawah.

Air dari danau vulkanik dialihkan melalui sungai dan kanal, akhirnya mencapai teras-teras sawah yang ikonik. Pada tahun 2012, UNESCO secara resmi mengakui Sistem Subak sebagai Situs Warisan Dunia.

Situs UNESCO mencakup lima lokasi spesifik yang mencontohkan komponen-komponen yang saling terkait dari sistem Subak tradisional, yaitu Pura Ulun Danu Batur, Danau Batur, Subak Daerah Aliran Sungai Pekerisan, Subak Catur Angga Batukaru, dan Pura Taman Ayun, pura air regional terbesar dan paling berpengaruh secara arsitektur.

Pengakuan tersebut lebih dari sekadar kecerdasan sistem irigasi; ini adalah aspek mendasar dari identitas Bali, sangat terkait dengan tatanan sosial dan warisan budaya mereka yang dibentuk oleh filosofi yang khas.

Elemen Sistem Subak

Subak pada dasarnya adalah sistem pengelolaan air irigasi untuk sawah. Sistem ini memastikan distribusi air yang adil dari sumber-sumber seperti danau vulkanik, sungai, dan mata air ke seluruh sawah.

Distribusi ini dikelola melalui sistem pembagian air yang disebut Subak Sanggah. Tujuan inti dari Subak bukan sekadar irigasi, melainkan alokasi sumber daya vital yang adil dan berkelanjutan.

Sistem Subak berakar kuat pada filosofi Hindu Bali yang dikenal sebagai Tri Hita Karana, yang berarti “Tiga Penyebab Kesejahteraan” atau “Harmoni dengan Tuhan, Sesama, dan Alam”. Filosofi ini terdiri dari tiga elemen yang saling terkait, yakni Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan.

Parahyangan merupakan hubungan yang harmonis antara manusia dan Tuhan atau alam spiritual, diwujudkan melalui ritual dan pemujaan di pura-pura khusus, misalnya Mapag Toya sebagai upacara pembukaan aliran air.

Merujuk penelitian Ni Ketut Ratini di Widya Genitri, fungsi upacara Mapag Toya tersebut adalah sebagai simbol guna mendapatkan air untuk mengairi persawahan para petani agar melancarkan dalam proses pengolahan lahan.

Kemudian elemen kedua ialah Pawongan yang berarti hubungan yang harmonis antarmanusia, menekankan gotong royong, musyawarah, dan saling menghormati. Mereka yang terlibat aktif dibagi tugas dalam pengelolaan air.

Keputusan mengenai jadwal irigasi, alokasi air, dan pemeliharaan dibuat secara kolektif melalui Paruman Krama Subak, sejenis pertemuan rutin. Para pemimpin, misalnya Pekaseh, dipilih dari komunitas petani.

Subak yang lebih besar memiliki badan pengelola yang lebih kompleks atau Subak Prajuru termasuk peran-peran seperti: Pekaseh (Ketua), Petajuh (Wakil Ketua), Penyarikan (Sekretaris), Petengen (Bendahara), Kasinoman (Distributor Informasi), Asisten Khusus terkait kegiatan keagamaan, dan Pangliman (Pengawas pembagian air).

Sedangkan subak yang sangat besar atau Subak Gede dipimpin oleh seorang Pekaseh Gede dan seorang wakil, yang mengoordinasikan pengelolaan air antar Subak. Subak dapat dibagi lagi menjadi unit-unit yang lebih kecil yang disebut Tempek/Munduk, yang dipimpin oleh seorang Kelihan.

Pemangku atau pendeta pura mengawasi pengelolaan air, melakukan ritual, dan mengoordinasikan jadwal tanam dan panen. Ritual dan persembahan dilakukan pada berbagai tahap budidaya padi untuk menghormati dewa-dewi air dan memastikan panen yang melimpah.

Peran pendeta dalam pengelolaan menunjukkan bahwa otoritas agama mendasari aspek praktis irigasi, menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap Subak juga merupakan bentuk ibadah.

Sifat demokratis Subak adalah kunci keberhasilannya, menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab bersama di antara para petani, memastikan keberlanjutan jangka panjang.

Yang terakhir ialah Palemahan, yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dan alam atau lingkungan. Pengelolaan lahan dan sumber daya air didasarkan pada prinsip keberlanjutan dan konservasi, biasanya dipraktikkan dalam ritual Tumpek Uduh, yang mencakup rotasi tanaman dan perawatan lingkungan secara menyeluruh untuk kesuburan tanah.

Subak mencakup tidak hanya infrastruktur irigasi, tetapi juga ekosistem di sekitarnya seperti hutan, danau, dan sungai. Sistem ini mengoptimalkan pertukaran antara pembagian air dan pengendalian hama melalui sinkronisasi pola tanam dan masa bera.

Subak menunjukkan pemahaman yang canggih tentang keseimbangan ekologis, di mana pengelolaan air diintegrasikan dengan pertimbangan lingkungan yang lebih luas, berkontribusi pada keberlanjutan jangka panjangnya.

Filosofi Tri Hita Karana bukan sekadar konsep abstrak, melainkan kerangka kerja praktis yang memandu organisasi dan operasi sistem Subak, menanamkan nilai-nilai spiritual dan sosial dalam praktik pertanian.

Sistem Subak Bali

Sistem Subak Bali. Foto/https://disbud.bulelengkab.go.id/

Asal-usul Sistem Subak

Seturut I Gusti Made Dwi Guna dalam Dharma Pamacul: Kewajiban Petani Bali Membumikan Kearifan Lokal Lintas Generasi (2022), kegiatan bercocok tanam padi sudah ada di Bali sejak tahun 882 Masehi, disebutkan dalam Prasasti Sukawana A1 dengan kata “huma”, yang berarti sawah.

Meskipun huma juga dapat berarti budidaya padi kering, keberadaannya dalam prasasti Bali tertua menunjukkan permulaan pertanian menetap.

Sementara Prasasti Bebetin A1 pada 896 M menyebutkan “undagi pangarung”, yang berarti pembuat terowongan, menunjukkan teknologi irigasi awal. Penyebutan pembuat terowongan pada abad ke-9 menunjukkan perkembangan awal teknik irigasi di Bali.

Prasasti tersebut memberikan bukti lebih lanjut tentang praktik irigasi awal di luar pertanian tadah hujan sederhana. Keberadaan pembuat terowongan menyiratkan kebutuhan akan sistem pengalihan dan pengelolaan air yang lebih kompleks.

Kata “kasuwakan”, yang nantinya menjadi “kasubakan” dan “subak” lantas muncul dalam prasasti yang berasal dari tahun 1071 M, termasuk prasasti Pandak Badung dan Klungkung. Prasasti Klungkung pada 1072 M secara khusus menyebutkan “Subak Rawas”, memberikan bukti tentang keberadaan organisasi Subak pada abad ke-11.

“[...]masukatang huma di kedandan di errara di kasuwakan rawas,” catat Callenfels dalam “Kajian Sejarah Subak di Bali” di buku Subak, Sistem Irigasi Tradisional di Bali: Sebuah Sanangsari (1993:41).

Kalimat tersebut berarti “mengukur sawah di Kadandan pada Yeh Aa dalam Subak Waras.”

Prasasti lain yang mencatat istilah kasawukan terdapat pada Prasasti Trunyan, Prasasti Buwaha, Prasasti Timpag, dan Prasasti Bugbug. Sumber lainnya menyebut lontar Markandeya Purana yang mengukir berdirinya Pura Besakih yang sudah terdapat sistem pertanian, irigasi, dan subak pada abad ke-11.

Sistem Subak kemungkinan terus berkembang secara bertahap ketika Bali secara politik merupakan gabungan kerajaan-kerajaan yang membutuhkan kerja sama antarentitas.

Subak berevolusi di bawah pengaruh tradisi keagamaan kuno, termasuk Shaiva Siddhanta, Samkhya Hindu, Vajrayana Buddha, dan kosmologi Austronesia.

Subak tidak muncul dalam bentuk yang sepenuhnya jadi, tetapi berkembang dari waktu ke waktu. Pemanfaatan sumber daya air melalui pembagian komunal ini tidak hanya memicu terwujudnya produksi padi yang efisien, tetapi juga membentuk dasar bagi lanskap politik, struktur sosial, dan keagamaan yang menyatu dengan kehidupan masyarakat Bali.

Peran Sentral Pura Air dalam Pengelolaan Subak

Dalam agama Hindu Bali, air dianggap sebagai anugerah dari para dewa. Pura Ulun Carik atau Pura Bedugul dibangun di sekitar sistem irigasi, didedikasikan untuk dewa-dewi seperti Dewi Sri sebagai dewi kesuburan dan kemakmuran, serta Dewa Danu sebagai dewa mata air danau dan sungai.

Pura air mengelola air kooperatif dengan jaringan yang mengelola ekologi pada skala daerah aliran sungai sejak abad ke-11. Air mengalir melalui pura dan ke sawah, melambangkan kesucian air.

Pura air tertinggi, Pura Ulun Danu Batur, dianggap sebagai sumber utama semua mata air dan sungai. Pura air bukan hanya situs keagamaan, tetapi komponen integral dari kerangka operasional Subak, berfungsi sebagai pusat spiritual dan manajerial untuk distribusi air dan praktik pertanian.

Sistem Subak Bali

Sistem Subak Bali. foto/https://buleleng.bulelengkab.go.id

Fakta bahwa jaringan pura air mengelola ekologi pada skala besar menunjukkan sistem tata kelola lingkungan yang canggih dan terintegrasi secara agama. Air dialihkan dari danau vulkanik dan sungai melalui jaringan kanal, terowongan, dan bendungan yang kompleks.

Infrastruktur yang rumit ini memungkinkan budidaya padi baik di lahan datar maupun terasering pergunungan. Sistem ini mengandalkan waktu dan koordinasi yang tepat untuk mengontrol aliran air.

Pemeliharaan jaringan ini merupakan tanggung jawab bersama di antara anggota subak. Infrastruktur fisik subak merupakan bukti kejeniusan teknik generasi masa lalu, memungkinkan pertanian berkelanjutan di medan yang menantang.

Deskripsi kanal, terowongan, dan bendungan sebagai “jaringan yang kompleks” menunjukkan pemahaman yang canggih tentang hidraulika dan pengelolaan air.

Bertahan di Era Modern

Kiwari, subak menghadapi berbagai tantangan, terutama yang berasal dari tekanan eksternal terkait pembangunan dan perubahan nilai-nilai masyarakat, mulai dari konversi lahan hingga kelangkaan air dan pergeseran demografi.

Masyarakat Bali kehilangan lahan pertanian mencapai 4.926 hektare antara 2015 dan 2019. Sementara studi di ScienceDirect berjudul “A political ecology of water equity and tourism: A Case Study From Bali” menilai faktor lingkungan dan politik yang saling terkait memperburuk krisis air, mengalihkan air dari pertanian ke pariwisata di Bali.

Bahkan menurut penelitian Rachel P. Lorenzen dan Stephan Lorenzen, generasi muda Bali enggan bekerja di sawah karena kurangnya apresiasi terhadap manfaat subak.

Namun demikian, keterkaitan yang mendalam antara subak dengan kepercayaan dan praktik Hindu memberikan landasan budaya yang kuat. Filosofi Tri Hita Karana terus memandu sistem ini. Ritual dan upacara memperkuat hubungan masyarakat dengan tanah dan air.

Lain itu, struktur yang demokratis dan egaliter memberdayakan para petani dan memastikan partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah.

Struktur Subak yang hierarkis namun demokratis memastikan baik pengelolaan yang efektif maupun representasi kepentingan anggotanya. “Awig-awig” atau hukum adat menyediakan kerangka kerja untuk mengatur kegiatan Subak dan menyelesaikan konflik.

Subak sebagai sistem irigasi tradisional yang berkelanjutan secara ekologis, terbukti efektif selama berabad-abad. Lanskap terasering membantu mencegah erosi tanah dan melestarikan air.

Keberlanjutan ekologis Subak yang melekat telah memungkinkannya untuk bertahan dari waktu ke waktu, menyediakan sistem pertanian yang stabil bagi masyarakat Bali.

Subak juga telah menunjukkan kemampuannya untuk mengadopsi teknik dan teknologi pertanian baru. Para petani telah beradaptasi dengan perubahan kondisi ekonomi dan sosial sambil mempertahankan prinsip-prinsip inti Subak.

“Namun, dalam proses mengadopsi teknologi baru, kami tidak pernah menyimpang dari etiket, awig-awig, dan sistem adat lainnya. Ada juga efek buruk dari teknologi baru bersama dengan manfaatnya. Itu selalu seimbang,” ujar Jero Dodo, kelian Subak Bena kepada Gordon LaForge dari New America.

Subak bukanlah tradisi yang statis tetapi sistem yang dinamis, yang mampu beradaptasi dengan tantangan modern sambil mempertahankan nilai dan struktur dasarnya.

Baca juga artikel terkait WARISAN BUDAYA DUNIA atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - News
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi