Menuju konten utama

Topan Bavi Ancam Taiwan dan Filipina, Apakah Sampai Indonesia?

Topan Bavi mengancam Taiwan, Filipina, Jepang, dan China. Meski tidak diperkirakan menghantam Indonesia, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada.

Topan Bavi Ancam Taiwan dan Filipina, Apakah Sampai Indonesia?
Ilustrasi Topan. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Cina dan Taiwan bersiap menghadapi ancaman Topan Bavi, salah satu badai tropis terkuat tahun ini. Sebelumnya, Topan Bavi memicu hujan deras di Filipina yang menyebabkan sedikitnya 15 orang meninggal dunia akibat longsor di Pulau Mindanao bagian selatan dan enam orang lainnya dilaporkan masih hilang.

Topan Bavi pertama kali muncul sebagai sistem badai tropis di wilayah Samudra Pasifik Utara bagian barat, tepatnya di kawasan perairan hangat sebelah timur Guam dan Kepulauan Mariana Utara.

Sistem ini berkembang ketika bergerak melintasi lautan Pasifik yang memiliki suhu permukaan laut sekitar 30 derajat Celsius, kondisi yang sangat mendukung penguatan badai.

Pada awal Juli 2026, Bavi terus menyerap energi dari laut hangat hingga meningkat menjadi super typhoon (topan super) pada 4 Juli waktu setempat.

Saat mencapai puncak kekuatannya, dikutip laman NASA, Rabu (8/7/2026), Topan Bavi memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 290 kilometer per jam (180 mil per jam) dan masuk dalam kategori 5 skala Saffir-Simpson, menjadikannya salah satu badai tropis terkuat pada 2026.

Perjalanan Topan Bavi yang Ancam Banyak Negara Asia

Perjalanan awal Topan Bavi dimulai ketika badai bergerak ke arah barat melintasi Pasifik dan pertama kali memberikan dampak langsung kepada wilayah Guam serta Kepulauan Mariana Utara pada 6 Juli 2026.

Saat itu, Bavi masih berstatus super typhoon dengan angin sangat kuat, hujan ekstrem, dan gelombang badai. Wilayah Guam, Rota, dan Saipan mengalami berbagai kerusakan, seperti robohnya tiang listrik, rusaknya jaringan kabel, banjir, puing yang berserakan di jalan, serta kerusakan fasilitas umum termasuk infrastruktur distribusi air di Rota.

Setelah melewati Guam dan Mariana Utara, Bavi bergerak ke arah barat menuju Laut Filipina dan kemudian mengarah ke kawasan Asia Timur. Dalam perjalanannya, kekuatan badai mulai mengalami penurunan, namun ukurannya tetap sangat besar.

“Topan tersebut kemungkinan akan terus melemah karena kondisi lingkungan tidak menguntungkan,” kata peramal cuaca Badan Meteorologi Pusat (CWA), Wang Ping-hsiang dikutip The Straits Times, Jumat (10/7/2026).

Pada 9 Juli 2026, Bavi bergerak di wilayah tenggara Taiwan dengan kecepatan angin mendekati 200 kilometer per jam, membawa potensi hujan ekstrem, angin kencang, banjir, serta longsor.

Badan cuaca Taiwan memperkirakan wilayah bagian utara dan timur, termasuk Taipei, New Taipei, Keelung, dan Yilan, berpotensi menerima curah hujan hingga 1 meter akibat pengaruh Bavi. Selain itu, gelombang laut diperkirakan mencapai 9 meter, sehingga masyarakat diminta menjauhi kawasan pesisir.

Pemerintah Taiwan meningkatkan status kesiapsiagaan dengan menempatkan sekitar 29.000 personel militer dalam kondisi siaga untuk membantu proses evakuasi dan penanganan darurat.

Lebih dari 2.000 warga Taiwan juga telah dievakuasi, terutama dari wilayah pegunungan Kabupaten Hualien di bagian timur.

Wilayah barat daya Jepang juga berada dalam jalur ancaman Topan Bavi. Badan Meteorologi Jepang memperingatkan masyarakat di wilayah Okinawa dan Kepulauan Sakishima agar waspada terhadap ancaman angin ekstrem, banjir, longsor, dan gelombang badai.

Sejumlah sekolah dan kantor ditutup, warga-wargapun mulai mengamankan barang-barang yang berpotensi terbawa angin.

Topan Bavi juga disebut membuat Japan Airlines membatalkan 48 penerbangan domestik dan dua penerbangan internasional pada 10 Juli. Tak hanya JAL, All Nippon Airways (ANA) juga dilaporkan membatalkan 34 penerbangan, terutama rute menuju Bandara Ishigaki dan Miyako di Okinawa. Puluhan penerbangan tambahan juga dijadwalkan dibatalkan pada 11 Juli.

Setelah melewati bagian utara Taiwan dan Jepang, Topan Bavi diperkirakan akan melakukan pendaratan (landfall) di Provinsi Fujian, Cina timur, pada 11 Juli 2026 malam.

Cina meningkatkan kesiapsiagaan karena saat itu sejumlah wilayah masih dalam proses pemulihan akibat Topan Maysak yang sebelumnya menewaskan sedikitnya 39 orang.

Apakah Topan Bavi Sampai ke Indonesia?

Berdasarkan jalur pergerakannya, Topan Bavi tidak diperkirakan bergerak menuju Indonesia. Setelah terbentuk di sekitar perairan dekat Guam dan Kepulauan Mariana Utara, Bavi bergerak ke arah barat laut menuju Taiwan, Jepang bagian selatan, dan Cina bagian timur.

Jalur tersebut berada jauh di sebelah utara Indonesia. Meskipun diperkirakan tidak menghantam Indonesia, namun Siklon Tropis Bavi diprediksi mempengaruhi cuaca hujan di Indonesia.

Siklon tersebut dapat menyebabkan potensi cuaca cukup signifikan di beberapa wilayah Indonesia. Untuk itu perlu ditingkatkan kesiap-siagaan potensi hujan lebat hingga sangat lebat di wilayah Papua Selatan.

Masyarakat diimbau tetap memperhatikan perkembangan dan pergerakannya melalui informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Baca juga artikel terkait TOPAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra