tirto.id - Saya akan memulai ulasan Sore: Istri dari Masa Depan dari 'akhir film', yaitu dari baris credit title yang menuliskan tiga aktor utama film ini: Jonathan (Dion Wiyoko), Sore (Sheila Dara) dan Waktu (Waktu). Sineas juga terang-terangan menempatkan tiga aktor utama ini di pembagian babak film: babak pertama Jonathan, kedua Sore, dan terakhir Waktu.
Waktu dijadikan tokoh utama di film layar lebar. Itu berarti sineas secara sadar menempatkan Waktu sejajar dengan dua karakter manusianya. Sebuah klaim yang mungkin terdengar ambisius, pretensius, dan patut untuk dipertanyakan. Mengikuti perlakuan film terhadapnya, dalam tulisan ini, saya akan menuliskan “Waktu” dengan huruf kapital, sama seperti nama tokoh manusia lainnya.
Kita akan uji bersama, apakah Waktu benar-benar tampil sebagai tokoh utama yang hidup dan bernyawa, atau sekadar kerangka naratif khas film bertema time loop. Bagaimana caranya film ini menyampaikan gagasan itu? Bagaimana Waktu menjelma sebagai tokoh yang hidup dan punya kehendak? Apa bentuk konkret dari Waktu dalam film ini?
Film karya sutradara Yandy Laurens ini adalah drama romansa-fantasi yang mengambil latar Arctic, Kroasia, dan Jakarta. Cerita berjalan mengikuti Sore, seorang perempuan dari masa depan yang melintasi waktu untuk ‘menyelamatkan’ calon suaminya yang telah tiada di linimasanya.
Dalam lingkup narasi inilah film mulai bergerak di lintasan fantasi. Yaitu saat Sore tiba-tiba hadir di kehidupan Jonathan, seorang fotografer yang pragmatis dengan klaim absurd tentang istri dari masa depan. Perjumpaan mereka memantik tanda tanya besar: benarkah Sore datang dari masa depan ‘hanya’ demi cinta atau ada sesuatu yang lain yang belum selesai? Mengapa Sore memilih hadir di Kroasia, di momen itu, dan kepada Jonathan saat itu (Jonathan saat belum mengenalnya)?
Upaya Sore kembali ke masa lalu punya tujuan jelas: memperbaiki gaya hidup Jonathan, mengarahkan kembali takdir, dan menyelamatkan orang yang ia cintai. Kerja-kerja Sore ‘mengubah’ Jonathan ini bisa kejadian karena relasinya dengan tokoh penting yang lain: Waktu. Dalam film ini, Waktu tidak pasif. Ia hadir sebagai lawan main yang penting dalam mendedah grieving.
Menguji Waktu, Mempermainkan Sore, Mengubah Jonathan

Dalam banyak film bertema time traveler atau juga time loop, waktu biasanya hadir sebagai struktur mekanis berupa alat naratif untuk menjelajahi hubungan sebab-akibat, atau sekedar memberikan ‘kesempatan kedua’ untuk para lakonnya. Namun, Yandy Laurens dalam film remake series Youtube karyanya ini mengambil langkah yang cukup radikal. Ia tak sekedar memakai Waktu sebagai ‘mesin’ cerita, namun juga memformulasikannya sebagai karakter hidup.
Sineas tentu sah-sah saja memilih dan menetapkan siapa saja yang mereka anggap layak disebut aktor utama, termasuk jika itu adalah entitas abstrak seperti Waktu. Tapi di sisi lain, penonton juga berhak menuntut agar kehadiran Waktu lebih dari trik struktural belaka. Ia harus terasa aktif, mempengaruhi, dan membentuk pengalaman karakter secara nyata.
Kerja-kerja paling kentara yang dilakukan oleh sineas dalam men-direct Waktu ada di teknik film editing. Dalam film Sore, editing posisinya bukan hanya sekedar penyambung antar adegan, tapi juga jantung yang membuat si Waktu hidup, bergerak, mempengaruhi, bahkan memprovokasi.
Hal ini tercermin di sepanjang film berjalan, mulai dari repetisi visual, perubahan tempo, kontras emosi, distorsi gambar, color grading, hingga musik dan elemen suara. Dari komponen-komponen tersebut, kita bisa menilai apakah Waktu dalam film ini sungguh-sungguh tampil sebagai tokoh utama dengan performa yang baik di layar, atau justru sebaliknya.
Pertama, kita bisa menguji di struktur time loop. Yang mana segmen demi segmennya disusun secara dramaturgis bekerja sebagai struktur psikologis proses berduka (grieving) Sore di masa depan.
Dalam film, tokoh Waktu berperan (acting) dengan mengkontruksi waktu (dirinya sendiri) menjadi siklis (loop) yang sama sekali tidak linear. Dalam loop, ia menampung seluruh stages of grieving, yakni fase denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance. Yang mana fase-fase ini belum tentu berjalan urut, namun di beberapa titik bisa tumpang tindih.
Dalam film, fase denial terletak di awal film. Ketika Sore merasa yakin mampu mengubah Jonathan, memperbaiki keadaan, mengarahkan takdir, dan harapannya menyelamatkan suaminya dari kematian.
Teknik editing di tahap ini ditampilkan dengan optimisme semu berupa adegan berulang dengan pencahayaan hangat dan musik lembut, menciptakan ilusi bahwa Waktu bisa diajak bernegosiasi. Inilah manipulasi pertama Waktu. Ia menjadi tokoh penting dalam meyakinkan Sore atas adanya 'kesempatan kedua', dan kemudian mempermainkan penyangkalan Sore.
Begitu masuk ke stages of grieving kedua yakni fase anger, Waktu semakin menunjukkan taringnya dan menjadi antagonis sepenuhnya. Waktu bekerja membuat loop yang tak kunjung berhasil. Adegan ini ditampilkan dengan penanda Jonathan kembali merokok, minum alkohol, hingga Sore mimisan dan pingsan.
Hal ini memicu kemarahan Sore pada segalanya, termasuk kepada Waktu itu sendiri. Editing-nya berubah menampilkan montase-montase gambar terpilih yang bergerak lebih cepat, musik lebih intens, lagu "Pancarona" - Barasuara muncul, beberapa suara bising yang direpetisi hadir, beberapa bagian suara ditampilkan absen dan sunyi beberapa detik, atau bahkan sampai ke distorsi suara yang lain.
Di titik itu, Waktu tak selembut fase pertamanya, ia adalah tokoh yang kejam. Ia menjebak Sore dalam labirin frustasi yang terus memutar ulang pertemuan, usaha-usaha, dan kegagalan. Di titik ini film berhasil menghadirkan Waktu sebagai karakter yang hidup, bergerak, dan memprovokasi.
Babak bargaining menghadirkan Sore dengan skenario-skenario alternatif. Ia mencoba mengubah detail kecil atau mengatur ulang langkah hariannya menghadapi Jonathan. Editing film tahap ini menampilkan montase dengan cut-cut terpilih dan match cut yang menunjukkan upaya serupa dengan posisi kamera yang berubah. Di adegan yang sama, posisi kamera di-take dari sudut yang berbeda.
Fase depression menjadi titik nadir emosional Sore. Di babak ini, ia mulai tampak menyerah, tak lagi berambisi mengatur dan mengubah gaya hidup Jonathan, bahkan memilih untuk membuat jarak dan tak bersinggungan dengan Jonathan, meski masih sama-sama di Kroasia.
Sore mulai mencari pekerjaan hingga akhirnya bisa bekerja di toko gaun pernikahan. Pace mulai melambat dibanding babak sebelumnya, suara ambient yang minim, dan wajah Sore yang kosong di-shoot secara close up.
Di fase ini Sore justru mendapati fakta baru yang penting: yang bisa mengubah Jonathan bukanlah kerja sama Sore dengan Waktu, melainkan cinta dan penerimaan. Terkait ‘penerimaan’ ini, sineas juga secara erat melekatkannya pada quotes penting film ini: Tahu nggak, kenapa senja selalu menyenangkan? Kadang ia merah merekah bahagia, kadang ia hitam gelap berduka, tapi langit selalu menerima senja apa adanya.
Waktu seutuhnya membentuk pengalaman psikologi karakter di fase acceptance. Di babak inilah Sore sepenuhnya mengeliminasi si Waktu. Hal ini dilakukan Sore dengan melakukan perubahan besar dari apa-apa saja yang akan ia katakan dan lakukan.
Dari perkenalan awal “Aku Sore, istrimu dari masa depan”, yang kemudian ia ganti karena tak mau lagi bergantung pada titah si Waktu. Ia berucap “Aku Sore, istrimu selamanya”. Film berubah drastis: Waktu limbung dan kalah. Dalam film digambarkan dengan langit yang tiba-tiba menggelap, musik berubah menjadi intens, lagu "Terbuang dalam Waktu"-nya Barasuara masuk.
Adegan penting lainnya adalah ketika Sore dan Jonathan berjanji dan bersalaman di halaman rumah. Dari yang semula “Kamu janji mau menuruti semua yang aku mau untuk berubah” ke permintaan yang lain: “Kamu janji ya, tidak akan melupakanku. Jangan biarkan aku tertelan WAKTU.” Di titik inilah, Sore secara tegas menyampaikan kehendaknya: aku menerima segalanya, aku hanya minta cinta kita jangan sampai hilang dihapus Waktu.
Editing kembali mengambil peran penting di sini. Momen bersalaman itu tidak berdiri sendiri, tetapi sengaja ditumpuk dengan scene bersalaman Sore dan Jonathan di ruang pameran, tempat mereka bertemu dalam kerangka waktu Jonathan (bergeser dari yang semula akan bertemu di nikahan kakak Jo di kerangka waktu Sore).
Tumpang tindih momen perlu bermain dengan presisi di sini. Montase-montase terpilih berupa adegan-adegan penting yang dihadirkan cepat, hingga lagu dan musik yang masuk mengambil banyak sekali ruang emosi penonton, menggantinya dengan berbagai hal yang kita semua rasakan: perasaan rindu, haru, sedih, dan kosong yang seolah pernah kita alami, tapi tak tahu kapan.
Deja vu hingga banyak sekali emosi lain yang lebih abstrak masuk dan menghadirkan aftertaste yang panjang untuk para penontonnya.
Fantasi "Kabur-kaburan" untuk Penonton

Film yang diproduksi Cerita Film, Imajinari, dan Slingshot Pictures ini menghadirkan drama romansa dengan warna baru, yakni genre fantasi yang jarang disentuh secara serius dalam sinema Indonesia.
Unsur fantasi di film Sore dikontruksi dalam struktur naratifnya yang tidak linier. Struktur ini langsung terasa efeknya ketika film membuka babak awal dengan percakapan absurd yang mengguncang realitas Jonathan.
Saat dialog muncul, “Aku Sore, istri kamu dari masa depan?” Jonathan (dan penontonnya) mulai skeptis. Di titik ini, Jonathan adalah perwakilan penonton, yang mempertanyakan, mencibir, dan diam-diam penasaran. Fantasi kemudian mulai diperkenalkan secara perlahan dan meyakinkan saat Sore tahu kehidupan Jonathan terlalu banyak, mulai dari roll film mana yang bakal terpilih, soto Lamongan favoritnya, tentang kakak dan mamanya, Carlo temannya di Kroasia, hingga hal-hal masa kecil yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Fantasi di film juga menyediakan ruang imajinasi yang luas untuk para penontonnya, bahkan sejak awal cerita dimulai. Lagu Adhitia Sofyan “Forget Jakarta” hadir di menit-menit awal, seakan-akan ingin menjadi penanda ideologis. Lagu ini rasa-rasanya ingin mengungkap: yang mau dilupakan bukan sekedar sebuah kota, tapi juga kebisingan yang konstan dan rasa tidak nyaman yang semakin mengakar. Lirik We’ll forget Jakarta dan Give me back my sanity di tahun 2025 terdengar seperti menyuarakan rasa frustasi kolektif.
Pilihan ini juga mengarahkan penonton ke dalam ruang eskapisme bersama Sore, Jonathan, dan Waktu. Ruang itu bernama Arctic dan Kroasia yang jaraknya bermil-mil jauhnya dari Indonesia.
Ruang ini nyatanya bukan sekedar latar tempat, melainkan juga metafora pelarian atas trauma dan kedukaan, baik kedukaan Sore atas Jonathan maupun kedukaan Jonathan atas papanya.
Dalam ruang eskapisme ini terdapat hal-hal yang tak ada di tanah air: aurora yang memancar dingin namun magis, kapal pemecah es yang sunyi dan tegas, hingga tramp yang berbelok sinematik sekali di tengah kota.
Dalam film, eskapisme visual ini menampilkan Kroasia yang lembut dan intim dengan palet warna hangat dan pencahayaan lembut yang menyebar tanpa kontras yang tajam. Yang mana, editing ini bekerja untuk membentuk lanskap mimpi. Menariknya, pendekatan visual ini berubah drastis ketika film berpindah ke Jakarta yang lebih cerah dan kontrasnya lebih tinggi.
Jonathan dan Sore dalam ruang eskapisme ini seakan-akan ingin ‘melarikan’ penontonnya (yang beberapa di antaranya ingin #KaburAjaDulu). Bioskop menjadi ruang di mana semua terasa jauh sekali, sekaligus intim. Aurora hingga Kroasia seakan memberi ruang untuk penonton yang ingin sesaat tidak merasa bersalah karena lelah, dan ingin percaya bahwa ketenangan mungkin ada di tempat lain.
Film Sore tayang di pertengahan tahun 2025 bukan sebagai film propaganda, tentu saja. Ia juga bukan dokumenter, bukan pula kritik frontal terhadap negara. Tapi ia bekerja diam-diam di wilayah afeksi sebagai penyalur daydreaming, ruang menghayal kolektif bagi generasi yang merasa hampir kehabisan harapan terhadap institusi.
Ketika negara tak lagi bisa ditafsir sebagai pusat harapan, film ini justru membebaskan penontonnya dari ikatan geografis dan sosial melalui semesta Yandy Laurens bersama aurora borealis, Kroasia, Sore, Jonathan, Waktu, dan narasi fantasinya.
Sore: Istri dari Masa depan memperlihatkan ranah alternatif yang mungkin hanya bisa benar-benar ada dan hadir dalam film. Tapi bukankah itu memang salah satu tugas sinema? Bukan hanya memberitahu kita apa yang nyata, tapi juga membantu kita membayangkan apa-apa saja kemungkinan yang ada.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id


































