Menuju konten utama

Eskalasi Konflik AS-Iran Kerek Harga Minyak Brent ke Level US$90

“Tak seperti awal konflik, persediaan minyak global kini berada pada kondisi paling terbatas dalam lima tahun terakhir.”

Eskalasi Konflik AS-Iran Kerek Harga Minyak Brent ke Level US$90
selat hormuz. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak melonjak sekitar 3 persen pada perdagangan Senin (20/7/2026), dengan harga minyak mentah Brent menembus level US$90 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran memperluas serangan mereka di Timur Tengah yang berdampak pada terganggunya kembali pengiriman energi melalui Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, harga kontrak berjangka minyak mentah Brent naik US$2,69 atau 3,05 persen menjadi US$90,79 per barel pada pukul 23.43 waktu setempat.

Kenaikan tersebut terjadi setelah sebelumnya harga Brent sempat menyentuh level tertingginya sejak 11 Juni. Penguatan ini sekaligus memperpanjang reli harga minyak setelah Brent melonjak 15,9 persen sepanjang pekan lalu, yang menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak April 2026.

Sementara itu, harga minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) naik US$2,19 atau 2,65 persen ke level US$84,68 per barel—level tertinggi sejak 12 Juni 2026. Kenaikan tersebut memperpanjang penguatan WTI setelah kontrak bulan terdekat (front-month) melonjak 15,5 persen sepanjang pekan lalu, yang menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak awal Maret 2026.

Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat pada akhir pekan setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke wilayah Iran dalam sembilan malam beruntun. Pada saat yang sama, Kuwait dan Bahrain—dua negara sekutu Washington di kawasan—melaporkan adanya serangan baru yang dilakukan Iran.

Dalam beberapa hari terakhir, fokus konflik meluas ke jalur pelayaran strategis, saat AS menyebut tengah melakukan blokade maritim terhadap pelabuhan Iran, sementara Iran mengancam kapal-kapal yang dinilai melanggar ketentuan pelayaran di Selat Hormuz.

Langkah tersebut praktis memicu kekhawatiran pasar karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi terpenting di dunia. Sebab, sekitar 20 persen perdagangan minyak global melintasi perairan tersebut, sehingga setiap gangguan berpotensi menghambat pasokan dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Sementara itu, badan pengawas pelayaran Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan bahwa sebuah kapal telah terbakar di perairan barat laut Kumzar, Oman, pada Senin dini hari.

Namun demikian, berdasarkan data London Stock Exchange Group (LSEG), jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi empat unit pada Minggu (19/7/2026), dari delapan unit sehari sebelumnya. Data yang sama juga menunjukkan sedikitnya tiga kapal tanker produk minyak dan satu tanker minyak berukuran sangat besar (VLCC) memasuki Selat tersebut sejak Jumat (18/7/2026).

Menanggapi penguatan intensitas serangan antara AS dan Iran, Analis Barclays, Amarpreet Singh, mengatakan beberapa hari hingga beberapa pekan ke depan akan menjadi periode penting untuk mengukur seberapa besar dampak blokade yang diterapkan AS dan Iran terhadap ekspor minyak dari kawasan tersebut.

"Dalam beberapa hari dan pekan mendatang, pasar akan memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai tingkat ekspor minyak yang dapat dipertahankan dari kawasan ini di tengah penerapan blokade oleh kedua pihak," ujar Singh dalam catatannya.

"Menurut kami, pelaku pasar minyak masih terlalu tenang dalam menyikapi risiko terhadap ketersediaan pasokan. Padahal, tidak seperti pada awal konflik, persediaan minyak global kini berada pada kondisi paling terbatas dalam lima tahun terakhir," imbuhnya.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi