Menuju konten utama

Ekspor Listrik Bersih ke Singapura Berpotensi Hasilkan Rp163 T

Ekspor listrik juga berpotensi menambah devisa nasional sebesar 4-6 miliar dolar AS serta menambah penerimaan negara 210-600 juta dolar AS per tahun.

Ekspor Listrik Bersih ke Singapura Berpotensi Hasilkan Rp163 T
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bersiap menyampaikan keterangan terkait izin tambang nikel Kepulauan Raja Ampat di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10/6/2025). Pemerintah mencabut empat izin usaha pertambangan (IUP) nikel di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, antara lain milik PT Anugerah Surya Pratama (PT ASP) di Pulau Manuran, PT Kawei Sejahtera Mining (PT KSM) di Pulau Kawei, PT Mulia Raymond Perkasa (MRP) di Pulau Manyaifun dan Pulau Batang Pele. Serta PT Nurham Pulau Waegeo karena ditemukan sejumlah pelanggaran. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/nz

tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memproyeksikan bahwa kerja sama ekspor listrik bersih Indonesia ke Singapura berpotensi menghasilkan keuntungan hingga 10 miliar dolar AS atau setara Rp163 triliun, dengan kurs Rp16.309 per dolar AS.

Proyeksi tersebut merupakan bagian dari nota kesepahaman (MoU) antara Indonesia dan Singapura yang mencakup tiga sektor utama, yaitu pembangunan industri panel surya, penerapan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS), serta pembangunan kawasan industri berbasis energi hijau.

"Ini adalah bagian dari kerja sama yang baik dan saling menguntungkan," ujar Bahlil di Kompleks Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (13/6/2025).

Menurut Bahlil, dunia saat ini tengah bergerak menuju transisi energi bersih, sehingga kerja sama ini menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk mendorong industrialisasi hijau.

Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki daya saing kuat karena ketersediaan bahan baku, akses ke listrik bersih, serta teknologi CCS.

"Kita punya bahan baku, kita punya CCS, kita punya listrik bersih, dan kita berkolaborasi dengan teman-teman Singapura yang memang punya market dan punya FDI yang besar," katanya.

Dalam nota kesepahaman dengan pemerintah Singapura, Indonesia akan mengekspor listrik bersih sebesar 3,4 Gw hingga 2035. Untuk memproduksi listrik sebesar itu dibutuhkan 18,7 Gwp panel Surya ditambah 35,7 Gwh produksi baterai.

Potensi investasi untuk membangun pembangkit panel Surya dibutuhkan dana sebesar 10 miliar hingga 30 miliar dolar AS dan untuk manufaktur panel surya dan BESS 2,7 miliar dolar AS.

Kesepahaman ini berpotensi menambah devisa nasional sebesar 4-6 miliar dolar AS, serta berpotensi menambah penerimaan negara 210-600 juta dolar AS per tahun.

Kerja sama strategis ini diharapkan dapat membuka lapangan kerja sebesar 418 ribu yang tersebar diberbagai sektor mulai dari manufaktur, konstruksi, operator hingga pemeliharaan panel surya.

Baca juga artikel terkait BAHLIL atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra