tirto.id - Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kemensos menyampaikan terdapat 10 nama yang masuk dalam daftar usulan calon Pahlawan Nasional 2025. Berikut daftar usulan nama Pahlawan Nasional 2025 selain Soeharto.
Daftar 10 nama yang masuk dalam daftar usulan calon Pahlawan Nasional 2025 tersebut, enam nama merupakan pengajuan kembali dari tahun-tahun sebelumnya. Sementara empat nama lain adalah usulan nama baru
“Untuk tahun 2025 sampai dengan saat ini, memang sudah ada proposal yang masuk ke kami, itu ada sepuluh. Empat pengusulan baru, dan enam adalah pengusulan kembali di tahun-tahun sebelumnya,” ujar Mira Riyati, Selasa (18/3/2025), dikutip via laman Kemensos.
Masuknya kembali Soeharto dalam daftar Pahlawan Nasional menimbulkan reaksi keras dari dikalangan masyarakat sipil. Pasalnya, Soeharto dinilai memimpin dengan tangan besi melalui rezim Orde Baru yang penuh dengan pelanggaran HAM, pengekangan kebebasan sipil, dan penyalahgunaan kekuasaan.
Daftar Usulan Nama Pahlawan Nasional 2025
Pengusulan calon Pahlawan Nasional tahun 2025 digagas oleh Kementerian Sosial dengan Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP). TP2GP terdiri dari Staf Ahli, akademisi, budayawan, perwakilan BRIN, TNI, serta Perpustakaan Nasional.
Usulan nama Pahlawan Nasional 2025 akan diverifikasi oleh tim TP2GP. Kemudian, pada sidang pleno TP2GP akan menyampaikan rekomendasi usulan calon Pahlawan Nasional dari Menteri Sosial kepada Presiden.
Presiden Prabowo Subianto selanjutnya memilih daftar nama yang diajukan untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Berikut daftar usulan nama Pahlawan Nasional 2025 beserta profil singkat:
1. K.H. Abdurrahman Wahid (Jawa Timur)
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur lahir pada 7 September 1940 di Denannyar, Jombang ,Jawa Timur. Gus Dur merupakan presiden ketiga Indonesia. Gus Dur menjabat Indonesia mengalami krisis pasca Reformasi.Gus Dur termasuk salah satu tokoh yang berani menentang kesewenang-wenangan rezim Orba Di awal kepemimpinannya, Gus Dur mengirim delegasi para ekonom tanah air ke negeri Paman Sam.
Gus Dur juga dikenal pembelaannya terhadap orang tertindas, menjunjung tinggi pluralisme, dan dikenal sebagai pembela kaum minoritas yang tangguh.
2. Jenderal Soeharto (Jawa Tengah)
Soeharto lahir di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta pada 8 Juni 1921. Ia tercatat sebagai presiden yang paling lama menjabat, yakni selama 32 tahun.Dalam kepemimpinannya, ia mendapat dukungan penuh dari militer dan memanfaatkan kemarahan rakyat kepada Partai Komunis Indonesia (PKI).
Ia juga menggunakan beberapa cara untuk mempertahankan kekuasannya, diantara dengan ,menyingkirkan semua Perwira yang berorientasi kiri dan Sukarnois serta mempromosikan para jenderal yang dianggap tidak berpotensi memakai tentara untuk melawannya.
Orang-orang yang dipandang kritis kepada kekuasaan Soeharto akan disingkirkan dari panggung politik. Pada pertengahan 1997, masa kekuasaan Soeharto mulai terkikis akibat krisis moneter yang terjadi di Indonesia.
Soeharto akhirnya mundur pada 21 Mei 1998, bertepatan dengan 70 hari setelah ia terpilih menjadi presiden untuk ketujuh kalinya.
3. K.H. Bisri Sansuri (Jawa Timur)
Bisri Syansuri lahir pada 18 September 1886 di Desa Tayu, Pati, Jawa Tengah. Ia pernah menjadi inisiator pendirian pesantren perempuan pertama. Bisri Syansuri juga aktif sebagai anggota Dewan Konstituante pada rentang 1955-1959.Kiai Bisri pernah ditunjuk sebagai anggota Komite Nasional Indonesia (KNIP) pada 1946, setahun setelah proklamasi kemerdekaan.
Diketahui, Bisri Syansuri pernah menolak ide Presiden Sukarno untuk pengganti DPR hasil pemilu 1955 dengan DPR Gotong Royong (DPR GR). Bisri Syansuri juga pernah menjabat sebagai Rais Aam NU, menggantikan Kiai Wahab yang meninggal pada 1971.
4. Idrus bin Salim Al-Jufri (Sulawesi Tengah)
Idrus bin Salim Al-Jufri atau dikenal dengan sebutan Guru Tua lahir di di kota Taris, Hadramaut, Yaman pada 15 Maret 1892 M. Ia merupakan tokoh pejuang dari sadah Ba'Alwi di Provinsi Sulawesi Tengah dalam bidang pendidikan agama Islam.Idrus bin Salim Al-Jufri merupakan pendiri lembaga pendidikan Islam Alkhairaat di Palu, Sulawesi Tengah pada awal 1930. Ia menyebarkan ajaran Islam dan menanamkan nilai nasionalisme di kawasan timur Indonesia.
Kala itu, para murid yang belajar di Alkhairaat tidak dipungut biaya, sehingga para murid lebih fokus dalam belajar. Sementara gaji untuk para guru dan staf sekolah dibiayai dari hasil berdagang.
5. Teuku Abdul Hamid Azwar (Aceh)
Teuku Hamid Azwar lahir pada 23 Oktober 1916, seorang politikus yang turut mendirikan Partai Indonesia Raya (Parindra) di Aceh. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ia terlibat dalam pendirian Angkatan Pemuda Indonesia (API).Dalam perkembangannya API berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), setelah itu menjadi Tentara Republik Indonesia, dan akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Mengutip laman Antara, Teuku Hamid mendapatkan kedudukan cukup tinggi dan penting, yaitu sebagai Kepala Staf Divisi V Aceh dengan pangkat Mayor dan Letkol. Ia memimpin pelucutan senjata tentara Jepang serta mencegah Belanda untuk kembali menduduki Aceh saat agresi kedua.
Teuku Hamid juga mendirikan perusahaan dagang Central Trading Company (CTC) yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan TNI.
CTC tidak hanya memasok senjata, amunisi, dan obat-obatan kepada TNI, tetapi juga melakukan pembelian pesawat AVRON ANSON untuk memperkuat Angkatan Udara dana Kapal Laut PPB 58 LB untuk memperkuat angkatan laut Indonesia.
Tahun 1950, Teuku Hamid Azwar melepaskan tanda pangkatnya dalam militer dengan pangkat terakhir sebagai Letnan Kolonel. Ia meninggal dunia dalam usia 80 tahun di Singapura, pada 7 Oktober 1996.
6. K.H. Abbas Abdul Jamil (Jawa Barat)
K.H. Abbas Abdul Jamil lahir pada 7 Maret 1922 di Buntet Cirebon, Jawa Barat. Ia merupakan ulama dan Pengasuh Pesantren Buntet di Desa Mertapada Kulon, Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat.Menghimpun dari berbagai sumber, saat akan melakukan serangan ke penjajah, Bung Tomo sempat bertanya kepada pendiri Nahdatul Ulama, Kiai Hasyim As'ari.
Kiai Hasyim As'ari menyarankan agar serangan ditunda hingga Kiai Abbas datang. Kemudian, pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, K.H. Abbas Abdul Jamil ditunjuk sebagai panglima perang.
7. Anak Agung Gede Anom Mudita (Bali)
Anak Agung Gede Anom Mudita atau Kapten Mudita mengkoordinir perjuangan di Wilayah Bali Timur yang meliputi Bangli, Gianyar, Klungkung dan Karangasem.Ia besama pasukan melawan Tentara Sekutu yang menggandeng tentara NICA (Netherland-Indies Civil Administration) untuk menguasai Indonesia.
Dilansir dari laman Antara, dalam pertempuran yang terjadi di Desa Penglipuran melawan tentara NICA Anak Agung Gede Anom Mudita gugur pada 20 November 1947.
Hari gugurnya Kapten Anak Agung Gede Anom Mudita diperingati setiap tahun oleh pemerintah dan masyarakat Bangli.
8. Deman Tende (Sulawesi Barat)
Deman Tende merupakan tokoh dari Sulawesi Barat yang diusulkan menjadi calon Pahlawan Nasional 2025.9. Prof. Dr. Midian Sirait (Sumatera Utara)
Prof. Dr. Midian Sirait lahir di Lumban Sirait, Sumatera Utara pada 12 November 1928. Ia merupakan pakar farmasi yang pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan selama 10 tahun (periode 1978-1988).Ia berperan penting dalam membuat kebijakan penetapan daftar obat esensial. Melansir laman Badan POM, pada Jumat 13 Agustus 2010, Prof. Dr. Midian Sirait mendapatkan anugerah Tanda Kehormatan RI Bintang Mahaputera Utama yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Tanda Kehormatan tersebut dianugerahkan kepada tokoh yang dianggap berjasa dalam meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan bangsa. Tak hanya itu, Prof. Dr. Midian Sirait juga salah satu pejuang kelestarian kawasan Danau Toba di Sumatera Utama.
10. K.H. Yusuf Hasim (Jawa Timur)
KH M Yusuf Hasyim lahir pada 3 Agustus 1929. Putra KH Hasyim Asy’arim tersebut merupakan komandan Banser pertama,Yusuf Hasyim terpilih sebagai Komandan Kompi Laskar Hizbullah Jombang. Pasukan Belanda merangsek ke wilayah selatan untuk mengejar Laskar Hizbullah pimpinan Yusuf Hasyim.
Dada kirinya sempat tertembak dalam kontak senjata di Desa Nglaban, Cukir. Peluru tersebut sempat membuatnya pingsan selama berjam-jam.
Laskar Hisbullah kemnudian dilebur ke dalam Tentara Nasional Indonesia pada tahun 1947. Yusuf Hasyim menjadi tentara aktif dan mendapat pangkat letnan satu hingga pensiun.
KH M Yusuf Hasyim bersama TNI Siliwangi berjuang mengamankan Pesantren Gontor dari PKI. Ia berhasil mengamankan beberapa tokoh yang diculik PKI seperti Kapten Hambali, KH Ahmad Sahal dan Pengasuh Pondok Modern Gontor Ponorogo, KH Imam Zarkasyi.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id





































