tirto.id - Contoh teks sejarah pribadi dapat dijadikan referensi penting sebelum menulis teks sejarah pribadi. Penulisan teks sejarah pribadi membutuhkan pengetahuan tentang struktur teks sejarah pribadi sehingga penulis dapat memahami poin-poin yang wajib disampaikan dalam teks.
Berbagai peristiwa penting perlu disampaikan dalam teks sejarah pribadi. Mulai dari momen istimewa, momen titik balik kehidupan, suka dan duka, hingga momen besar yang mengubah pandangan hidup.
Semua perjalanan tersebut membentuk sejarah pribadi yang unik. Teks sejarah pribadi singkat dan strukturnya termasuk dalam materi pelajaran Bahasa Indonesia.
Pembelajaran tentang teks cerita sejarah pribadi singkat perlu disampaikan dengan contoh teks sejarah pribadi. Pengalaman menulis teks sejarah pribadi akan menambah pemahaman praktikal seseorang terhadap materi teks sejarah pribadi.
Bagaimana struktur teks sejarah pribadi? Seperti apa contoh teks sejarah pribadi? Simak selengkapnya dalam artikel ini.
Apa Itu Teks Sejarah Pribadi?

Sebelum mempelajari tentang struktur teks sejarah pribadi, perlu terlebih dahulu diketahui penjelasan apa itu teks sejarah pribadi? Teks sejarah pribadi adalah jenis teks naratif yang berisi pengalaman nyata seseorang yang dianggap penting atau bermakna secara pribadi.
Jenis teks satu ini bersifat subjektif karena ditulis berdasarkan sudut pandang penulisnya. Itu artinya, informasi yang ditulis dalam teks sejarah pribadi benar-benar pernah terjadi dan mempunyai nilai emosional atau reflektif bagi penulis.
Berdasarkan E-Modul Bahasa Indonesia Paket C Setara SMA/MA Kelas XII (Ami Rahmawati, dkk., 2020), teks sejarah pribadi dibuat seseorang untuk memberitahukan perjalanan dan pengalaman hidupnya. Teks sejarah pribadi disebut juga dengan biografi (jika dituliskan oleh orang lain) dan disebut autobiografi (jika ditulis oleh diri sendiri).
Beberapa alasan mendasari seseorang menyusun teks sejarah pribadi. Saat akan membuat teks sejarah pribadi, penulis wajib memperhatikan hal-hal di bawah ini:
1. Perhatikan struktur teks harus terdiri dari orientasi, urutan peristiwa, dan reorientasi
2. Gunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti
3. Tentukan siapa yang akan menjadi pembaca teks tersebut
4. Tulislah pendahuluan yang menarik perhatian
5. Tonjolkan informasi yang relevan dengan minat dan pengalaman
6. Buatlah penutup yang tajam dan singkat
Teks sejarah pribadi biasanya ditulis dalam bentuk cerita naratif dengan sudut pandang orang pertama, yakni ‘aku’ atau ‘saya’. Topik teks sejarah pribadi umumnya beragam. Mulai dari pengalaman pertama kali masuk sekolah, menghadapi ujian besar, pindah rumah, hingga peristiwa penting dalam keluarga.
Latihan menulis teks sejarah pribadi sering dilakukan untuk melatih kemampuan menulis. Siswa juga diajak berpikir kritis dengan menuliskan pengalaman hidupnya.
Struktur Teks Sejarah Pribadi

Struktur teks sejarah pribadi perlu dipahami sebelum menuliskannya. Ini menjadi bagian yang penting supaya teks sejarah pribadi sesuai dengan alur strukturnya.
Bagaimana struktur teks sejarah pribadi? Berikut penjelasannya:
1. Orientasi
Orientasi merupakan struktur pertama dari teks sejarah pribadi. Bagian ini berperan sebagai pengantar cerita.Penulis memperkenalkan tokoh utama, yakni dirinya sendiri, latar waktu, dan latar tempat peristiwa. Struktur orientasi ini mengarahkan pembaca untuk memahami konteks awal dari kisah yang akan diceritakan.
2. Urutan Peristiwa
Struktur teks sejarah pribadi berikutnya ialah urutan peristiwa. Bagian ini menjadi inti dari teks sejarah pribadi.Penulis menceritakan rangkaian peristiwa secara kronologis. Mulai dari kejadian awal, konflik, hingga penyelesaian. Struktur ini penting untuk disampaikan supaya alur cerita jelas, runtut, dan mudah diikuti.
3. Reorientasi
Reorientasi menjadi struktur selanjutnya. Bagian ini berupa penutup atau refleksi pribadi terhadap pengalaman yang diceritakan.Cerita yang dihadirkan dalam bagian reorientasi ialah perasaan, pelajaran hidup, atau perubahan yang dialami penulis usai melalui suatu peristiwa. Penulis juga bisa menyampaikan nilai atau makna mendalam yang ia peroleh dari perjalanan hidupnya.
Struktur teks sejarah pribadi di atas terbilang mudah dipahami. Penulisan teks sejarah pribadi menjadi tidak begitu sukar jika mengikuti struktur teks sejarah pribadi di atas. Dengan demikian, alur teks sejarah pribadi menjadi semakin runtut dan mudah dipahami.
Ciri-Ciri Teks Sejarah Pribadi

Teks sejarah pribadi tentunya berbeda dari jenis teks lainnya. Perbedaan ini dapat diamati melalui ciri-ciri teks sejarah pribadi. Berikut penjelasan ciri-ciri teks sejarah pribadi:
-Teks sejarah pribadi ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulis
-Menggunakan sudut pandang orang pertama
-Mempunyai alur kronologis yang jelas
-Mengandung unsur refleksi atau perenungan pribadi
-Disusun dengan struktur teks sejarah pribadi: orientasi, urutan peristiwa, dan reorientasi
-Menggunakan kalimat naratif dan deskriptif
-Terkadang mengandung emosi atau nilai-nilai moral yang didapatkan dari pengalaman
Ciri-ciri teks sejarah pribadi perlu dikenali supaya dapat mengidentifikasi teks sejarah pribadi dengan baik. Teks sejarah pribadi tidak hanya tulisan tentang catatan kehidupan, tetapi juga tulisan yang bernilai literasi dan bisa dikaji secara akademis.
Apalagi pembelajaran teks sejarah pribadi juga disampaikan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Secara tak langsung, siswa juga akan diajak untuk merefleksikan perjalanan hidup dengan menulis teks sejarah pribadi.
Contoh Teks Sejarah Pribadi Singkat

Contoh teks sejarah pribadi singkat bisa menjadi bahan inspirasi sebelum menulisnya. Melalui contoh teks sejarah pribadi, penulis juga memiliki gambaran runtut tentang seperti apa teks sejarah pribadi.
Silakan menyimak contoh teks sejarah pribadi singkat serta penjelasan strukturnya:
1. Judul: Pertama Kali Lomba Membaca Puisi
Orientasi
Saat aku masih kelas 4 SD, Ibu Mita (guru Bahasa Indonesia) memintaku untuk maju mewakili sekolah dalam lomba membaca puisi. Jujur saja, aku kaget. Sebelumnya aku tak pernah ikut lomba membaca puisi.Lomba membaca puisi ini diadakan tingkat kota/ kabupaten. Artinya aku akan berlomba dengan teman-teman dari SD lain di satu kota. Saat itu, aku sempat bertanya pada Bu Mita. “Bu, mengapa saya diajukan untuk mewakili lomba baca puisi?”
Bu Mita menjawab, “Karena Ibu yakin kamu bisa, Nak. Ibu sudah menyimak kamu saat membaca tugas puisi di kelas. Ibu lihat kamu bisa mewakili sekolah untuk lomba baca puisi.” Begitu jelasnya. Ah, iya aku jadi teringat waktu pelajaran Bahasa Indonesia, kami diminta membaca puisi di depan teman-teman. Aku tak menyangka ternyata Bu Mita menilai dengan baik saat aku membaca puisi.
Meskipun begitu, tetap saja aku merasa gugup untuk mewakili sekolah. Apalagi ini tingkat kota atau kabupaten dan ini menjadi pengalaman pertama kali dalam hidupku untuk tampil di panggung.
Urutan Peristiwa
Bu Mita menginformasikan padaku tentang lomba baca puisi tepat dua bulan sebelum pelaksanaan lomba. Selama dua bulan itu juga aku merasa gugup, gundah, dan gelisah.Aku berusaha meyakinkan diri, tetapi tetap saja aku tidak tenang. Muncul perasaan berat karena rasanya aku akan menanggung nama baik sekolah. Namun, Bu Mita selalu meyakinkan bahwa aku bisa.
Bu Mita juga selalu menemani persiapan lomba baca puisi dengan optimal. Kami sering berlatih sepulang sekolah. Bu Mita banyak memberi saran positif untuk penampilanku. Aku terus berkembang dari latihan demi latihan.
Tibalah hari H pelaksanaan lomba. Perasaan gugup tentu ada. Namun, Bu Mita selalu menenangkan. Ada Bunda juga yang menemaniku hari ini.
Aku mendapat nomor urut 10 dari 20 peserta lomba. Saat itu, ada 3 juri lomba yang semuanya terlihat ramah dan baik. Aku jadi tak begitu gugup melihatnya.
Namaku pun dipanggil, “Putri Aqila dari SD Al-Birruni...” Rasanya gugup, tetapi aku harus menghadapinya dengan tenang. Aku mengingat pesan Bu Mita supaya tetap fokus ketika di atas panggung.
Alhamdulillah, aku berhasil melalui hari itu dengan baik. Aku membacakan puisi dengan tenang, lantang, dan baik-baik saja. Betul kata Bu Mita, “Kamu harus tenang supaya tidak gugup di atas panggung...”
Selesai membacakan puisi, seluruh ruangan memberi tepuk tangan. Aku sangat lega dan bahagia melalui hari itu dengan baik.
Kami menunggu hasil pengumuman juara pada sore harinya. Ada rasa yakin aku mendapatkan 3 besar juara. Namun, aku tak ingin terlalu mengharapkannya, “Yang penting aku mengusahakan yang terbaik dariku,” pikirku selalu begitu.
Pengumuman juara pun tiba. Saat juara 3 dibacakan, aku berpikir namaku akan dipilih sebagai juara 3. Aku merasa tak sebagus itu, tetapi juga tak seburuk itu. Jadi menurutku juara 3 masuk akal.
Namun, ternyata juara 3 diperoleh siswa SD lain. Aku jadi tak memiliki harapan selanjutnya karena aku merasa tidak sebagus itu untuk menjadi juara 1 dan 2.
Keraguanku terpatahkan. Ternyata saat pengumuman juara 2, namaku disebut. Iya, benar sekali. “Putri Aqilah dari SD Al-Birruni sebagai juara 2 lomba membaca puisi tingkat kota Surakarta.”
Alhamdulillah... aku sangat senang dan sangat menghargai semua usahaku dan usaha Bu Mita. Tak lupa, Bunda yang selalu mendukung dan menemaniku. Terima kasih Yaa Allah.
Reorientasi
Perjalanan panjang tentang pengalaman pertama kali mengikuti lomba baca puisi akan selalu kukenang hingga kapan pun. Pengalaman ini membuatku mengerti dan memahami cara mengendalikan rasa ragu dan rasa rakut.Aku belajar banyak hal bahwa keberanian tidak berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian hadir ketika kita bersedia melangkah meskipun rasa takut itu tetap ada.
Sejak saat itu, aku jadi lebih berani untuk tampil di depan umum. Aku menjadi yakin bahwa aku bisa melalui kesulitan.
Teks sejarah pribadi tidak hanya tentang menceritakan masa lalu, tetapi juga tentang menggali makna dari pengalaman hidup. Struktur yang runtut dan penggunaan bahasa yang personal akan membantu menghadirkan kesan refleksi yang mendalam.
Penulis: Nurul Azizah
Editor: Nurul Azizah & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id






































