Menuju konten utama

7 Cerita Rakyat Kalimantan Selatan dan Sinopsis Singkatnya

Nusantara kaya akan cerita rakyat yang bermakna. Berikut sinopsis cerita rakyat dari Kalimantan Selatan yang bisa jadi bahan bacaan para siswa di sekolah.

7 Cerita Rakyat Kalimantan Selatan dan Sinopsis Singkatnya
Ilustrasi membaca dongeng cerita rakyat. foto/istockphoto

tirto.id - Cerita rakyat Kalimantan Selatan dan wilayah lainnya, biasanya memiliki nilai moral, dan nilai-nilai budaya yang tertanam di dalamnya. Cerita rakyat ini biasanya berupa legenda atau cerita fiksi yang menyelipkan nilai kearifan lokal.

Fungsi cerita rakyat sendiri umumnya sebagai media hiburan, pendidikan moral, etika, dan berperan serta dalam menjaga nilai-nilai budaya setempat. Cerita rakyat juga menjadi bagian dari sastra tradisional yang menarik untuk digali dan dipelajari lebih mendalam.

dongeng cerita rakyat

Membacakan dongeng cerita rakyat. foto/istockphoto

Kumpulan Cerita Rakyat dari Kalimantan Selatan

Ada banyak cerita rakyat Kalimantan Selatan yang memiliki nilai budaya dan pesan moral yang dapat dipetik. Berikut ini sinopsis singkat tujuh cerita rakyat Kalimantan Selatan yang populer, mulai dari Putri Junjung Buih hingga Pangeran Biawak:

1. Putri Junjung Buih

Cerita rakyat Kalimantan Selatan Putri Junjung Buih adalah salah satu yang paling terkenal. Dahulu kala, berdiri kerajaan yang berbama Amuntai di Kalimantan Selatan. Kerajaan ini memiliki keunikan karena dipimpin oleh dua raja yang bersaudara, yakni raja Sukamaraga dan Patmaraga.

Rakyat kerajaan Amuntai ini hidup makmur dan adil. Namun kebahagiaannya belum lengkap karena kedua raja Amuntai ini belum memiliki keturunan untuk meneruskan takhta. Baik raja Sukamaraga maupun Patmaraga selalu berdoa sungguh-sungguh agar diberi keturunan.

Pada suatu hari, permaisuri raja Sukmaraga hamil dan sembilan bulan kemudian melahirkan dua anak laki-laki kembar. Raja Patmaraga menyambut gembira kelahiran dua anak kembar tersebut, tetapi juga tersimpan rasa iri karena keinginan untuk memiliki keturunan.

Raja Patmaraga kemudian berkunjung ke Candi Agung untuk bertapa dan meminta keturunan ditemani Datuk Punjung. Selepas bertapa dari Candi Agung, raja Patmaraga menemukan bayi perempuan yang berada di atas buih air di sungai.

Anehnya, bayi itu dapat berbicara dan meminta syarat bagi siapa saja yang ingin menjemputnya. Syarat yang diminta adalah sebuah selimut tenunan yang sempurna dan 40 dayang yang harus selesai dalam waktu setengah hari.

Kerajaan Amuntai kemudian menyelenggarakan sayembara untuk memenuhi permintaan bayi tersebut. Seorang wanita bernama Ratu Kuripan menyerahkan selimut tenunan sempurna dengan motif yang disebut dengan Langgudi.

Setelah mendapatkan selimut tenun dan menyiapkan 40 dayang, Putri Junjung Buih pun akhirnya dijemput dan diangkat sebagai pewaris takhta kerajaan Amuntai.

2. Gunung Batu Bini dan Gunung Batu Laki

Salah satu cerita rakyat Kalimantan Selatan singkat adalah legenda terbentuknya gunung Batu Bini dan gunung Batu Laki. Legenda ini bermula dari seorang laki-laki bernama Angui yang tinggal bersama ibunya bernama Diang Ingsung.

Angui sering mencari ikan menggunakan sampan bersama ibunya. Ketika dewasa, Angui mengumpulkan rotan untuk dijual.

Rotan yang dikumpulkan oleh Angui memiliki kualitas yang bagus dan diikat dengan rapi dan telaten. Pada suatu hari, seorang saudagar besar terkesan dengan kerja keras dan ketelatenan Angui dan memutuskan mengajaknya berlayar.

Setelah meminta izin ibunya, Angui ikut berlayar dengan saudagar besar tersebut. Berkat kerja keras dan ketelatenannya, Angui akhirnya dijodohkan dan menikah dengan putri saudagar tersebut.

Pada suatu hari, Angui ingin menemui ibunya dengan menggunakan kapal yang besar dan megah. Sesampainya di kampung halaman, Diang langsung menyambut kepulangan putranya.

Angui yang mengenali ibunya malu mengakuinya karena terlihat jelek dan kumal. Ia kemudian memerintahkan anak buahnya untuk mengusirnya dan kapal mereka pun menjauhi pantai.

Diang pun hancur hatinya mendapati anaknya durhaka. Ia pun berdoa agar anaknya dan hartanya hancur menjadi batu. Tak lama kemudian, petir dan badai menghempas kapal Angui dan membelahnya menjadi dua. Bagian pertama berisi Angui dan kru kapal berubah menjadi gunung Batu Laki, dan bagian lainnya yang berisi istri Angui berubah menjadi gunung Batu Bini.

3. Mandin Tangkaramin

Cerita rakyat Kalimantan Selatan berikutnya adalah tentang legenda air terjun Mandin Tangkaramin. Dahulu kala hiduplah dua orang pemuda bujang dengan sifat yang berbeda, yakni Bujang Alai dan Bujang Kuratauan. Karena sifatnya yang bertentangan, keduanya selalu bermusuhan.

Bujang Alai adalah pemuda tampan dan anak orang kaya, sehingga memiliki sifat angkuh dan sewenang-wenang. Bujang Alai selalu membawa senjata berupa keris. Sedangkan Bujang Kuratauan berasal dari keluarga sederhana dan selalu sopan terhadap siapa saja. Ia selalu membawa senjata berupa parang untuk membela diri.

Pada suatu hari, Bujang Alai dan Bujang Kuratauan terlibat pertikaian yang cukup sengit. Keduanya bertarung habis-habisan di air terjun Mandin Tangkaramin. Bujang Alai kalah dan tewas dalam pertarungan tersebut.

Keluarga Bujang Alai tidak bisa menerima anaknya tewas dan berencana menyerang Bujang Kuratauan dan keluarganya. Sementara itu Bujang Kuratauan dan ayahnya menyusun strategi untuk menangkal serangan keluarga Bujang Alai dengan menyiapkan obor di malam hari.

Keluarga Bujang Alai kemudian melakukan penyerangan pada malam hari dengan tampak mengikuti gerakan obor. Bujang Kuratauan dan ayahnya memerintahkan untuk melempar semua obor ke Mandin Tangkaramin.

Sementara keluarga Bujang Alai yang fokus mengejar obor tak menyadari bahwa mereka jatuh ke air Mandin Tangkaramin dan tewas karena terbentur batu-batu tajam. Sampai saat ini, masyarakat sekitar percaya bahwa batu yang berwarna merah di air terjun Mandin Tangkaramin adalah batu yang terkena darah keluarga Bujang Alai.

HARI DONGENG SEDUNIA

Siswa SD Negeri Tugu Solo mewarnai lukisan bergambar cerita rakyat bertajuk Dongeng Nusantara Dalam Kreasi Warna. ANTARA FOTO/Maulana Surya/pd.

4. Awang Sukma dan Telaga Bidadari

Awang Sukma dan telaga Bidadari adalah salah satu cerita rakyat Kalimantan Selatan yang cukup populer. Kisah ini berawal dari seorang lelaki tampan yang pintar memainkan seruling bernama Awang Sukma. Lelaki tampan ini tinggal di hutan yang memiliki telaga yang jernih.

Pada suatu malam, Awang Sukma terbangun dari tidurnya karena mendengar suara yang cukup ramai dari arah telaga. Saat mendatangi telaga, Awang Sukma terkejut karena ada tujuh bidadari cantik yang sedang mandi di telaga tersebut.

Awang Sukma kemudian mengambil salah satu selendang dari bidadari yang sedang mandi tersebut dan menyimpannya di lumbung padi. Selendang tersebut ternyata milik bidadari atau putri bungsu yang paling cantik. Karena selendangnya hilang, ia tidak bisa terbang kembali ke kayangan.

Bidadari tersebut merasa ketakutan karena tidak bisa kembali lagi ke kayangan. Awang Sukma kemudian menemuinya dan meminangnya. Bidadari tersebut menerima pinangannya. Mereka kemudian hidup bahagia dan dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Kumalasari.

Pada suatu hari, bidadari tersebut menemukan selendangnya di lumbung padi. Amarahnya tak terbendung dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kayangan. Bidadari tersebut menangis memeluk Kumalasari dan mengatakan bahwa ia tak lagi dapat bersatu dengan ayahnya.

Bidadari berpesan pada Awang Sukma jika Kumalasari rindu, maka ambil tujuh biji kemiri dan memasukkannya ke dalam bakul. Ia harus menggoncangkan bakul tersebut, sambil melantunkan lagu dengan sulingnya agar dapat bertemu lagi dengan bidadari tersebut.

5. Burung Punai

Salah satu cerita rakyat Kalimantan Selatan yang cukup menarik adalah legenda burung Punai. Kisah ini berawal dari seorang pemuda bernama Andin yang berkelana dari satu desa ke desa lainnya. Pada suatu hari, Andin menemukan sebuah desa yang cukup makmur yang berada di dekat sungai dan rawa, serta memutuskan untuk menetap di sana.

Andin hidup dengan cara memulut burung. Keahliannya dalam memulut burung memang luar biasa, sehingga penduduk desa menjulukinya sebagai Datu Pulut. Pada suatu hari, Datu Pulut memasang pulutnya di pohon pinggir sungai yang airnya berasal dari telaga. Karena saat itu tiba-tiba hujan, Datu Pulut segera naik ke daratan.

Saat berteduh di pohon rindang, Datu Pulut dikejutkan dengan adanya tujuh bidadari yang sedang mandi di telaga dengan selendang warna-warni. Datu Pulut kemudian mengambil dan menyembunyikan selendang berwarna jingga. Salah satu bidadari tidak dapat kembali ke kayangan karena selendangnya hilang dan ditinggalkan oleh saudara-saudaranya.

Datu Pulut kemudian menemui bidadari yang ditinggal tadi dan meminangnya. mereka kemudian hidup bahagia dan dikaruniai seorang putri. Pada suatu hari, bidadari tersebut menemukan selendang jingganya di tempat penyimpanan padi. Malamnya, bidadari tersebut memutuskan untuk meninggalkan Datu Pulut dan putrinya untuk kembali ke kayangan.

Bidadari tersebut berpesan pada Datu Pulut untuk membuatkan ayunan di pohon Berunai ketika anaknya merindukannya. Ia akan turun untuk menyusui anaknya dengan syarat Datu Pulut tidak boleh mendekatinya. Datu Pulut selalu mengantarkan anaknya ke ayunan tersebut untuk bertemu ibunya.

Pada suatu hari Datu Pulut tak bisa menahan kerinduannya dan memutuskan untuk mendekati bidadari yang sedang menyusui anaknya. Bidadari dan saudara-saudaranya kemudian berubah menjadi burung Punai. Datu Pulut menyesali perbuatannya karena ia dan anaknya tak lagi dapat bertemu bidadari tersebut.

6. Pangeran Biawak

Pangeran Biawak merupakan salah satu cerita rakyat Kalimantan Selatan yang cukup populer. Cerita ini bermula dari sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang memiliki tujuh putri yang cantik. Sang raja khawatir putrinya tidak segera menikah dan memutuskan untuk membuat sayembara agar dapat menemukan calon suami untuk anaknya.

Raja tersebut mengumumkan sayembara yang boleh diikuti oleh semua kalangan. Syaratnya cukup berat, yakni peserta harus membangun istana di seberang sungai dalam waktu singkat.

Akhirnya muncul 6 pemuda yang sanggup membangun enam istana di seberang sungai dalam waktu singkat. Sayangnya, belum ada yang dapat membangun jembatan yang menghubungkan keenam istana tersebut dengan kerajaan.

Akhirnya muncul seorang ibu tua yang mencalonkan anaknya yang berwujud biawak untuk membangun jembatan tersebut dalam waktu singkat. Biawak tersebut sangat sakti dan dapat membangun jembatan yang megah dalam waktu semalam. Sang raja terkejut dan setengah hati menjodohkan putrinya dengan seekor biawak.

Keenam putri raja menolak dijodohkan dengan biawak. Hanya putri bungsu sang raja yang mau dijodohkan dengan biawak agar amanat ayahnya dapat terlaksana. Pesta pernikahan digelar meriah dan saat malam pertama, sang putri bungsu tertidur dan biawak hanya terdiam di sudut ruangan.

Putri bungsu tersebut tiba-tiba terbangun dan kaget karena ada seorang pria tampan di kamarnya dan biawak yang jadi suaminya menghilang. Pria tampan tersebut mengatakan bahwa biawak tersebut adalah dirinya karena telah melakukan kesalahan fatal dan dikutuk menjadi biawak. Cara melepas kutukannya adalah adanya seorang wanita yang mau menikahinya dan membakar kulit si biawak.

7. Legenda Lok Si Naga

Legenda Lok Si Naga juga merupakan salah satu cerita rakyat Kalimantan Selatan yang cukup populer. Kisah ini berawal dari keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak yang tinggal di pinggir sungai. Keluarga ini hidup dari hasil tangkapan ikan di sungai.

Pada suatu hari, tangkapan mereka semakin berkurang dan tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga tersebut. Akhirnya ayah dan ibu keluarga tersebut menelusuri sungai dan menemukan telur berukuran besar. Mereka kemudian merebus telur tersebut untuk makan.

Sang ayah dan ibu memakan telur tersebut ketika matang. Sedangkan kedua anaknya belum sempat makan karena sedang asyik bermain. Setelah selesai makan, ayah dan ibu tersebut berubah menjadi naga. Hal ini membuat kedua anaknya menangis ketakutan.

Ayah dan ibu yang sudah berubah menjadi naga ini menjelaskan pada kedua anaknya bahwa mereka akan dapat kembali ke wujud semula setelah mengalahkan naga penjaga sungai. Mereka berpesan kepada kedua anaknya, jika air sungai berubah merah artinya kedua orang tuanya kalah melawan naga. Jika air sungai berubah putih, maka artinya kedua orang tuanya berhasil mengalahkan sang naga.

Kedua anaknya menunggu di tepi sungai sambil menangkap ikan. Tak lama kemudian, air sungai berubah menjadi putih yang artinya kedua orang tuanya berhasil mengalahkan naga penjaga sungai. Namun, kedua orang tuanya tak pernah kembali hingga kedua anaknya menghembuskan nafas terakhirnya.

Kelokan tempat keluarga ini tinggal kini disebut sebagai Lok Si Naga.

Mendongeng di Perpus

Seorang guru sedang membacakan cerita kepada murid-muridnya di perpustakaan. Foto/iStock

Demikian tujuh cerita rakyat Kalimantan Selatan yang cukup populer dan menarik untuk diambil pesan moralnya. Semoga cerita rakyat ini dapat menghibur dan menjadi inspirasi bagi pembacanya.

Baca juga artikel terkait DONGENG atau tulisan lainnya dari Ditya Pandu Akhmadi

tirto.id - Edusains
Kontributor: Ditya Pandu Akhmadi
Penulis: Ditya Pandu Akhmadi
Editor: Lucia Dianawuri