tirto.id - Sinopsis cerita “Batu Menangis” dapat dibaca untuk memahami secara singkat keseluruhan cerita legenda “Batu Menangis”. Cerita rakyat “Batu Menangis” berasal dari tanah Kalimantan Barat dan menceritakan tentang seorang anak yang durhaka kepada ibunya.
Cerita rakyat memiliki peran penting untuk melestarikan nilai budaya dan kearifan lokal. Kandungan cerita dalam legenda “Batu Menangis” sangatlah sarat makna pesan moral yang relevan untuk berbagai generasi.
Pewarisan cerita rakyat secara turun temurun berperan penting untuk mendidik dan mengedukasi generasi masa kini supaya tetap mengedepankan nilai moral. Orang tua dan orang dewasa di sekitar lingkungan anak-anak perlu mewariskan cerita rakyat kepada anak-anak.
Nilai-nilai kebaikan dapat ditanamkan melalui berbagai cerita rakyat yang kental dengan budaya daerah. Melalui cerita rakyat, anak-anak dapat diajarkan untuk menerapkan nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Lantas, bagaimana sinopsis cerita rakyat “Batu Menangis”? Siapa saja tokoh dalam cerita rakyat “Batu Menangis”? Apa pesan moral dari cerita “Batu Menangis”?
Sinopsis Lengkap Legenda Batu Menangis

Sinopsis lengkap legenda “Batu Menangis” dapat dibaca untuk memahami garis besar cerita rakyat ini. Batu Menangis mengisahkan tentang hubungan seorang ibu dan anak perempuan yang bernama Darmi.
Gadis cantik bernama Darmi ini hidup bersama ibunya di sebuth desa terpencil di Kalimantan Barat. Darmi mempunyai paras yang sangat menawan. Namun, sayangnya kecantikan Darmi tidak berimbang dengan sikapnya.
Ia dikenal sebagai seorang anak yang pemalas, sombong, hingga kerap menghina ibunya yang sudah tua dan miskin. Ibu Darmi merupakan seorang pekerja keras. Setiap hari ibu bekerja demi memenuhi kebutuhan harian.
Namun, Darmi hanya berpangku tangan hari demi hari di dalam rumah, bersolek, mandi, dan mempercantik diri. Sepanjang hari ia tak melakukan aktivitas selain berdandan mempercantik diri.
Kulitnya terjaga dengan baik. Sementara itu, ibunya harus berpanas-panasan bekerja keras setiap hari. Bahkan Darmi tak mau sedikit pun membantu pekerjaan rumah.
Suatu hari, Darmi dan ibunya pergi ke pasar di kota. Sepanjang perjalanan, Darmi merasa malu berjalan bersama ibu yang berpakaian lusuh. Saat ada orang bertanya, Darmi dengan tega menjawab bahwa wanita tua yang bersamanya adalah pembantunya.
Ibunya tentu sangat sedih dan sakit hati mendengar perkataan anaknya. Namun, ibunya tetap bersabar.
Kecantikan Darmi mampu menarik hati para pemuda dan membuat para pemuda ingin mendekati Darmi. Ibunya Darmi berusaha menjaga Darmi dan memperingatkan Darmi supaya menjaga diri.
Para pemuda pun bertanya, “Siapakah perempuan tua yang bersama Darmi?” Dengan tega, Darmi menjawab bahwa perempuan tua itu adalah pembantunya.
Mendengar jawaban itu, ibu Darmi sudah hilang kesabaran. Rasa sakit hati yang teramat sangat membuat ibunya berdoa pada Tuhan supaya memberi pelajaran kepada anaknya.
Secara tiba-tiba, langit menjadi gelap dan hujan turun deras. Darmi mulai merasa tubuhnya kaku dan perlahan berubah menjadi batu.
Darmi menjerit meminta ampun. Namun, semuanya sudah terlambat. Darmi berubah menjadi batu yang konon mengeluarkan air mata. Itulah asal-usul nama “Batu Menangis”.
Tokoh dalam Kisah Cerita Rakyat Batu Menangis

Kisah cerita rakyat “Batu Menangis” memiliki dua tokoh utama. Siapa saja tokoh dalam kisah cerita rakyat “Batu Menangis”?
1. Darmi
Darmi merupakan tokoh utama dalam cerita rakyat “Batu Menangis”. Ia dikisahkan sebagai seorang gadis muda yang cantik, tetapi memiliki sifat buruk: sombong, tidak tahu berterima kasih, dan tidak menghormati ibunya.2. Ibu Darmi
Tokoh selanjutnya adalah ibu Darmi, seorang wanita tua yang penyabar, penuh kasih, dan tetap mengasihi anaknya meskipun sering diperlakukan tidak pantas. Keuletan ibu Darmi juga merepresentasikan seorang ibu yang ingin melindungi anaknya.Tokoh tambahan lainnya ialah para warga desa atau orang-orang yang Darmi temui sepanjang perjalanan, termasuk para pemuda yang mendekat Darmi. Kehadiran tokoh ini hanya dikisahkan secara sekelebat sekaligus menjadi tokoh yang menyaksikan bagaimana Darmi mempermalukan ibunya di hadapan umum.
Hikmah dan Pesan Moral Cerita Legenda Batu Menangis

Hikmah dan pesan moral cerita legenda “Batu Menangis” penting untuk diketahui. Nilai positif dapat dipahami dengan baik melalui cerita rakyat “Batu Menangis” agar disampaikan kepada anak-anak. Apa saja hikmah dan pesan moral cerita legenda “Batu Menangis?”
1. Menghormati dan Mencintai Orang Tua
Hikmah dan pesan moral yang utama dalam cerita “Batu Menangis” adalah menghormati dan mencintai orang tua. Jangan menjadi seseorang seperti Darmi yang melukai ibunya dengan kata-kata dan perbuatan.Ini merupakan perilaku yang tidak pantas dilakukan seorang anak kepada orang tua. Berikanlah cinta dan rasa hormat kepada orang tua, terutama kepada seorang ibu yang sudah melahirkan dan merawat buah hatinya sejak kecil.
2. Kesombongan Sumber Malapetaka
Kesombongan menjadi sumber malapetaka bagi siapa pun. Dalam kisah ini malapetaka dialami oleh Darmi.Darmi mendapatkan ganjaran atas perbuatan yang telah ia lakukan pada ibunya. Ia dengan berani dan teganya menghina dan menyakiti hati ibunya. Rasa sabar ibunya sudah di luar batas kesanggupan hingga akhirnya ibu Darmi berdoa pada Tuhan untuk memberi pelajaran pada Darmi.
3. Penyesalan Datang Terlambat
Darmi baru menyesali perbuatannya setelah tubuhnya mulai berubah menjadi batu. Ini menjadi sebuah ironi tentang penyesalan yang selalu datang ketika sudah terjadi.Jangan sampai menjadi anak seperti Darmi yang baru menyesali sesuatu setelah kena batunya. Cerita ini menunjukkan bahwa penyesalan yang dirasakan Darmi akan abadi lantaran dikisahkan batu ini mengeluarkan air mata terus menerus.
4. Kasih Ibu Sepanjang Masa
Ibu Darmi menunjukkan figur seorang ibu yang terus menyayangi anaknya. Karakter ibu Darmi sangatlah relevan dengan ibu-ibu pada umumnya yang tetap berkasih sayang pada anaknya meskipun anaknya berbuat buruk.Bahkan saat kesabarannya sudah di luar batas kesanggupan, ibu Darmi hanya meminta kepada Tuhan untuk mengajarkan pelajaran pada Darmi. Ibu Darmi tidak secara langsung membalas Darmi dengan amarah, tetapi ia meminta kepada Tuhan.
5. Jangan Terlalu Memanjakan Anak
Pesan moral yang tak luput dari perhatian ditilik dari sudut pandang seorang ibu. Ibu Darmi digambarkan sebagai seorang ibu yang menginginkan yang terbaik untuk anaknya.Namun, ibu Darmi terlalu memanjakan Darmi sampai membuat Darmi seenaknya sendiri. Bahkan Darmi tak mau membantu pekerjaan rumah. Ia terus sibuk dengan urusan bersolek dan berdandan tanpa mau membantu ibunya.
Pelajaran penting dapat diambil dari cerita ini supaya mendidik anak dengan baik. Jangan memanjakan anak hingga membuat anak menjadi seenaknya sendiri. Selain penjelasan hikmah di atas, apa hikmah yang kalian dapatkan dari cerita “Batu Menangis”?
Cerita legenda “Batu Menangis” tidak hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga menyimpan nilai-nilai kehidupan yang relevan sepanjang masa. Kisah ini mengajarkan kepada siapa pun bahwa keindahan fisik tidak berarti jika tidak diimbangi dengan kebaikan hati dan rasa hormat kepada orang tua.
Penulis: Nurul Azizah
Editor: Nurul Azizah & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id






































