Menuju konten utama

Calon Deputi Gubernur BI Solikin Beberkan Jurus Perkuat Rupiah

Solikin menilai pendalaman pasar keuangan domestik merupakan langkah kritis untuk memperkuat nilai tukar Rupiah.

Calon Deputi Gubernur BI Solikin Beberkan Jurus Perkuat Rupiah
Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M.Juhro, memaparkan visi misinya saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test calon Deputi Gubernur Bank Indonesia di ruang Komisi XI DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (23/1/2026). Solikin M.Juhro yang kini menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI tersebut merupakan satu dari tiga nama calon Deputi Gubernur BI yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto, melalui melalui surat Presiden yang dikirim ke DPR RI. ANTARA FOTO/Antasena/wpa/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia, Solikin M. Juhro, menilai pendalaman pasar keuangan domestik merupakan langkah kritis untuk memperkuat nilai tukar Rupiah. Sebab, menurutnya, stabilitas mata uang pada dasarnya ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan penawaran valuta asing.

Dalam konteks Rupiah, sumber permintaan (demand) berasal dari kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri. Sementara, penawaran (supply), didorong oleh hasil ekspor dan aliran masuk modal asing, termasuk utang luar negeri.

"Peran kita adalah bagaimana pasar keuangan kita itu harus dalam. Dolar nggak akan masuk apabila dia bingung mau menanamkan di mana,” tegas Solikin dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang digelar di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (23/1/2026).

Ia juga menyoroti pentingnya pasar keuangan yang likuid dan berkembang bagi masuknya investasi asing. Salah satu cara yang bisa dilakukan, henatya, adalah dengan mengembangkan instrumen-instrumen keuangan yang menarik bagi investor.

"Di pasar keuangan harus dikembangkan instrumen-instrumen yang memang favorable untuk mereka menanam. Nah, ini memang harus dilakukan secara terintegrasi, dikoordinasikan,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi kebijakan terbaru pemerintah mengenai Dana Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) yang wajib ditempatkan di bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) selama 12 bulan. Menurutnya, langkah ini merupakan salah satu terobosan untuk mengawal stabilitas nilai tukar.

Pendekatan ini, ujar Solikin, selaras dengan visi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang tidak hanya menjaga ketahanan (resilience) sistem keuangan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperluas inklusi keuangan.

"Maknanya adalah kita menjaga resilensi kita juga mendorong pertumbuhan dan memperluas inklusi seperti yang disampaikan oleh Bapak Gubernur Bank Indonesia,” ucapnya.

Solikin juga memperkenalkan konsep "Semangka", yang ia usung sebagai pengejawantahan misinya dalam pencalonan Deputi Gubernur BI, yakni menciptakan stabilitas yang dinamis, pertumbuhan ekonomi tinggi, dan ekonomi yang inklusif.

"Untuk menerjemahkan tiga misi tadi di dalam rangka yang lebih konkret dan terukur, kami mengusulkan delapan strategi kebijakan yang terintegrasi dalam satu kerangka besar yang kami singkat semangka," kata Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI tersebut.

Semangka adalah singkatan yang merangkum fokus kebijakannya, yaitu Stabilitas Makroekonomi dan Keuangan, Ekonomi Syariah dan Pesantren, Makroprudensial yang Inovatif, Akselerasi Reformasi Struktural, Navigasi Stabilitas Harga Pangan, Gerak UMKM dan Ekonomi Kreatif, Keandalan Digitalisasi Sistem Pembayaran, serta Aksi Bersama Sinergi dan Kolaborasi.

Dalam paparannya, Solikin memperinci beberapa pilar penting dari Semangka. Strategi pertama adalah menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan sebagai jangkar ketahanan nasional di tengah gejolak global.

"Stabilitas nilai rupiah, inflasi yang rendah dan terkendali serta sistem keuangan yang sehat merupakan tiga pilar yang saling terkait dan tidak terpisahkan," ujarnya.

Strategi kedua menitikberatkan pada pengembangan ekonomi syariah dan pesantren, yang dinilai berkontribusi pada pembangunan SDM berkarakter dan berdaya saing.

"Ekonomi pesantren sejatinya merupakan modal sosial yang mendorong produktivitas ekonomi nasional. Pesantren memiliki peran strategis sebagai pusat pendidikan, sosial, sekaligus simpul ekonomi kerakyatan," terangnya.

Sementara itu, strategi ketiga diarahkan pada inovasi kebijakan makroprudensial sebagai instrumen kunci untuk mendorong intermediasi pembiayaan yang optimal dan inklusif, terutama di tengah keterbatasan ruang kebijakan bank sentral lainnya.

Menurut Solikin, kedelapan strategi dalam Semangka ini dapat menjadi kunci bagi bank sentral dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang tinggi.

"Tentunya gelombang ini akan mempengaruhi pencapaian cita-cita perekonomian nasional untuk menuju negara atau perekonomian Indonesia maju dan ini tentunya kita perlu menavigasi cita-cita tersebut agar bisa tercapai dengan selaras," tuturnya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana