tirto.id - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi Indonesia pada kuartal II-2025 mencapai Rp477,7 triliun, tumbuh 11,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, dari realisasi investasi tersebut serapan tenaga kerja justru turun menjadi 665.764 orang, lebih rendah dibanding kuartal II-2024 yang menyerap 677.623 orang.
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM, Nurul Ichwan, menjelaskan fenomena ini terkait dengan karakteristik investasi asing yang didominasi negara maju.
"Investasi yang memiliki kapital besar berasal dari negara maju, negara dengan teknologi tinggi tapi krisis tenaga kerja. Mereka mengandalkan inovasi teknologi untuk ekspansi," ujarnya saat ditemui di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (6/8/2025).
Ichwan menegaskan, industri berbasis teknologi sulit menyerap banyak tenaga kerja karena efisiensi mesin.
“Begitu dia masuk ke Indonesia yang tenaga kerjanya masih banyak, mereka nggak bisa dipaksa suruh mengganti mesinnya dengan itu (tenaga manusia), karena lebih efisien pakai mesin,” ujarnya.
Data BKPM menguatkan analisis Ichwan. Sektor penyumbang investasi terbesar pada kuartal II-2025 adalah industri logam dasar 3,6 miliar dolar AS dan pertambangan 1,3 miliar dolar AS, keduanya industri padat modal.
Menurutnya, jika ingin serapan tenaga kerja berjalan beriringan dengan tumbuhnya investasi di dalam negeri, maka harus ada peningkatan kapasitas SDM nasional.
Misalnya, SDM yang dapat mengaplikasikan teknologi dan menciptakan inovasi dalam proses produksi di dunia industri.
“Kalau kita pengen tenaga kerja kita bisa diserap banyak oleh industri, maka siapkanlah tenaga kerja yang memang mampu mengoperasikan teknologi dan bisa membuat inovasi. Kalau tidak, industrinya tidak akan menyerap,” ucapnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id



































