tirto.id - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengakui, pembelian kapas dari Amerika Serikat (AS) akan berdampak pada lonjakan biaya modal industri tekstil dan produk tekstil. Peningkatan biaya modal tersebut berasal dari harga kapas yang lebih mahal hingga biaya logistik yang lebih tinggi.
“Nah salah satu kesepakatan untuk mendukung misi negosiasi ini, tekstil, asosiasi tekstil, komitmen untuk membeli lebih banyak dari US. Konsekuensinya harga lebih mahal, logistik lebih tinggi,” ujar Direktur Eksekutif API, Danang Girindrawardana, saat ditemui usai Sosialisasi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (21/7/2025).
Selama ini Indonesia memang mengimpor kapas, namun dari negara lain yang menjual komoditas tersebut dengan harga lebih murah. Sebab, kapasitas produksi kapas murni (pure cotton) terus menurun dari tahun ke tahun.
Namun, impor kapas murni tersebut menjadi salah satu yang dipermasalahkan oleh Amerika Serikat dan membuat Indonesia mendapat teguran dari US Trade Representative (USTR). Hal inilah yang kemudian membuat API sepakat untuk membeli kapas dari AS, kendati harga yang ditawarkan lebih mahal.
“Cotton kita ambil dari US. Selama ini Indonesia juga udah ambil dari US, cotton. Tapi menurun setiap tahun. Mengapa menurun setiap tahun? Karena kapasitas produksi kita juga menurun, kan? Kapasitas produksi yang berbahan cotton, pure cotton itu kita menurun. Dan itu menjadi salah satu teguran dari US Trade,” jelas Danang.
Namun demikian, karena para petani Indonesia masih memproduksi kapas, API lantas meminta kepada pemerintah untuk memperjuangkan tarif bea keluar 0 persen untuk komoditas tekstil dan produk tekstil. Dalam hal ini, industri berkomitmen untuk mengimpor kapas dari AS, memintalnya dan menjadikan benang pintalan tersebut sebagai kain dan baju atau produk tekstil lainnya, untuk kemudian dikirimkan kembali ke Washington.
“Kalau kita, itu kan juga dari permintaan dari US. Kalau cotton-nya sepenuhnya ambil dari sana, mereka akan membantu me-lobby-kan agar Indonesia tidak terkenal tarif tambahan itu. Nah, teman-teman (petani kapas dan industri) perlu perhatian,” tegas Danang.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id






































