Menuju konten utama

BEI Bentuk Tim Khusus Atasi Praktik Saham Gorengan

Pembentukan tim kerja khusus ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan perlindungan terhadap investor pasar saham.

BEI Bentuk Tim Khusus Atasi Praktik Saham Gorengan
Pengunjung melihat layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/10/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (27/10) ditutup melemah 154,57 poin atau 1,87 persen ke level 8.117,15. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/YU

tirto.id - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah membentuk tim kerja khusus untuk memberantas praktik saham yang mengalami pergerakan harga tidak wajar atau disebut saham gorengan di pasar modal nasional. Selain merespons pernyataan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa beberapa waktu lalu, pembentukan tim kerja khusus ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan perlindungan terhadap investor pasar saham.

“Kemarin sudah disampaikan Pak Irvan (Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy) sudah menyampaikan tentang tim kerja itu. Tetapi saya sampaikan juga, intinya terkait dengan perlindungan investor selalu menjadi prioritas kami,” ujar Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BEI, di BEI, Jakarta Selatan, Rabu (29/10/2025).

Meski begitu, Jeffrey tidak menjelaskan lebih lanjut sudah sejauh mana kerja tim kerja khusus ini dalam memusnahkan praktik saham gorengan.

Sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya memberikan tantangan kepada BEI untuk ‘bersih-bersih’ saham gorengan untuk melindungi investor ritel. Setelah BEI berhasil membersihkan pasar saham indonesia dari praktik saham gorengan, ia akan mempertimbangkan pemberian insentif untuk pasar modal.

“Tadi direktur bursa juga minta insentif terus yang belum tentu saya kasih," kata Purbaya kepada Direktur Utama BEI, Iman Rachman, di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Kamis (9/10/2025)

"Jadi saya bilang akan saya berikan insentif kalau Anda sudah merapikan perilaku investor di pasar modal artinya yang goreng-gorengan dikendalikan sama dia lah. Supaya investor kecil terlindungi, baru saya pikir insentifnya,” tambahnya.

Pada kesempatan lain, Purbaya menjelaskan, ia khawatir jika upaya Bersih-bersih saham gorengan tidak juga dilakukan, investor dari golongan Generasi Z yang kini mendominasi akan kabur dari pasar saham Indonesia. Perlu diketahui, dari total 7,56 juta investor di pasar saham sampai akhir Agustus 2025, sebanyak 54,23 persen di antaranya berusia muda atau di bawah 30 tahun. Sementara investor yang berusia 31-40 tahun ada sebanyak 24,82 persen dari total investor, usia 41-50 tahun sebanyak 12,26 persen, investor yang berusia 51-60 tahun ada sebanyak 5,74 persen, dan investor dengan usia di atas 60 tahun ada sebanyak 2,95 persen.

“Kalau ini nggak dibersihin kan sayang aja nanti minat genZ atau generasi muda yang berinvestasi di pasar modal sekarang bisa hilang. Anggapannya, sekarang 50 persen (dari total investor) anak-anak muda, kan? Kalau itu hilang, ya sudah pasar modal kita tidak berkembang lagi. Tapi, kalau dirapikan maka mereka akan berani masuk ke pasar saham,” kata dia, dalam Media Gathering APBN 2025, di Novotel, Bogor, Jawa Barat, Jumat (10/10/2025).

Baca juga artikel terkait BURSA EFEK INDONESIA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra