tirto.id - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), mendorong masyarakat untuk mulai memanfaatkan kearifan lokal seperti biogas sebagai energi alternatif di tengah kenaikan harga elpiji nonsubsidi. Langkah ini dinilai sebagai solusi cerdas bagi warga, terutama para peternak, untuk menekan biaya rumah tangga setelah harga elpiji 12 kg melonjak menjadi Rp228.000 per tabung sejak 18 April 2026.
KDM menyebut, energi biogas bisa didapatkan melalui proses pengolahan kotoran hewan seperti sapi. Kata KDM, sejumlah peternak di Kabupaten Bandung Barat juga telah mengolah kotoran sapi menjadi biogas.
“Bisa mengelola kotoran sapi berubah jadi energi gas, bisa, sampah, bisa, listrik bisa,” kata KDM dalam keterangan tertulis yang dikutip Selasa (21/4/2026).
Dia mengatakan, api pada kompor yang dihasilkan dari biogas tergolong besar dan mampu digunakan untuk memasak sehari-hari. Selain menggunakan alternatif biogas, kata KDM, masyarakat juga bisa menggunakan kayu bakar untuk memasak.
Sementara, untuk masyarakat yang berada di perkotaan, dia menyarankan untuk menggunakan kompor listrik sebagai alternatif. "Jadi memang kita harus menyesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan kita," ucap KDM.
Dia meyakini bahwa warga Jawa Barat dapat menyiasati kenaikan harga gas elpiji nonsubsidi ini, dengan mencari alternatif energi lain. Katanya, dia masyarakat Indonesia inovatif dan cerdas dalam menghadapi kondisi ini.
"Saya meyakini warga Indonesia ini warga yang inovatif dan cerdas," tutur KDM.
Diketahui, kenaikan harga elpiji nonsubsidi mulai berlaku pada 18 April 2026. Harga elpiji 12 kilogram naik menjadi Rp228.000 per tabung di Jawa Barat. Sementara, harga elpiji 5,5 kilogram naik menjadi Rp107.000 per tabung. Kenaikan harga tidak terjadi pada elpiji subsidi 3 kilogram.
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































