tirto.id - Virus Ebola (Ebola Virus Disease/EVD) termasuk penyakit mematikan. Jika suatu lokasi terkena wabah penyakit ini, tingkat kematian rata-rata bisa mencapai 50 persen. Ebola adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus dari genus Orthoebolavirus.
Wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo sejak Mei 2026 termasuk epidemi terbesar kedua virus ini dalam sejarah. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tercatat ada 5.794 kasus terkonfirmasi dan 2.786 kematian dengan tingkat kematian sekitar 48,1persen.
Sementara wabah Ebola yang paling besar dan mematikan adalah yang terjadi di kawasan Afrika Barat pada 2014 hingga 2016 silam. Beberapa negara terdampak antara lain Guinea, Sierra Leone, dan Liberia, serta sejumlah kasus kecil menyebar ke Nigeria serta Mali bahkan hingga ke Amerika Serikat dan Eropa. Ditemukan total lebih dari 28.600 kasus dan mengakibatkan kematian hingga 11.325 jiwa.
Asal-usul Virus Ebola
Dirangkum dari laman resmi WHO, virus Ebola pertama kali muncul dan diidentifikasi secara resmi pada 1976 melalui dua wabah mematikan yang terjadi hampir bersamaan di wilayah Afrika Tengah, tepatnya di Nzara (dulu termasuk wilayah Sudah, kini sudah termasuk wilayah Sudan Selatan) dan Yambuku yang saat ini berada di wilayah Republik Demokratik Kongo (dulu bernama Zaire).
Wabah Ebola yang pertama menjangkiti seorang pria penjaga gudang di sebuah pabrik pemrosesan kapas di Nzara pada 27 Juni 1976. Laki-laki tersebut mengalami demam tinggi, nyeri dada akut, hingga perdarahan hebat sebelum akhirnya meninggal dunia.
Kematian penjaga gudang akibat virus tak dikenal itu ternyata bukan yang pertama. Penyakit tersebut ternyata menular dengan cepat dan meluas ke rekan kerja dan keluarga dekatnya. Wabah lokal pun melanda dengan total 284 kasus dan 151 kematian. Strain dari wabah ini kemudian dinamai Sudan ebolavirus.
Adapun wabah kedua terjadi di Desa Yambuku, Zaire. Namun, para ilmuwan memutuskan untuk tidak menggunakan nama desa tersebut agar tidak mendapatkan stigma buruk seumur hidup. Sebagai gantinya, mereka melihat peta dan memilih nama Sungai Ebola, sebuah sungai terdekat yang mengalir di wilayah tersebut. Sejak saat itulah virus mematikan ini resmi dinamai Virus Ebola.

Wabah di Yambuku ini bermula dari seorang kepala sekolah bernama Mabalo Lokela. Ia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya setelah melakukan perjalanan di sepanjang Sungai Ebola dan mengonsumsi daging buruan dari hutan.
Pada 26 Agustus 1976, Mabalo datang dengan keluhan demam tinggi. Awalnya, ia dikira terkena malaria sehingga disuntik dengan obat malaria. Karena keterbatasan alat, jarum suntik tersebut tidak disterilkan dan digunakan kembali ke pasien lain.
Penggunaan jarum suntik bekas ini menyebarkan virus dengan sangat cepat ke pasien lain dan staf medis. Suster dan dokter ikut terinfeksi hingga rumah sakit terpaksa ditutup setelah sebagian besar petugasnya meninggal.
Agar penularan tidak semakin meluas, komunitas lokal mengisolasi desa mereka sendiri dengan memblokir jalan menggunakan batang pohon. Langkah tradisional ini berhasil menghentikan penyebaran virus ke wilayah luar yang lebih luas.
Sebanyak 318 kasus tercatat dalam wabah Ebola di Yambuku ini. Jumlah korban meninggal sebanyak 280 jiwa dengan tingkat kematian yang fantastis, mencapai 88 persen.
Menurut data U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), selain di Sudan dan Kongo, kasus Ebola juga ditemukan di Britania Raya pada tahun yang sama, 1976.
Penyakit ini berasal dari virus yang termasuk dalam genus Orthoebolavirus dari famili filoviridae. Pada manusia, virus ini menyebabkan penyakit langka tapi parah dan sering kali bersifat fatal.
Penularan Virus Ebola
Berdasarkan informasi dari laman resmi WHO, diperkirakan bahwa kelelawar buah dari famili Pteropodidae merupakan inang alami virus Orthoebola. Virus ini bisa masuk ke populasi manusia ketika orang melakukan kontak dekat dengan darah, sekresi, organ, atau cairan tubuh lainnya dari hewan yang terinfeksi.
Hewan-hewan terinfeksi itu pun tidak hanya kelelawar buah, tetapi juga bisa saja simpanse, gorila, monyet, antelop hutan, atau landak yang ditemukan sakit atau mati di hutan hujan.

Pada manusia, virus ini bisa tertular dari orang lain melalui kontak langsung, yakni melalui luka terbuka pada kulit atau selaput lendir, dengan:
- darah atau cairan tubuh seseorang yang sakit atau meninggal karena penyakit Ebola
- benda atau permukaan yang telah terkontaminasi cairan tubuh, seperti darah, feses, muntah, dari seseorang yang sakit atau meninggal karena penyakit tersebut.
EBOV merupakan virus penyebab Ebola yang paling berbahaya dan bertanggung jawab atas jumlah wabah terbesar. Sementara itu, Reston virus (RESTV) dan Bombali virus (BOMV) tidak dianggap menyebabkan penyakit pada manusia, tapi telah menyebabkan penyakit pada primata lain.
Gejala dan Alasan Ebola Sangat Mematikan
Gejala penyakit Ebola bisa muncul tiba-tiba. Masa inkubasi atau interval dari infeksi hingga munculnya gejala pun bervariasi, mulai dari 2 hingga 21 hari.
Orang yang terinfeksi virus Ebola akan menunjukkan gejala-gejala, seperti demam, kelelahan, rasa tidak enak badan, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Pada tingkat lanjut, gejala tersebut diikuti oleh muntah, diare, sakit perut, ruam, hingga gejala gangguan fungsi ginjal dan hati.
Di beberapa kasus, ada anggapan bahwa pendarahan merupakan gejala umum. Namun, hal ini kurang sering terjadi dan bisa muncul di tahap akhir penyakit.
Beberapa pasien mungkin mengalami pendarahan internal dan eksternal, seperti darah dalam muntah dan tinja, atau pendarahan dari hidung, gusi, dan vagina. Selain itu, pendarahan di tempat jarum menusuk kulit juga dapat terjadi.

Sementara itu, infeksi virus ini juga memberi dampak pada sistem saraf pusat. Di antaranya, yakni dapat mengakibatkan kebingungan, mudah tersinggung, dan agresi.
Adapun pemulihan dapat dimulai antara 7β14 hari setelah gejala pertama muncul. Sedangkan, kematian biasanya terjadi 6β16 hari setelah gejala pertama muncul dan sering disebabkan oleh syok akibat kehilangan cairan.
Secara umum, kematian pada penderita Ebola disebabkan oleh kehilangan darah karena banyak mengalami pendarahan. Penderita juga sering berada dalam keadaan koma menjelang akhir hayatnya.
Vaksin Virus Ebola
WHO memberikan rekomendasi kuat dalam menangani penyakit virus Ebola untuk pengobatan dengan mAb114 (ansuvimab) atau REGN-EB3 (Inmazeb) yang keduanya merupakan antibodi monoklonal.
Sementara itu, untuk penyakit Ebola lainnya, seperti SVD atau BVD, belum ada terapi yang disetujui. Namun, terapi produk kandidat sedang dalam pengembangan dan protokol CORE untuk uji klinis tersedia.
Berikut ini rincian vaksin untuk penyakit virus Ebola:
- Dua vaksin telah disetujui: Ervebo (Merck & Co.) dan Zabdeno serta Mvabea (Janssen Pharmaceutica). Vaksin Ervebo direkomendasikan sebagai bagian dari respons terhadap wabah.
- Jika terjadi wabah penyakit virus Ebola yang terkonfirmasi, vaksin Ervebo dapat diakses melalui Kelompok Koordinasi Internasional untuk penyediaan vaksin.
- Untuk vaksinasi pencegahan bagi petugas kesehatan dan pekerja garda terdepan, permintaan vaksin Ervebo bisa dilakukan melalui Gavi Preventive Ebola vaccination.

Sementara itu, vaksin untuk virus Ebola lainnya, seperti SVD:
- Beberapa kandidat vasin berada di berbagai tahap pengembangan.
- Sebagai bagian dari respons terhadap wabah, tersedia protokol CORE untuk mengevaluasi keamanan, tolerabilitas, imunogenisitas, dan kemanjuran kandidat vaksin.
Pencegahan Virus Ebola dan Pengendalian Wabah
Setiap orang hendaknya saling meningkatkan kesadaran mengenai faktor risiko dan langkah-langkah perlindungan dari virus dan penyakit Ebola. Hal tersebut dapat mengurangi kasus persebaran penyakit mematikan ini.
Oleh karena itu, ketahui langkah-langkah pencegahan virus Ebola sebagai berikut:
- Kurangi risiko penularan dari satwa liar ke manusia melalui kontak dengan kelelawar buah atau monyet/kera yang terinfeksi dan konsumsi daging mentah mereka.
- Kurangi risiko penularan dari manusia ke manusia yang timbul dari kontak langsung atau dekat dengan orang yang terinfeksi, terutama dengan cairan tubuh mereka.
- Masyarakat harus diberi informasi yang baik mengenai penyakit Ebola dan cara mengendalikan wabah.
- Penguburan jenazah yang aman dan bermartabat
- Mengidentifikasi orang-orang yang mungkin telah melakukan kontak dengan seseorang yang terinfeksi penyakit Ebola dan memantau kesehatan mereka selama 21 hari
- Memisahkan orang sehat dari orang sakit untuk mencegah penyebaran lebih lanjut
- Memberikan perawatan kepada pasien yang terkonfirmasi
Pembaca dapat mengakses artikel mengenai Ebola melalui tautan berikut ini:
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id




































