tirto.id - Wabah Ebola berkembang menjadi epidemi di Kongo dan Uganda. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia pada 17 Mei 2026.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan kasus Ebola di Indonesia. Lantas, apakah penyakit Ebola pernah ditemukan di Indonesia sebelumnya?
Berdasarkan data resmi hingga 16 Mei 2026, wabah yang terjadi di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, disebabkan oleh virus Ebola jenis Bundibugyo atau Bundibugyo Virus Disease (BVD).
Tercatat sebanyak 246 kasus suspek dengan 8 kasus terkonfirmasi dan 80 kematian, sehingga tingkat kematiannya mencapai sekitar 32,5 persen.
Selain di Kongo, kasus terkait perjalanan juga dilaporkan di Kampala, Uganda, serta Kinshasa akibat tingginya mobilitas masyarakat.
Kondisi ini menjadi perhatian dunia internasional karena Ebola dikenal sebagai penyakit infeksi virus yang sangat berbahaya dengan tingkat fatalitas rata-rata sekitar 50 persen.
Apakah Pernah Ada Ebola di Indonesia?
Kemenkes menegaskan jika hingga saat ini belum ditemukan kasus Ebola di Indonesia. Hanya saja, kewaspadaan terhadap Ebola sebenarnya bukan pertama kali terjadi di Indonesia.
Menurut laman resmi Kemenkes, pada tahun 2014, Kemenkes juga pernah memastikan bahwa tidak ada kasus Ebola di Indonesia meskipun wabah besar saat itu melanda beberapa negara di Afrika Barat.
Pada 25 Agustus 2014, pemerintah menyatakan bahwa seorang pasien suspek Ebola berinisial M, warga negara Ghana berusia 32 tahun yang dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Suroso, dinyatakan negatif Ebola setelah pemeriksaan laboratorium. Pasien tersebut ternyata positif mengidap malaria.
Menteri Kesehatan saat itu, Nafsiah Mboi, mengimbau masyarakat agar tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga pola hidup bersih dan sehat.
Berdasarkan data WHO pada 20 Agustus 2014, wabah Ebola di Afrika Barat telah menyebabkan 2.615 kasus dengan 1.427 kematian atau tingkat fatalitas sekitar 54,57 persen.
Wabah tersebut menyebar di empat negara utama, yaitu Guinea, Liberia, Sierra Leone, dan Nigeria. Guinea mencatat 607 kasus dengan 406 kematian, Liberia melaporkan 1.082 kasus dengan 624 kematian, Sierra Leone mencatat 910 kasus dengan 392 kematian, sedangkan Nigeria melaporkan 16 kasus dengan 5 kematian.
Data tersebut menunjukkan bahwa Ebola merupakan salah satu penyakit menular dengan tingkat kematian yang sangat tinggi sehingga kewaspadaan global menjadi sangat penting, termasuk bagi Indonesia yang hingga kini masih dinyatakan bebas dari kasus Ebola.
Indonesia Antisipasi Penyebaran Ebola dengan Perketat Imigrasi
Meski belum ditemukan kasus Ebola di Indonesia, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan menyusul penetapan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo oleh WHO sebagai PHEIC.
Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes terus memperkuat pengawasan di seluruh pintu masuk negara, baik di bandara maupun pelabuhan internasional, khususnya terhadap pelaku perjalanan yang berasal dari negara terdampak seperti Republik Demokratik Kongo dan Uganda.
“Kementerian Kesehatan terus memantau situasi global dan melakukan penguatan kewaspadaan lintas sektor. Kami memastikan seluruh pintu masuk negara, baik pelabuhan maupun bandara, meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan, terutama yang berasal dari negara terdampak,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman dikutip Antara (19/5/2026).
Pemerintah juga menyiagakan petugas kesehatan di lapangan, memperketat proses skrining kesehatan, serta menyiapkan prosedur rujukan ke rumah sakit berstandar internasional apabila ditemukan penumpang dengan gejala yang mengarah pada infeksi Ebola.
Seluruh laporan dari pintu masuk negara dipantau selama 24 jam melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta pusat operasi darurat kesehatan atau Public Health Emergency Operation Center (PHEOC).
Selain itu, kapasitas laboratorium nasional juga telah disiagakan penuh guna mendukung deteksi cepat dan respons dini apabila ditemukan kasus mencurigakan.
Aji Muhawarman menjelaskan bahwa Ebola ditularkan melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau benda yang telah terkontaminasi oleh manusia maupun hewan yang terinfeksi.
Virus dapat masuk ke tubuh melalui kulit yang terluka atau melalui selaput lendir. Gejala penyakit biasanya muncul secara mendadak setelah masa inkubasi 2 hingga 21 hari, dimulai dari demam, tubuh lemas, nyeri otot, dan sakit kepala, kemudian dapat berkembang menjadi muntah, diare, hingga perdarahan.
Hingga kini belum tersedia pengobatan spesifik yang digunakan secara luas, sedangkan vaksin Ebola masih terbatas penggunaannya untuk pengendalian wabah di kawasan Afrika.
"Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak panik, namun tetap waspada. Ikuti perkembangan kasus global dan nasional melalui berbagai media. Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti rajin mencuci tangan pakai air dan sabun, menggunakan masker bila sakit, menerapkan etika bersin dan batuk," jelas Aji.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































