Menuju konten utama

Update Wabah Virus Ebola di Kongo & Uganda Serta Jumlah Korban

Status wabah Ebola di Kongo dan Uganda ditetapkan WHO sebagai darurat kesehatan internasional. Jumlah korban meninggal dan sedang dirawat meningkat tajam.

Update Wabah Virus Ebola di Kongo & Uganda Serta Jumlah Korban
Lahya Kathembo yang berusia 2 bulan dibawa oleh seorang perawat menunggu hasil tes di pusat perawatan Ebola di Beni, Kongo. (Foto AP / Penundaan Jerome)

tirto.id - Situasi persebaran wabah virus ebola di Kongo dan Uganda makin mengkhawatirkan. Status penyakit ini belakangan ditingkatkan demi memperketat penanggulangan tingkat internasional. Berikut update terkini epidemi ebola dan statusnya menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sebelumnya, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengumumkan terjadinya wabah virus ebola di Kongo pada Sabtu (16/5/2026). Wabah ini disebut disebabkan karena varian virus Bundibugyo yang menyebar di wilayah timur Kongo.

Per Sabtu, sedikitnya 8 kasus ebola terkonfirmasi di Kongo dengan 80 orang tewas diduga karena wabah. Sementara itu, hampir 250 orang diduga telah tertular. Namun, seturut CBS News, dampak riil dari wabah ini berpotensi lebih besar daripada yang telah dilaporkan.

“Setiap hari, orang-orang meninggal … dan ini telah berlangsung selama seminggu. Dalam satu hari, kami mengubur dua, tiga, atau bahkan lebih banyak orang,” kata Jean Marc Asimwe, seorang penduduk Kota Bunia, Provinsi Ituri, Kongo.

Di Kongo, sedikitnya tiga kasus wabah dilaporkan terpusat di tiga zona di Provinsi Ituri, yakni Bunia, Rwampara, dan Mongwalu.

Bersamaan dengan mewabahnya ebola varian Bundibugyo di Kongo, Uganda juga melaporkan telah mengonfirmasi kasus Ebola serupa di wilayahnya. Satu orang yang terkonfirmasi itu disebut meninggal ketika dirawat di Rumah Sakit Muslim Kibuli, di Kota Kampala, Uganda pada Jumat (17/5).

Atas situasi tersebut, WHO kemudian mengumumkan kejadian wabah ebola varian Bundibugyo di Kongo dan Uganda sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Jadi Perhatian Internasional (PHEIC). Status darurat kesehatan internasional ini diterapkan untuk mendorong intervensi komunitas dunia dalam mencegah penularan patogen lebih meluas. WHO melakukan pertemuan komite darurat pada Selasa (19/5) untuk membahas masalah ini.

Meski begitu, WHO menyebut wabah ebola ini belum memenuhi kriteria “keadaan darurat pandemi” secara global. Oleh karenanya, WHO tidak merekomendasikan penutupan perbatasan internasional.

Wabah ebola terbaru di Afrika ini telah meningkatkan kekhawatiran lebih banyak pihak karena sejumlah tenaga kesehatan juga dilaporkan meninggal dengan kondisi yang mengarah pada demam berdarah. Hal ini dikhawatirkan berkaitan dengan sistem pencegahan dan pengendalian infeksi yang kini diterapkan fasilitas kesehatan di sana.

Kekhawatiran juga meningkat karena varian Bundibugyo merupakan 1 dari 5 varian ebola yang belum memiliki vaksin yang disepakati.

Perkembangan Kabar Wabah Virus Ebola Terkini

Mewabahnya virus ebola varian Bundibugyo di Kongo dan Uganda kini tengah direspons banyak pihak.

Seturut AP, Pemerintah Kongo dilaporkan akan membuka tiga pusat perawatan ebola di Ituri. Sementara itu, WHO tengah mengirimkan tim ahli ke Kongo untuk melakukan observasi dan mitigasi.

Seiring respons yang tengah dilakukan, jumlah korban tewas akibat wabah di Kongo dilaporkan terus meningkat. Per Senin (18/5), atau tiga hari pascapengumuman WHO pada Sabtu, korban tewas akibat wabah melonjak dari 80 jiwa menjadi 118 jiwa.

Jumlah dugaan kasus yang sedang terjadi juga meningkat. Dari 250 dugaan kasus ebola varian Bundibugyo pada Sabtu, menjadi 300 dugaan kasus pada Senin. Provinsi Ituri dan Kivu Utara kini ditetapkan sebagai episentrum wabah ebola terbaru ini.

Direktur Pusat Kebijakan dan Politik Kesehatan Global Universitas Georgetown, Matthew M. Kavanagh, menjelaskan bahwa masa inkubasi virus Bundibugyo yang mencapai beberapa minggu membuat pendeteksian virus ini sulit dilakukan.

Menurut Kavanagh, kesalahan dalam pendeteksian jenis ebola diduga menjadi salah satu faktor dominan yang menyebabkan wabah bisa meluas di Kongo kini.

“Karena tes awal mencari strain ebola yang salah, kita mendapatkan hasil negatif palsu dan kehilangan waktu respons selama berminggu-minggu,” kata Kavanagh. “Kita sedang berusaha mengejar ketertinggalan melawan patogen yang sangat berbahaya.”

Sebelumnya, Kongo mengumumkan meninggalnya satu orang akibat ebola pada 24 April di Kota Bunia. Setelahnya, jenazah pasien tersebut dipulangkan ke zona kesehatan Mongbwalu, daerah pertambangan dengan populasi besar.

Pada 26 April, terdapat orang lain yang jatuh sakit di Mongbwalu. Sampel pasien tersebut diuji di Kinshasa untuk mendeteksi infeksi virus ebola varian Zaire, namun hasil uji laboratorium menyatakan pasien tidak terinfeksi virus tersebut.

Pada 5 Mei, WHO diberi tahu adanya 50 kematian di Mongbwalu, termasuk empat petugas kesehatan. Hasil uji laboratorium pada kasus kematian itu menunjukkan adanya infeksi virus ebola varian Bundibugyo pada 14 Mei.

Wabah ebola terbaru ini juga menyebabkan seorang dokter berkebangsaan Amerika Serikat (AS) terkonfirmasi terjangkit ebola di Kongo. Dokter yang diidentifikasi sebagai Peter Stafford ini merupakan tenaga medis di Mongbwalu ketika wabah terjadi.

Seturut USA Today, dokter tersebut tengah diupayakan untuk dipindahkan ke Jerman untuk perawatan lebih lanjut. Selain dokter tersebut, ada enam kontak berisiko tinggi lainnya yang ikut dipindah ke Jerman untuk pemantauan.

Usai mewabahnya ebola di Kongo dan Uganda, Pemerintah AS dilaporkan telah memberlakukan pembatasan masuk bagi pemegang paspor non-AS yang berasal dari Uganda, Kongo, dan Sudan Selatan dalam 21 hari terakhir.

Pembatasan juga dilakukan Rwanda. Negara itu telah menutup perbatasan daratnya dengan Kongo pada Minggu (17/5). Sementara otoritas Uganda menyebut belum ada bukti ebola telah menyebar secara luas di wilayahnya dan pengawasan telah ditingkatkan di sepanjang perbatasan mereka dengan Kongo.

Baca juga artikel terkait WABAH VIRUS EBOLA atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar