tirto.id - Banyak orang kini menggunakan smartwatch untuk memantau detak jantung, durasi tidur, dan berbagai aktivitas harian. Perangkat ini memudahkan kita melihat tren kesehatan secara real-time, sekaligus memberi gambaran tentang kondisi fisik sehari-hari.
Tak heran, smartwatch menjadi salah satu gawai yang populer di tengah masyarakat dan terus dikenakan setiap saat, termasuk ketika berpuasa. Namun, perlu diingat bahwa saat seseorang berpuasa, tubuh secara alami mengalami perubahan ritme dan metabolisme.
Misalnya, pola tidur bisa bergeser, energi cenderung lebih rendah di siang hari, dan tubuh menyesuaikan diri dengan waktu makan yang terbatas. Perubahan ini adalah bagian dari respons adaptif tubuh untuk tetap berfungsi optimal meski asupan makanan dan minuman terbatas.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan menarik bagi pengguna smartwatch, yaitu seberapa akurat perangkat ini bisa membaca dan mencerminkan kondisi tubuh yang sedang berpuasa?
Perubahan Tubuh yang Umum Terjadi Saat Puasa

Ketika seseorang menjalankan puasa, tubuh akan mengalami sejumlah adaptasi fisiologis. Meski banyak manfaat kesehatannya, perubahan ini perlu dipahami agar kita mengetahui apa yang terjadi di dalam tubuh selama periode tanpa asupan makanan dan cairan.
1. Perubahan Detak Jantung
Puasa berarti terjadi kekurangan kalori, hal ini membuat metabolisme tubuh sedikit melambat untuk menghemat energi. Akibatnya, jantung tidak perlu bekerja sekeras biasanya sehingga sering kali menyebabkan penurunan detak jantung istirahat (resting heart rate).Namun, detak jantung juga bisa naik apabila seseorang mengalami dehidrasi saat puasa. Mengutip Healthline, kekurangan cairan dapat menurunkan volume darah, membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa sehingga denyut jantung pun meningkat.
2. Perubahan Pola Tidur
Pola tidur sering mengalami perubahan ketika puasa. Seseorang sering bangun tengah malam atau dini hari untuk sahur. Sebagian orang bahkan kembali tidur setelah sahur sehingga pola tidurnya berbeda dari hari biasanya. Munculnya rasa kantuk di siang hari juga sering kali merupakan kompensasi dari tidur yang terfragmentasi di malam hari.3. Penurunan Aktivitas Fisik
Selama puasa, aktivitas fisik juga cenderung menurun. Penurunan ini merupakan mekanisme tubuh untuk menghemat energi sehingga fungsi organ vital tetap terjaga meskipun asupan kalori berkurang. Sementara secara naluri, seseorang juga akan mengurangi intensitas gerak demi mencegah kelelahan berlebih.4. Menurunkan Asupan Cairan
Asupan cairan bisa menurun karena puasa membatasi konsumsi minuman. Hal ini bisa membuat tubuh lebih mudah mengalami dehidrasi ringan, terutama jika kurang minum saat sahur/berbuka, melakukan aktivitas fisik cukup tinggi, atau pengaruh cuaca panas.Secara keseluruhan, perubahan-perubahan ini adalah respons adaptif tubuh terhadap puasa, dan semua perubahan ini normal terjadi asal kita mengimbanginya dengan konsumsi makanan sehat, hidrasi yang baik, serta manajemen tidur dan aktivitas yang bijak.
Data Apa Saja yang Bisa Dibaca Smartwatch?

Smartwatch bukan sekadar jam tangan sebagai penunjuk waktu, tapi juga berfungsi sebagai alat pemantau kesehatan yang praktis. Dengan berbagai sensor canggih, perangkat ini mampu memberikan wawasan tentang tubuh dan aktivitas sehari-hari. Berikut beberapa fitur smartwatch beserta manfaatnya:
1. Pemantauan Detak Jantung
Sensor pada smartwatch (biasanya teknologi photoplethysmography atau PPG) mampu mengukur detak jantung secara real-time, baik saat tubuh istirahat maupun beraktivitas. Data ini berguna untuk mengetahui kondisi jantung, mendeteksi stres, dan mengatur intensitas latihan fisik agar tetap aman dan efektif.2. Jumlah Langkah dan Aktivitas Fisik
Dengan fitur accelerometer dan sensor gerak, smartwatch dapat menghitung langkah kaki, jarak tempuh, serta durasi aktivitas ringan hingga berat. Informasi ini membantu pengguna memantau target latihan atau menyesuaikan rutinitas olahraga setiap harinya.3. Info Kalori Terbakar
Smartwatch biasanya juga dilengkapi dengan fitur yang bisa menghitung perkiraan kalori terbakar. Fitur ini bekerja dengan menggabungkan berbagai data, mulai dari detak jantung hingga aktivitas. Meskipun tidak seakurat laboratorium, fitur ini membantu pengguna mengelola pola makan dan energi dalam keseharian.4. Durasi dan Kualitas Tidur
Smartwatch modern biasanya punya sleep tracking yang memonitor kualitas dan pola tidur pengguna. Perangkat ini tidak hanya memberi informasi terkait durasi tidur, tapi juga , mendeteksi fase tidur ringan, deep sleep, hingga REM. Informasi ini pun menggambarkan kualitas tidur secara keseluruhan.Seberapa Akurat Smartwatch saat Tubuh Berpuasa?

Saat berpuasa, tubuh mengalami berbagai perubahan fisiologis yang sebenarnya normal sebagai reaksi adaptasi. Akan tetapi, perubahan ini kemungkinan bisa membuat smartwatch “salah tafsir” kondisi tubuh.
Sebagai contoh, denyut jantung (heart rate) bisa meningkat saat dehidrasi ringan. Ketika asupan cairan berkurang, volume darah sedikit menurun sehingga jantung berdetak lebih cepat untuk menjaga tekanan darah tetap stabil.
Kaitan antara detak jantung dan dehidrasi ini juga dibuktikan dalam jurnal Influence of Hydration on Physiological Function and Performance During Trail Running in the Heat. Studi ini menyimpulkan bahwa dehidrasi dapat meningkatkan detak jantung.
Smartwatch sendiri mengukur denyut jantung melalui sensor optik (photoplethysmography atau PPG). Tidak seperti alat elektrokardiogram (EKG), PPG membaca denyut jantung ini dengan “mengamati” darah dalam tubuh.
Selain itu, menurut studi The Influence of Hydration Status on Heart Rate Variability after Exercise Heat Stress, tubuh yang kekurangan cairan juga berpotensi menurunkan heart rate variability (HRV). Sementara itu, HRV yang rendah kerap dikaitkan dengan tingkat stres yang tinggi.
Maka, ketika smartwatch membaca adanya perubahan data-data tersebut, baik detak jantung maupun HRV, perangkat ini bisa saja mengeluarkan peringatan bahwa penggunanya sedang stres.
Padahal, tubuh sebenarnya sedang mengalami dehidrasi akibat terbatasnya asupan minum selama puasa, bukan stres psikologis. Meski dehidrasi bukan sesuatu yang baik, hal ini umum terjadi pada orang yang berpuasa, terutama di masa-masa awal Ramadhan saat tubuh sedang beradaptasi.
Contoh lainnya adalah perubahan pola tidur yang kerap terjadi saat puasa. Selama Ramadhan, banyak orang bangun tengah malam atau dini hari, baik untuk shalat malam hingga menyiapkan makan sahur. Pola tidur pun terpecah-pecah atau terfragmentasi.
Pola tidur ini pun dapat dibaca sebagai “kualitas tidur yang buruk” oleh smartwatch. Padahal, pola tidur ini terbilang normal bagi mereka yang sedang beradaptasi dengan jadwal sahur dan puasa.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa, puasa memang membawa perubahan tertentu pada tubuh, dan hal ini bisa disalahpahami oleh smartwatch karena puasa bukan sebuah variabel yang dikenali oleh algoritma gawai ini.
Smartwatch memang mampu membaca perubahan fisiologis selama puasa, mulai dari denyut jantung, HRV, hingga pola tidur. Namun, perangkat ini tidak dirancang untuk memahami konteks bahwa tubuh sedang berpuasa dan menjalani adaptasi metabolik akibat perubahan pola makan dan waktu istirahat.
Oleh karena itu, peringatan atau skor yang dimunculkan smartwatch (seperti terkait stres) tidak otomatis menandakan bahwa tubuh sedang dalam kondisi “darurat” atau mengalami masalah kesehatan.
Data-data tersebut lebih tepat dipahami sebagai respons tubuh terhadap puasa yang bisa menimbulkan dehidrasi ringan hingga pola tidur yang terpecah.
Tentu ini bukan salah smartwatch karena perangkat ini hanya membaca data. Smartwatch bisa tetap jadi alat bantu pemantau kesehatan, bukan sumber kekhawatiran yang keliru. Jadi, kitalah yang harus membaca angka pengukuran ini secara bijak dan kontekstual.
Bagaimana caranya? Caranya dengan tidak hanya melihat data atau angka harian tunggal saat puasa, melainkan tren dan pola pengukuran dari hari ke hari secara keseluruhan.
Dengan memantau perubahan secara konsisten, pengguna bisa memahami respons tubuhnya dalam menyesuaikan diri selama puasa, sekaligus membedakan antara respons adaptif normal terhadap puasa dan kondisi yang memang membutuhkan perhatian medis.
Butuh informasi menarik lain terkait gadget? Temukan berbagai tips bermanfaat, info spesifikasi gawai, hingga rekomendasi produk gadget pilihan melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id




























